Selamat datang di blog Zainal Masri- semoga ada manfaatnya dan bernilai Ibadah disisi Nya serta menjadi cemety buat generasi yang akan datang.Amiin ya Rabbal 'Alamiin. Blog ini berisi tentang serba-serbi my prestasi-prestasi yang pernah diraih,, harapan: galilah potensi kita menjadi prestasi” jangan pernah berhenti melakukan aktifitas-aktifitas positif untuk mengukir prestasi ..Allah menciptakan manusia dengan sempurna, Allah memberi banyak potensi/kemampuan. Tugas kita adalah: mencari-menggali-menemukan-menmgembangkan dan meningkatkan kemampuan diri tersebut. Moment adalah peluang yang diberikan Allah kepada kita untuk maju, Allah tidak pernah memberi amanah/beban yang kita tidak mampu. Sukses/takdir baik diberikan kepada mereka yang optimis. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat di antara manusia lainnya. Yakinlah Allah tidak akan pernah meninggalkan hamba-nya. Doa adalah senjata kita yang paling Ampun. Usaha-Ikhtiar-Do,a. Kalau sabar menunggu masa, Insyaallah..��☕☕☕

Kamis, 30 Juli 2026

Konsekuensi menjadi orang beriman

Isi Khutbah

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Iman bukan sekadar pengakuan di lisan, tetapi keyakinan di hati yang dibuktikan dengan amal saleh. Karena itu, menjadi orang beriman memiliki konsekuensi yang harus kita diterima dan dijalani.

1. Konsekuensi pertama: Siap untuk Taat kepada Allah dan Rasul-Nya

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul." (QS. An-Nisa': 59)

Keimanan menuntut ketaatan dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah.

2. Konsekuensi kedua: Siap diuji

Allah berfirman:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya mengatakan, 'Kami telah beriman,' sedangkan mereka tidak diuji?" (QS. Al-'Ankabut: 2)

Ujian bukan tanda Allah membenci hamba-Nya, tetapi sarana membuktikan kejujuran iman.

3. Konsekuensi ketiga: Beramal saleh

Iman selalu berdampingan dengan amal saleh. Al-Qur'an berkali-kali menyebutkan:

الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ

Artinya, keimanan harus melahirkan amal kebajikan, akhlak mulia, kejujuran, amanah, dan kepedulian kepada sesama.

Makanya dalam Al-Baqarah 177 dikatakan:

Disamping kita beriman kepada rukun iman yang 6 itu, kita juga dituntut untuk memberikan sebagian dari harta yang kita cinta kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, peminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya; melaksanakan salat; menunaikan zakat; menepati janji apabila berjanji; sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

4. Konsekuensi keempat: Istikamah

Rasulullah ﷺ bersabda:

قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ

"Katakanlah, 'Aku beriman kepada Allah,' kemudian beristikamahlah." (HR. Muslim)

Keimanan harus dijaga hingga akhir hayat.

Khutbah Kedua

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Keimanan adalah nikmat terbesar, tetapi juga amanah yang berat. Orang beriman akan dimintai pertanggungjawaban atas iman yang dimilikinya. Jangan sampai iman hanya menjadi pengakuan, tetapi tidak tercermin dalam ibadah, akhlak, dan muamalah.

Marilah kita memperkuat iman dengan ilmu, memperbanyak amal saleh, bersabar menghadapi ujian, dan berdoa agar Allah menetapkan hati kita di atas agama-Nya.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

"Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu." (HR. Tirmidzi)

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang beriman dengan sebenar-benarnya iman, istiqamah dalam ketaatan, dan diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah. Aamiin.

Mengisi waktu

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Salah satu nikmat terbesar yang sering dilalaikan manusia adalah waktu. Padahal Setiap detik yang berlalu tidak akan pernah kembali. Karena itu, seorang mukmin diperintahkan untuk memanfaatkan waktu dengan amal saleh. Begitu dikatakan dalam surat Al asr

Allah Ta'ala berfirman:

وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ...

"Demi masa. Sungguh, manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh..." (QS. Al-'Ashr: 1–3).

bahwa pada dasarnya setiap manusia itu merugi apabila waktunya terbuang sia sia. 

Rasulullah ﷺ bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

"Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya, yaitu kesehatan dan waktu luang." (HR. Bukhari).

Waktu yang diisi dengan membaca Al-Qur'an, salat berjamaah, berbakti kepada orang tua, mencari ilmu, bekerja dengan jujur, bersedekah, dan membantu sesama akan menjadi bekal di akhirat.

Sebaliknya, waktu yang dihabiskan untuk maksiat, permusuhan, atau hal-hal yang sia-sia akan menjadi penyesalan pada hari kiamat.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Marilah kita mengevaluasi diri. Jangan sampai umur bertambah tetapi amal semakin berkurang. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas umurnya, untuk apa dihabiskan.

Mari jadikan setiap hari sebagai kesempatan memperbanyak amal saleh, memperbaiki akhlak, mempererat silaturahmi, dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah.

Kamis, 23 Juli 2026

Bekal Terbaik Menuju Kampung akhirat

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Setiap manusia pasti akan meninggalkan dunia ini, dalam arti kata setiap manusia pasti akan mati. Allah Swt. berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
"Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. (QS. Ali 'Imran: 185)
Karena kematian adalah kepastian, maka yang perlu kita pikirkan bukanlah kapan kita akan meninggal, tetapi bekal apa yang akan kita bawa menghadap Allah.
Allah Swt. berfirman:
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ
"Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa."
(QS. Al-Baqarah: 197)
Takwa diwujudkan dengan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Di usia kita yang semakin hari semakin bertambah ini, hendaknya kita semakin memperbanyak amal ibadah:

1.  Terutama sekali Ibadah salat dan Membaca Alquran 

mari kita luang kan waktu sedikit setiap hari untuk membaca Alquran, bahkan bukan hanya membaca tapi kita usahakan menghafalnya walaupun sedikit, kita usahakan memahami terjemahan dan isinya.

Rahasianya apa?

Andaikan nanti mata kita tidak lagi bisa berfungsi, hafalan masih bisa kita baca 

3. Bersedekah sesuai kemampuan.

Allah berfirmanAlmunafiqun 10

فَيَقُوْلَ رَبِّ لَوْلَآ اَخَّرْتَنِيْٓ اِلٰٓى اَجَلٍ قَرِيْبٍۚ فَاَصَّدَّقَ وَاَكُنْ مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ ۝١

Kata Allah infakkan lah hartamu sebelum mati selagi hidup, walaupun sedikit. 2000, 5000, 10000, 50000, bahkan 100. Apalagi sampai jutaan. Itu membela kita di alam kubur.

Kalau tidak kita akan menyesal dan menangis nanti kepada Allah,, ya Allah andai kan aku diberi hidup walaupun sesaat, aku akan berinfaq, berwakaf dan aku beramal saleh 

Tapi apa boleh buat sesal dahulu pendapatan sesal kemudian tiada berguna.

5. Menjaga silaturahmi.

Ungkapan masyhur di kalangan ulama:

 مَنِ اسْتَخَفَّ بِخَمْسٍ حُرِمَ خَمْسًا:

مَنِ اسْتَخَفَّ بِالْعُلَمَاءِ حُرِمَ الْعِلْمَ،

وَمَنِ اسْتَخَفَّ بِالْأُمَرَاءِ حُرِمَ الدُّنْيَا،

وَمَنِ اسْتَخَفَّ بِالْجِيرَانِ حُرِمَ الْمَنَافِعَ،

وَمَنِ اسْتَخَفَّ بِالْأَقَارِبِ حُرِمَ الشَّفَاعَةَ،

مَنِ اسْتَخَفَّ بِالْأَقَارِبِ حُرِمَ الْمَوَدَّةَ

6. Bertaubat memohon ampunan Kepada Allah SWT.

Marilah kita manfaatkan sisa umur ini sebagai kesempatan memperbanyak amal saleh, karena harta, jabatan, dan keluarga akan kita tinggalkan, sedangkan iman dan amal salehlah yang akan menemani kita di alam kubur hingga hari akhir.

Hutang Piutang dalam Islam: Amanah yang Wajib Ditunaikan




Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil 'alamin, segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat iman, Islam, dan kesehatan kepada kita. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikut beliau hingga akhir zaman.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Islam adalah agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan, termasuk urusan hutang piutang. Berhutang bukanlah sesuatu yang diharamkan. Bahkan, dalam kondisi tertentu, hutang dapat menjadi solusi bagi seseorang yang sedang mengalami kesulitan. Namun, Islam mengajarkan agar hutang tidak dianggap ringan.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ

"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, maka hendaklah kamu menuliskannya."

(QS. Al-Baqarah: 282)

Ayat ini mengajarkan pentingnya kejelasan, kejujuran, dan pencatatan dalam hutang piutang agar tidak terjadi perselisihan.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ

"Jiwa seorang mukmin tergantung karena hutangnya sampai hutangnya dilunasi."

(HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Dari hadis ini kita belajar bahwa hutang adalah amanah. Karena itu, siapa pun yang berhutang hendaknya memiliki niat yang tulus untuk melunasinya dan berusaha semampunya memenuhi kewajibannya. Sebaliknya, orang yang memberikan hutang juga dianjurkan untuk bersikap bijaksana. Allah SWT berfirman:

وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ

"Jika orang yang berhutang dalam kesulitan, maka berilah tenggang waktu sampai ia memperoleh kelapangan. Dan jika kamu menyedekahkan (membebaskan) hutang itu, maka itu lebih baik bagimu."

(QS. Al-Baqarah: 280)

Bagi kita, khususnya yang diberi amanah melayani masyarakat, mari menjadi teladan dalam menjaga kejujuran, menepati janji, dan memenuhi hak-hak orang lain. Jangan membiasakan menunda pembayaran hutang jika kita mampu, dan jangan pula mempersulit saudara kita yang benar-benar sedang kesulitan.

Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba yang amanah, dijauhkan dari hutang yang memberatkan, dan dimudahkan untuk melunasi setiap kewajiban kita.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Adab Hutang Piutang dalam Islam
Hutang piutang merupakan bagian dari muamalah yang dibolehkan dalam Islam sebagai bentuk tolong-menolong. Namun, Islam menetapkan adab agar tidak menimbulkan perselisihan dan kezaliman.

1. Berhutang hanya karena kebutuhan yang dibenarkan Jangan menjadikan hutang sebagai gaya hidup atau untuk berfoya-foya. Berhutanglah jika memang ada kebutuhan yang mendesak dan halal.


2. Berniat sungguh-sungguh untuk melunasi Rasulullah ﷺ bersabda:


مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ، وَمَنْ أَخَذَهَا يُرِيدُ إِتْلَافَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ
"Barang siapa mengambil harta orang lain dengan niat mengembalikannya, Allah akan menolongnya untuk melunasinya. Dan barang siapa mengambilnya dengan niat merusaknya (tidak mengembalikan), Allah akan membinasakannya."
(HR. Bukhari)

3. Mencatat hutang dan menghadirkan saksi Allah SWT berfirman:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ
"Apabila kamu bermuamalah secara hutang piutang untuk waktu yang ditentukan, maka tulislah."
(QS. Al-Baqarah: 282)

4. Menepati waktu pembayaran Jika telah jatuh tempo dan mampu membayar, jangan menunda-nundanya. Rasulullah ﷺ bersabda:


مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ
"Menunda pembayaran hutang oleh orang yang mampu adalah suatu kezaliman."
(HR. Bukhari dan Muslim)

5. Tidak mengambil manfaat yang disyaratkan dari hutang Hutang tidak boleh menjadi sarana mengambil keuntungan yang termasuk riba.


6. Bersikap lembut ketika menagih Pemberi hutang boleh menagih haknya, tetapi hendaknya dengan cara yang baik dan tidak mempermalukan orang yang berhutang.


7. Memberi kelonggaran kepada yang benar-benar kesulitan Allah SWT berfirman:


وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيْسَرَةٍ
"Jika orang yang berhutang dalam kesulitan, maka berilah tenggang waktu sampai dia memperoleh kelapangan."
(QS. Al-Baqarah: 280)

8. Bersyukur dan berterima kasih kepada pemberi hutang Orang yang berhutang hendaknya mendoakan dan berterima kasih kepada orang yang telah membantunya.


9. Segera melunasi sebelum meninggal dunia Rasulullah ﷺ bersabda:


نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ
"Jiwa seorang mukmin tergantung karena hutangnya sampai hutangnya dilunasi."
(HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Macam macam hutang 

Dalam Islam, hutang tidak hanya berupa uang. Secara umum, hutang dapat dibagi menjadi beberapa macam:
Hutang kepada Allah
Kewajiban ibadah yang belum ditunaikan, seperti zakat yang wajib tetapi belum dibayar, nazar yang harus dipenuhi, atau kafarat yang belum dilaksanakan.
Hutang kepada sesama manusia (hutang piutang)
Meminjam uang, barang, atau menerima pinjaman yang wajib dikembalikan sesuai kesepakatan.
Hutang kepada negara
Kewajiban yang ditetapkan secara sah oleh negara, seperti pajak, denda, atau kewajiban lain yang wajib dipenuhi sesuai peraturan yang berlaku.
Hutang amanah
Amanah berupa harta, jabatan, atau tugas yang harus ditunaikan dengan jujur dan bertanggung jawab.
Hutang janji
Janji yang telah diucapkan kepada orang lain dan wajib dipenuhi selama tidak bertentangan dengan syariat.
Hutang budi (secara moral)
Kebaikan yang diterima dari orang lain. Ini bukan hutang yang wajib dibayar dengan uang, tetapi dianjurkan untuk dibalas dengan kebaikan atau doa.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Jiwa seorang mukmin masih tergantung karena hutangnya sampai hutang itu dilunasi." (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
Karena itu, setiap bentuk kewajiban yang menjadi tanggungan hendaknya segera ditunaikan sesuai kemampuan, dan jika mengalami kesulitan, hendaknya berkomunikasi dengan pihak yang berpiutang serta berusaha melunasinya.

Rabu, 22 Juli 2026

Sambutan Kepala KUA pada Kegiatan Rembuk Stunting di Nagari Binjai

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Yang saya hormati Bapak/Ibu Camat beserta jajaran, Kepala Puskesmas, Wali Nagari, para kader kesehatan, penyuluh, tokoh masyarakat, serta seluruh peserta yang hadir.

Pertama kami menyampaikan permohonan maaf dari bapak KUA, yang seyogyanya beliau hadir, tapi karena ada pelaksanaan akad nikah hari ini. maka saya diminta untuk menghadiri kegiatan kita ini

Dapat saya sampaikan pesan pesan beliau bahwa,

Stunting bukan hanya persoalan tinggi badan anak, tetapi menyangkut kualitas sumber daya manusia di masa depan. Karena itu, pencegahan stunting merupakan tanggung jawab kita bersama, bukan hanya tugas tenaga kesehatan, melainkan juga keluarga, tokoh masyarakat, dan lembaga keagamaan.

Sebagai bentuk wujudnya, KUA telah bekerjasama dengan puskesmas, dan juga Kapolsek dalam memberikan bimbingan kepada calon pengantin agar memahami pentingnya membangun keluarga sakinah, keluarga yang sehat, menjaga gizi ibu hamil, memberikan ASI eksklusif, menerapkan pola asuh yang baik, serta terhindar dari prilaku KDRT. 

Semua itu sejalan dengan ajaran Islam yang menganjurkan umatnya menjaga kesehatan dan mempersiapkan generasi yang kuat dan berkualitas.

Melalui kegiatan Rembuk Stunting ini, mari kita perkuat sinergi antarinstansi Ini, saling berbagi informasi, dan menyusun langkah nyata untuk menurunkan angka stunting di daerah kita. Semoga usaha yang kita lakukan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat kita.

Mungkin itu yang dapat kami sampaikan.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Kamis, 16 Juli 2026

Memanfaatkan Sisa Umur Sebelum Datang Penyesalan

1. Waktu adalah amanah. 

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara

(1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu,

(2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu,

(3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu,

(4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu

(5) Masa hidup sebelum mati 

2. Mengisi sisa  usia dengan ibadah dan amal saleh.

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ۝٩٧

Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, sungguh, Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang selalu mereka kerjakan.

3. Persiapkan diri menuju kampung akhirat.

Sebab kalau kita sudah mati, tidak ada yang kita bawa kecuali amal saleh, ibadah yang sudah kita kerjakan.

Nabi bersabda:

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ: أَهْلُهُ، وَمَالُهُ، وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ، وَيَبْقَى وَاحِدٌ؛ يَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ.

Ahluhu, Keluarga. 

Wamaluhu, sebagian kecil kekayaannya

Amaluhu..

Diantara ketiganya, itu 2 kembali pulang satu kekal bersama kita.

Rabu, 15 Juli 2026

Mengapa Rasidul kiblat Urgent?

Oleh: Zainal Masri 

Pentingnya rasidul kiblat sebab menghadap kiblat merupakan salah satu sarat sah salat

Jadi, yarat-syarat sah salat yang perlu dipenuhi sebelum melaksanakan salat:

1. Beragama Islam.

2. Berakal sehat (tidak gila).

3. Sudah masuk waktu salat.

4. Suci dari hadas kecil dan hadas besar (berwudu atau mandi wajib bila diperlukan).

5. Suci badan, pakaian, dan tempat salat dari najis.

6. Menutup aurat.

7. Menghadap kiblat bagi yang mampu.

Dalam konteks sosialisasi Rashdul Kiblat, syarat yang ditekankan adalah menghadap kiblat, sebagaimana firman Allah SWT:

"Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, hadapkanlah wajahmu ke arahnya." (QS. Al-Baqarah: 144)

Karena itu, kegiatan Rashdul Kiblat bertujuan membantu memastikan arah kiblat agar pelaksanaan salat semakin tepat dan sesuai dengan tuntunan syariat.

Saran:

Meluruskan arah kiblat bukan berarti menyalahkan pendahulu, tetapi merupakan ikhtiar kita untuk menyempurnakan ibadah sesuai dengan ilmu dan tuntunan syariat."

Senin, 13 Juli 2026

Hutang piutang



Berikut materi singkat tentang Adab Hutang Piutang dalam Islam.

Allah SWT membolehkan hutang piutang sebagai bentuk tolong-menolong, bukan untuk mengambil keuntungan dengan cara yang batil. Allah berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, maka hendaklah kamu menuliskannya."

(QS. Al-Baqarah: 282)

Beberapa adab hutang piutang yang perlu diperhatikan:

1. Berniat untuk melunasi hutang. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa siapa yang berhutang dengan niat membayar, Allah akan menolongnya untuk melunasinya.

2. Mencatat hutang dan menghadirkan saksi bila diperlukan, agar tidak terjadi perselisihan di kemudian hari.

3. Tidak menunda pembayaran jika mampu. Rasulullah ﷺ bersabda: "Penundaan pembayaran oleh orang yang mampu adalah suatu kezaliman." (HR. Bukhari dan Muslim).

4. Tidak mengambil atau memberikan tambahan yang disyaratkan dalam hutang, karena tambahan yang disyaratkan dalam akad pinjaman termasuk riba.

5. Bersikap lembut saat menagih maupun saat membayar. Islam mengajarkan akhlak yang baik kepada kedua belah pihak.

6. Memberi kelonggaran kepada orang yang benar-benar kesulitan. Allah SWT berfirman:

"Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tenggang waktu sampai dia memperoleh kelapangan. Dan jika kamu menyedekahkan (sebagian atau seluruh hutang itu), itu lebih baik bagimu."

(QS. Al-Baqarah: 280)

Penutup: Hutang adalah amanah yang harus ditunaikan. Pemberi hutang hendaknya ikhlas menolong, sedangkan yang berhutang wajib menjaga amanah dengan berusaha melunasi tepat waktu. Dengan menjaga adab hutang piutang, hubungan persaudaraan tetap terpelihara dan keberkahan muamalah akan diperoleh.

Minggu, 12 Juli 2026

Sistem akad memberikan modal usaha dengan syarat menjual kembali ke si pemberi modal, lalu si pemberi modal membeli dengan harga mengambil keuntungan 40% bagaimana pandangan anda?




Ada 3 ya?

1. Seseorang memberikan modal untuk usaha.

2. Dengan syarat hasil usaha atau barang harus dijual kembali kepadanya.

3. Lalu ia membeli barang tersebut dengan mengambil keuntungan tetap sebesar 40%.

Maka hukumnya bergantung pada bentuk akad yang sebenarnya.

Jika itu benar-benar akad jual beli, misalnya pemberi modal membeli barang dari Anda dengan harga yang disepakati, dan semua syarat jual beli terpenuhi (barang jelas, harga jelas, tidak ada penipuan), maka keuntungan 40% pada jual beli tidak memiliki batas tertentu dalam Islam. Selama kedua belah pihak rela dan tidak ada unsur zalim atau penipuan, hukumnya pada dasarnya boleh.

Namun, jika sebenarnya itu adalah pinjaman yang disamarkan, misalnya pemberi modal meminjamkan uang lalu mensyaratkan harus memperoleh tambahan keuntungan 40% dari uang yang dipinjamkan, maka mayoritas ulama memandang hal itu termasuk riba, karena setiap pinjaman yang memberikan manfaat yang disyaratkan kepada pemberi pinjaman termasuk riba.

Jadi, yang menjadi penentu bukan besar kecilnya keuntungan 40%, tetapi jenis akadnya:

Jual beli yang sah: boleh, meskipun untung 40%, jika dilakukan secara jujur dan atas dasar kerelaan.

Pinjaman yang menghasilkan keuntungan yang disyaratkan: tidak boleh karena termasuk riba.


Lalu Apakah menjual barang dengan harga 3 kali lipat dari modal termasuk riba?

Dalam Islam, riba berbeda dengan keuntungan jual beli. Allah berfirman:

"Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba."

(QS. Al-Baqarah: 275)

Pada dasarnya, Islam tidak menetapkan batas maksimal keuntungan dalam jual beli. Seorang pedagang boleh memperoleh keuntungan besar, termasuk hingga tiga kali lipat, selama:

Barang dan harganya jelas.

Pembeli mengetahui harga yang disepakati dan rela membelinya.

Tidak ada penipuan, pemaksaan, atau manipulasi.

Tidak memanfaatkan keadaan darurat pembeli secara zalim.

Namun, meskipun tidak termasuk riba, seorang Muslim dianjurkan untuk bersikap jujur, adil, dan tidak mengambil keuntungan secara berlebihan yang dapat merugikan atau mengeksploitasi orang lain.

Jadi, keuntungan tiga kali lipat bukan riba, tetapi tetap harus memperhatikan etika dan keadilan dalam berdagang sesuai syariat.


Sistem akad memberikan modal petani jagung dengan syarat menjual kembali jagung ke si pemberi modal, lalu si pemberi modal membeli jagung dengan harga mengambil keuntungan 40% bagaimana menurut Islam?
Dan bagaimana jika jagung nya tidak berhasil panen?

Kasus yang Anda sampaikan perlu dilihat dari akadnya, karena dalam fikih muamalah ada beberapa kemungkinan.

Jika akadnya seperti ini:

Pemberi modal memberikan dana kepada petani untuk menanam jagung.

Sebagai syarat, setelah panen petani harus menjual jagung kepada pemberi modal.

Pemberi modal kemudian membeli jagung dengan harga yang disepakati dan memperoleh keuntungan sekitar 40% saat menjualnya kembali.

Maka akad ini bisa dibolehkan jika:

Dana yang diberikan bukan pinjaman berbunga.

Harga pembelian jagung disepakati secara adil.

Tidak ada unsur penipuan, kezaliman, atau syarat yang merugikan salah satu pihak.

Namun, jika modal itu sebenarnya adalah pinjaman, lalu petani diwajibkan menjual hasilnya kepada pemberi modal dengan harga yang membuat pemberi modal pasti mendapat tambahan keuntungan dari pinjaman tersebut, maka banyak ulama memandang akad seperti ini perlu dihindari karena dapat menjadi cara terselubung untuk mengambil manfaat dari pinjaman (yang berpotensi mengandung riba).

Jika jagung tidak berhasil panen

Jawabannya bergantung pada jenis akad:

Jika akadnya pinjaman (qardh): Petani tetap berkewajiban mengembalikan pokok pinjaman. Islam sangat menganjurkan pemberi pinjaman memberi kelonggaran atau penundaan jika petani benar-benar kesulitan, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 280.

Jika akadnya kerja sama usaha (misalnya mudharabah atau muzara'ah sesuai ketentuannya): Kerugian usaha pada dasarnya ditanggung sesuai aturan akad. Dalam mudharabah, kerugian modal ditanggung pemilik modal selama tidak ada kelalaian atau kecurangan dari pengelola. Petani tidak menanggung kerugian modal kecuali jika ia lalai atau melanggar kesepakatan.

Jadi, untuk menentukan hukumnya secara tepat, saya perlu mengetahui satu hal penting:

Apakah modal itu wajib dikembalikan oleh petani meskipun gagal panen, atau hanya dibagi hasil jika panen berhasil? Ini akan menentukan apakah akad tersebut lebih dekat kepada pinjaman, jual beli, atau kerja sama usaha menurut fikih Islam.

Kamis, 09 Juli 2026

Tiga hal yang mengikuti jenazah:

SWT berfirman : Aluminum 100

وَمِن وَرَآئِهِم بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

Dihadapan kamu telah menunggu alam barzah, itulah kuburan. Kalau sekarang Kita bapak bapak di atas bumi, Kuburan itu di dalam bumi. 

Tapi mungkin, nanti, besok, lusa, Minggu depan tahun depan kita masuk ke sana

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ: أَهْلُهُ، وَمَالُهُ، وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ، وَيَبْقَى وَاحِدٌ؛ يَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ.

Ada tiga yang mengantarkan manusia ke kubur.

Kalau ada orang mati Ado 3 yang mengantar bapak bapak kaumuslimin..

1. Ahluhu, Keluarga. Anak istri, mertua, karib kerabat tetangga saudara sahabat dsb. Biasanya kalau baik orang yang meninggal itu, banyak yang mengantar, tapi kalau biasa biasa saja, apalagi jauh dari masjid itu Ndak bara urang maanta tu do.

2. Wamaluhu, sebagian kecil kekayaannya. Contoh misalnya fasilitas. Mungkin karena banyak yang mengantar ke kubur, lalu ada mobilnya dipakai, untuk alas jenazahnya ada kasurnya dipakai. Akan tetapi begitu selesai pemakaman, harta tadi pulang kerumah, atau dibawa pulang kembali oleh keluarga nya. Itulah harta 

3. Wamaluhu, yaitu amal ibadahnya. Amal yang kita kerjakan waktu hidup di dunia itulah tinggal bersama kita. 

Cuma amal itu ada 2, ada amal yang baik ada yang tidak baik. Mudah mudahan amal kita baik semua.

Nah, diantara ketiganya itu, 2 kembali pulang. Pertama, handai Tolan, seluruh..anak istri pulang, walaupun yang meninggal itu suami nya istri pulang, yang mati ayah anak nya pulang..

Kemudian yang kedua, harta, harato yang babawo k kubur tadi babaliak pulang liak pak kaumuslimin. Dengan kasur kasur dengan mobil mobil yang dibawa pulang kembali. 

Kemudian satu diantara nya, kekal bersama dia, yaitu amal ibadah 

Jadi 3 yang mengiringi bapak kaumuslimin yg kekal adalah amal ibadah, 

Karena itu bapak bapak kaumuslimin mari lah kita perbanyak amal saleh, marilah kita perbanyak ibadah.

Kamis, 25 Juni 2026

Melalui momentum tahun baru Hijriyah, kita tingkatkan Iman dan Amal kebajikan kita

Al-Baqarah 218

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَٱلَّذِينَ هَاجَرُوا۟ وَجَٰهَدُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ أُو۟لَٰٓئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ ٱللَّهِ ۚ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

Hari ini sudah tahun 1448H, ada 3 keberuntungan yang akan diperoleh oleh kita pada tahun ini

1. Beriman


Al-Baqarah · Ayat 177

۞ لَيْسَ الْبِرَّ اَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةِ وَالْكِتٰبِ وَالنَّبِيّٖنَۚ وَاٰتَى الْمَالَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِۙ وَالسَّاۤىِٕلِيْنَ وَفىِ الرِّقَابِۚ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَۚ وَالْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عَاهَدُوْاۚ وَالصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَاۤءِ وَالضَّرَّاۤءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْاۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ ۝١٧٧

Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, melainkan kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab suci, dan nabi-nabi; memberikan harta berdasar kesenangannya untuk dia beri, kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, peminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya; melaksanakan salat; menunaikan zakat; menepati janji apabila berjanji; sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa

2. Berhijrah

الْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ (رواه البخاري)

orang yang berhijrah adalah orang yang telah meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah

3. Berjihad di jalan Allah dengan harta dan diri mereka.

Quraish Shihab menjelaskan bahwa jihad memiliki makna yang luas, misalnya:

Jihad melawan hawa nafsu.

Jihad menuntut ilmu.

Jihad bekerja dengan jujur dan amanah.

Jihad seorang guru melalui pengajaran.

Jihad tenaga kesehatan melalui pelayanan yang ikhlas.

Jalan Allah itu artinya jalan kebaikan.

Dalam hal jihad ini, tentu sesuai  Masing masing orang dengan kecendrungan dan keahliannya.

Yang bekerja sebagai dokter, atau yang ahli dlm pengobatan itu, jihad.

Bapak2 Yang bekerja atau ahli di bidang pertanian itu, jihad.

Jadi jangan petani berjihad di bidang kedokteran itu tidak tepat sasaran, sebab bukan bidangnya. 

Dengan apa kita berjihad??

Disebutkan dalam ayat ini, dengan harta dan diri mereka.

Khatib ingin katakan, banyak hal yang berkaitan dg diri kita yang kita tidak bisa lepas kan diri kita dari itu.

Contoh:

Kita tidak bisa ada tanpa waktu.

Jadi kita korbankan waktu kita untuk membantu orang lain minsalnya, itu jihad.

Saya bisa hidup tanpa nafsu, saya kendalikan nafsu saya untuk meraih yang baik atau yang lebih baik. Itu jihad.

Jadi jangan artikan Jihad hanya dengan nyawa, dengan diri kita.


Kamis, 11 Juni 2026

KEBAJIKAN (QS. ALBAQARAH :177)

 

لَيْسَ الْبِرَّ اَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةِ وَالْكِتٰبِ وَالنَّبِيّنَۚ وَاٰتَى الْمَالَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِۙ وَالسَّاۤىِٕلِيْنَ وَفىِ الرِّقَابِۚ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَۚ وَالْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عَاهَدُوْاۚ وَالصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَاۤءِ وَالضَّرَّاۤءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْاۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ

Kebajikan itu bukanlah mengahadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

Kaumuslimin jamaah ..

Untuk memahaminya khatib ingin ingin menjelaskan sebab sebab turunnya ayat ini :

Ayat ini berkaitan tentang pengalihan arah kiblat, awalnya kaumuslimin mengarah ke Baitul maqdis lalu nabi berkeinginan, maka allah mengarahkan kiblat ke mekah. Setelah turunnya ayat ini maka orang orang yahudi, mengecoh dengan berkata “apa ini?” mengarah ke barat sekali mengarah ke timur sekali, ini bukan ajaran yang benar ! 

Adapun kaumuslimin, lain lagi komentarnya, sudah saangat gembira karena sudah mengarah ke kabah, seakan akan tidak ada lagi yang lebih penting selain mengarah ke kabah! Kalau kita di sini, mengara ke barat ya?

Maka turunlah ayat ini menegur kedua belah pihak, menegur umat islam,  bahkan kita dapat juga menjelaskan, menegur sebagian kita sekarang juga yang seakan akan beranggapan kalau sudah menghadap ke kiblat dalam arti kalau sudah salat, itu sudah baik atau sudah beres, ...bukan itu yang dimaksud dengan kebajikan, atau bukan seluruh kebajikan. 

Allah menjelaskan, yang baik itu, atau kebajikan yang sempurna itu bukan sekedar menghadapkan wajah ketimur dan ke barat

وَلٰكِنَّ الْبِرَّ

Kebajikan itu adalah:

Sebelum kita lanjutkan ternyata Alquran kalau berbicara tentang kebajikan dia tidak hanya ingin dalam bentuk konsep tetapi dia ingin kita wujudkan dalam perbuatan kita, sehingga dia jawab:

الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ

Kebajikan itu harus dilakukan oleh orang yang beriman kepada Allah. 

Bapak kaumuslimin..

Jadi kita tidak dapat langsung berkata dia sudah baik, harus ada yang membuktikan kebaikan itu dalam bentuk wujud amalan dalam kehidupan.

Berdasarkan ayat ini maka kita dapat mengelompokan kebajikan kepada 3 kelompok:

1. Kebajikan dalam bidang aqidah

Pertama: Kita tidak dapat dinamai telah melaksannakan kebajikan menurut alquran, kecuali kalau kita percaya kepada Allah, itu sebabnya dia katakan man amana billah. Percaya kepada Allah itu maksudnya bagaimana? Kita percaya bahwa ada pencipta alam raya ini, pengaturnya yang maha esa, esa dalam zat sifat dan perbuatannya dan harus esa ketika beribadah kepadanya.

Kedua percaya kepada hari akhir, hidup bukan hari ini saja. Kenapa harus ada hari akhir? Karena di dunia tidak ada barangkali keadilan sempurna, ada orang baik belum dapat ganjaran kebajikan, ada orang jahat lalu justru bersenang-senang. Maka perlu suatu hari dimana ada pembalasan. Kita harus percaya pada hari itu.

Kemudian walmala ikah harus percaya pada malaikat

Kemudian walkitab, harus pecaya bahwa allah menurunkan pesan pesan dan petunjuk2 nya melalui kitab2 Nya (taurat, zabur injil, suhuf ibrahim, dan Alquran)

Yang terakhir wannabiyyin, percaya kepada nabi dan rasulNya, minimal 25 nabi dan rasul.

Jadi kalau kita tidak percaya kita belum bisa di sebut orang baik, ini kebajikan dalam bidang aqidah

2. kita lihat yang kedua dalam bidang Syariah

وَاٰتَى الْمَالَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِۙ وَالسَّاۤىِٕلِيْنَ وَفىِ الرِّقَابِۚ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ

memberikan harta berdasarkan kesenangannya, kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat.

Kalau kita rujuk ayat ini, ternyata salat disebut terakhir, jadi ada hal yang penting kalau kita mau memahami apa itu kebajikan, apa itu . وَاٰتَى الْمَالَ عَلٰى حُبِّه. Memberikan harta, . عَلٰى حُبِّه. Berdasar kesenangannya, siapa yang diberi? kepada kerabatnya, jadi prioritaskan kerabat kita dulu, kita jangan perhatikan dulu orang lain, bangsa lain padahal kita punya keluarga, baru setelah itu orang lain.  anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat.

3. yang terakhir kebajikan dalam bidang Akhlak 

وَالْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عَاهَدُوْا

Sabar, dan dia menepati janji apabila berjanji.

Mudah mudahan kita dapat memahami Alquran tentang kebajikan ini dan mengamalkan dalam kehidupan kita.

Selasa, 09 Juni 2026

Penjelasan Hukum Qisas di Indonesia


Di Indonesia, qisas tidak diterapkan dalam sistem hukum pidana nasional. Indonesia menggunakan hukum pidana yang bersumber dari undang-undang negara, sehingga kasus pembunuhan dan penganiayaan diproses berdasarkan KUHP dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Jika terjadi pembunuhan, pelaku dapat dikenai hukuman seperti:

1. Penjara dalam jangka waktu tertentu,

2. Penjara seumur hidup,

3. Atau pidana lain sesuai ketentuan hukum yang berlaku dan jenis tindak pidananya.

Namun, qisas tetap dipelajari dalam ilmu fikih dan hukum Islam sebagai bagian dari syariat Islam. Pembahasannya terdapat dalam kajian fikih jinayah (hukum pidana Islam), meskipun penerapannya sebagai hukum negara tidak berlaku di Indonesia secara umum.

Di Aceh yang memiliki kekhususan dalam pelaksanaan syariat Islam, aturan pidananya diatur dalam Qanun Aceh, tetapi ketentuan qisas untuk pembunuhan juga tidak diterapkan dalam sistem hukum pidana yang berlaku saat ini. Pembunuhan tetap diproses menurut hukum pidana nasional Indonesia

Rabu, 27 Mei 2026

Apakah Sabar ada Batasnya?

Sabar memang memiliki batas dalam kemampuan manusia, karena manusia punya rasa lelah, sedih, dan tekanan. Namun dalam ajaran Islam, sabar bukan berarti diam tanpa usaha atau memendam semuanya sampai hancur. Sabar adalah kemampuan menahan diri agar tetap berada di jalan yang benar ketika menghadapi ujian.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)

Ada beberapa bentuk sabar:

*Sabar dalam taat kepada Allah

*Sabar meninggalkan maksiat

*Sabar menghadapi musibah

Jadi, sabar bukan berarti tidak boleh menangis, mengeluh kepada Allah, atau mencari bantuan. Bahkan para nabi pun pernah sedih dan mengadu kepada Allah. Nabi Ya‘qub berkata:

“Sesungguhnya aku hanya mengadukan kesusahan dan kesedihanku kepada Allah.” (QS. Yusuf: 86)

Yang tidak boleh adalah putus asa, menyalahkan Allah, atau melakukan hal yang dilarang karena tidak tahan menghadapi ujian.

Maka boleh saja seseorang merasa “sudah sampai batas”, lalu beristirahat, meminta bantuan, bercerita kepada orang terpercaya, atau memperbanyak doa. Itu bukan berarti gagal sabar. Justru bagian dari ikhtiar menjaga diri.

Doa agar diberi kesabaran:

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا

“Ya Rabb kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan teguhkan langkah kami.” (QS. Al-Baqarah: 250)

Kamis, 21 Mei 2026

Larangan berbicara tanpa ilmu


مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Artinya:

“Barang siapa berkata tentang Al-Qur’an tanpa ilmu, maka hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka.”

(HR. Jami' at-Tirmidzi)

Atsar dari Abdullah bin Mas'ud:

مَنْ عَلِمَ شَيْئًا فَلْيَقُلْ بِهِ، وَمَنْ لَمْ يَعْلَمْ فَلْيَقُلِ: اللَّهُ أَعْلَمُ

Artinya:“Barang siapa mengetahui sesuatu maka hendaklah ia berkata dengannya. Dan barang siapa tidak mengetahui maka hendaklah ia berkata: ‘Allah lebih mengetahui.’”

Disebutkan pula bahwa Imam Malik pernah ditanya puluhan pertanyaan, dan banyak di antaranya beliau jawab:

“Laa adri” (Saya tidak tahu).

Ini menunjukkan bahwa mengatakan “tidak tahu” bukan aib, justru tanda amanah ilmiah dan ketakwaan.

Bahkan Allah berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌۗ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا ۝٣٦

Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kau ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggung jawabannya (QS. Al-Isra’: 36)

Jadi, ketika ditanya lalu memang belum tahu jawabannya, sikap yang benar adalah berkata:

“Saya belum tahu.”

“Allahu a‘lam.”

“Saya cari dulu dalilnya.”

Itu lebih baik daripada menjawab tanpa ilmu.

Sabtu, 16 Mei 2026

Masih terkait hutang piutang

Pokok pembahasan: Bagaimana pandangan agama bagi orang yang berhutang ke saya lalu saya sudah sering minta, tapi tidak juga dibayar bayar nya, kemudian saya ikhlas kan lagi?

Dalam Islam, memaafkan dan mengikhlaskan hutang termasuk amalan yang sangat besar pahalanya, apalagi jika orang yang berhutang memang sedang kesulitan.

Allah berfirman dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 280:

وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيْسَرَةٍ ۚ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya:

“Jika orang yang berhutang itu dalam kesulitan, maka berilah tenggang waktu sampai dia lapang. Dan jika kamu menyedekahkan (sebagian atau seluruh hutang itu), maka itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

Ada juga hadits dari Abu Hurairah bahwa Nabi Muhammad bersabda:

“Dahulu ada seorang pedagang yang memberi pinjaman kepada manusia. Jika ia melihat orang yang kesulitan membayar, ia berkata kepada pelayannya:

‘Maafkan saja dia, mudah-mudahan Allah memaafkan kita.’

Maka Allah pun memaafkannya.”

(HR. Shahih Bukhari dan Shahih Muslim)

Jadi balasannya sangat besar:

Mendapat pahala sedekah.

Mendapat rahmat dan ampunan Allah.

Menjadi sebab dipermudah urusan di akhirat.

Tetapi ada perbedaan penting:

Jika orang itu benar-benar susah, memaafkannya sangat dianjurkan.

Jika dia sebenarnya mampu tetapi sengaja menunda-nunda pembayaran, maka itu termasuk kezaliman. Nabi ﷺ bersabda:

“Menunda pembayaran hutang bagi orang mampu adalah suatu kezaliman. (HR. Shahih Bukhari)

Walaupun begitu, bila Anda memilih mengikhlaskan karena mengharap ridha Allah, itu termasuk akhlak mulia dan insya Allah menjadi simpanan pahala yang besar di sisi Allah.

HUTANG PIUTANG

 Pena/penyusun: Zainal Masri



QS. Al-Baqarah 282
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ ۚ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ ۚ وَلَا يَأْبَ كَاتِبٌ أَنْ يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللَّهُ ۚ فَلْيَكْتُبْ وَلْيُمْلِلِ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلَا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئًا ...
Artinya :
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu melakukan hutang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar...”
***
Deskripsi:
Tahukah kita bahwa ayat yang terpanjang dalam Al-Qur'an adalah ayat yang berkaitan dengan hutang piutang?

Sungguh agama kita mengatur tentang hal itu. Jangan berhutang kalau anda duga anda tidak mampu untuk membayar nya.

Saudara, dalam suatu hadits..

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَرَأَيْتَ إِنْ قُتِلْتُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ تُكَفَّرُ عَنِّي خَطَايَايَ؟

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «نَعَمْ، إِنْ قُتِلْتَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأَنْتَ صَابِرٌ مُحْتَسِبٌ، مُقْبِلٌ غَيْرُ مُدْبِرٍ»

ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «كَيْفَ قُلْتَ؟»

قَالَ: أَرَأَيْتَ إِنْ قُتِلْتُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَتُكَفَّرُ عَنِّي خَطَايَايَ؟

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «نَعَمْ، وَأَنْتَ صَابِرٌ مُحْتَسِبٌ، مُقْبِلٌ غَيْرُ مُدْبِرٍ، إِلَّا الدَّيْنَ، فَإِنَّ جِبْرِيلَ قَالَ لِي ذَلِكَ»..

Ada seorang lelaki pernah bertanya kepada nabi, wahai nabi seandainya saya gugur di jalan Allah, apakah Allah mengampuni dosa dosa saya?

Nabi menjawab ya, tapi sejenak nabi kemudian bertanya, bagaimana pertanyaan mu tadi?

Sang penanya mengulangi, nabi menjawab ya, kalau kamu bersabar, kalau Kamu berjuang demi karena Allah, kecuali hutang

Karena itu nabi menganjurka, bahkan beliau enggan salat. Bagi seseorang yang belum terbayar hutang nya atau tidak ada yang menanggung siapa yang membayar nya.

Nabi juga mengingatkan:

مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ، وَمَنْ أَخَذَهَا يُرِيدُ إِتْلَافَهَعَنْا أَتْلَفَهُ اللَّهُ

Siapa yang berhutang dengan niat ingin membayar Allah akan membantunya, dan siapa yang berhutang dengan niat enggan membayarnya, maka apa yang diperoleh nya akan binasa dan membinasakannya

Itu tuntunan agama kita.


Kamis, 14 Mei 2026

Amalan-amalan Yang Bisa Membela kita Dari Azab Kubur

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال
قال رسول الله ﷺ:
يُؤْتَى الرَّجُلُ فِي قَبْرِهِ، فَإِذَا أُتِيَ مِنْ قِبَلِ رَأْسِهِ دَفَعَتْهُ تِلَاوَةُ الْقُرْآنِ، وَإِذَا أُتِيَ مِنْ قِبَلِ يَدَيْهِ دَفَعَتْهُ الصَّدَقَةُ، وَإِذَا أُتِيَ مِنْ قِبَلِ رِجْلَيْهِ دَفَعَهُ مَشْيُهُ إِلَى الْمَسَاجِدِ.
(رواه الطبراني في الأوسط عن أبي هريرة وحسنه الألباني)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, bersabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam: 

Jika didatangkan azab kepada seseorang saat dia di dalam kuburnya, maka;

-jika azab itu datang ke arah kepalanya, maka bacaan Al-Qurannya akan menolak dan melindunginya.

jika azab itu datang ke arah kedua tangannya,  maka sedekahnya akan menolak dan melindunginya.

Jika azab itu datang ke arah kedua kakinya, maka langkah-langkahnya ke masjid akan menolak dan melindunginya.

3 Amalan yang akan menolong kita dari azab kubur

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال
قال رسول الله ﷺ:
يُؤْتَى الرَّجُلُ فِي قَبْرِهِ، فَإِذَا أُتِيَ مِنْ قِبَلِ رَأْسِهِ دَفَعَتْهُ تِلَاوَةُ الْقُرْآنِ، وَإِذَا أُتِيَ مِنْ قِبَلِ يَدَيْهِ دَفَعَتْهُ الصَّدَقَةُ، وَإِذَا أُتِيَ مِنْ قِبَلِ رِجْلَيْهِ دَفَعَهُ مَشْيُهُ إِلَى الْمَسَاجِدِ.
(رواه الطبراني في الأوسط عن أبي هريرة وحسنه الألباني)

Berdasarkan hadits yang kita bacakan tadi, maka dapat kita hidangkan bapak bapak kaumuslimin, ada 3 amalan yang akan menolong kita dari azab kubur. 

Azab kubur bapak bapak adalah sesuatu yang pasti kita lalui, tapi tidak nampak. Kalau diperlihatkan Allah lah azab kubur itu bapak kaumuslimin, barang kali masjid akan selalu berlimpah ruah. Tidak saja hari Jumat dan hari raya, tapi Lima waktu sehari semalam akan penuh. Karena takut akan azab kubur.

Tapi karena tidak nampak, orang ada yang yakin dan ada yang tidak yakin. 

Jamaah Jumat 

Allah SWT berfirman : Aluminum 100

وَمِن وَرَآئِهِم بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

Dihadapan kamu telah menunggu alam barzah, itulah kuburan. Kalau sekarang Kita bapak bapak di atas bumi, Kuburan itu di dalam bumi. 

Tapi mungkin, nanti, besok, lusa, Minggu depan tahun depan kita masuk ke sana. 

Khatib yakin bapak bapak dan kita yang hadir ini sudah pernah mendekati kubur bahkan berdiri di pinggir kubur. Adakah hati berkata "ya Allah kapan saya masuk kedalam?"

Kalau ditanya apakah sudah siap atau belum?

Siap tidak siap kita pasti akan masuk ke dalam. 

Kuburan,  sudah lah sempit, gelapnya luar biasa, sendirian disitu! Sampai kapan? Sampai hari kiamat. Andaikan kita disiksa di azab, sampai kapan? Itu sampai hari kiamat. 

Mudah mudahan kita ini terhindar dari azab kubur bapak bapak kaumuslimin. Amin..

Tapi perlu kita renungkan bapak bapak kaumuslimin bahwa itu rumah masa depan, 

Rumah yang kita tempati hari ini boleh jadi bentuk dan nilainya nya bervariasi bapak bapak kaumuslimin, ada yang mahal ada yang sederhana, mati kita kita tinggalkan! Kita pindah ke rumah masa depan. 

Harapan kita hendaknya rumah masa depan kita lebih indah, lebih mewah ketimbang rumah kita yang sekarang.

Sudah lah lapang, mewah bercahaya lagi!

Itu tergantung perjuangan kita sekarang, 

Agar lapang, agar ramai agar bercahaya kuburan kita, 3 hal jangan sampai kita abaikan:

Iman yang kuat Aqidah yang kokoh, kemudian ilmu agama yang mantap, kemudian terakhir amal ibadah yang banyak. 

Kalau yang tiga ini sudah oke, bapak kaumuslimin, maka kuburan kita menjadi raudatammirriyadil Jannah, menjadi taman dari taman-taman surga.

Tapi sungguh pun demikian bapak kaumuslimin, dalam hadits lain disampaikan oleh rasul:

يُؤْتَى الرَّجُلُ فِي قَبْرِهِ

Seseorang kata nabi akan di datangi oleh malaikat dan akan di azab dalam kubur, seseorang itu mungkin dia penguasa, mungkin dia pejabat, konglomerat, org biasa macam macam.

1. Ketika malaikat datang dari arah kepala ingin melaksanakan tugas nya mengazab, tapi tidak bisa ia laksanakan. Walaupun sudah ada order dari Allah tapi tidak bisa ia lakukan.

Kenapa karena orang itu dibela oleh amalnya, yaitu Tilawatil Qur'an. Oleh karenanya mari kita luang kan waktu sedikit setiap hari untuk membaca Alquran, bahkan bukan hanya membaca tapi kita usahakan menghafalnya walaupun sedikit, kita usahakan memahami terjemahan dan isinya.

Rahasianya apa?

Andaikan nanti mata kita tidak lagi bisa berfungsi, hafalan masih bisa kita baca 

2. Apabila malaikat datang dari tengah depan belakang kiri dan kanan, mereka tidak dapat melaksanakan tugas karena dibela oleh nilai sadaqah kita. Jadi sadaqah kita, wakaf kita, infak dan zakat kita itulah yang akan membela kita nanti di akhirat bapak kaumuslimin. 

Makanya didalam ayat dikatakan: QS. Almunafiqun 10

فَيَقُوْلَ رَبِّ لَوْلَآ اَخَّرْتَنِيْٓ اِلٰٓى اَجَلٍ قَرِيْبٍۚ فَاَصَّدَّقَ وَاَكُنْ مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ ۝١

Kata Allah infakkan lah hartamu sebelum mati selagi hidup, walaupun sedikit. 2000, 5000, 10000, 50000, bahkan 100. Apalagi sampai jutaan. Itu membela kita di alam kubur.

Kalau tidak kita akan menyesal dan menangis nanti kepada Allah,, ya Allah andai kan aku diberi hidup walaupun sesaat, aku akan berinfaq, berwakaf dan aku beramal saleh 

Tapi apa boleh buat sesal dahulu pendapatan sesal kemudian tiada berguna.

3. Apabila malaikat datang dari arah kaki, wah ngeri bapak kaumuslimin.

Ia dibela oleh amalnya karena sering melangkah ke masjid, berangkat dari rumah walaupun dengan motor dengan mobil dengan berjalan kaki, itu membela kita di dalam kubur bapak kaumuslimin.

At-Taubah ayat 18

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan tidak takut selain kepada Allah. Maka mereka itulah yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.”