Selamat datang di blog Zainal Masri- semoga ada manfaatnya dan bernilai Ibadah disisi Nya serta menjadi cemety buat generasi yang akan datang.Amiin ya Rabbal 'Alamiin. Blog ini berisi tentang serba-serbi my prestasi-prestasi yang pernah diraih,, harapan: galilah potensi kita menjadi prestasi” jangan pernah berhenti melakukan aktifitas-aktifitas positif untuk mengukir prestasi ..Allah menciptakan manusia dengan sempurna, Allah memberi banyak potensi/kemampuan. Tugas kita adalah: mencari-menggali-menemukan-menmgembangkan dan meningkatkan kemampuan diri tersebut. Moment adalah peluang yang diberikan Allah kepada kita untuk maju, Allah tidak pernah memberi amanah/beban yang kita tidak mampu. Sukses/takdir baik diberikan kepada mereka yang optimis. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat di antara manusia lainnya. Yakinlah Allah tidak akan pernah meninggalkan hamba-nya. Doa adalah senjata kita yang paling Ampun. Usaha-Ikhtiar-Do,a. Kalau sabar menunggu masa, Insyaallah..��☕☕☕

Kamis, 29 Oktober 2026

Meraih Berkah dalam Pengabdian.

Pada kesempatan ini, marilah kita merenungkan satu tema sederhana, tetapi sangat dekat dengan kehidupan kita, yaitu Meraih Berkah dalam Pengabdian.

Hadirin...

Kalau kita mendengar kata pengabdian, mungkin yang terbayang oleh kita adalah seorang pegawai yang mengabdi kepada negara, seorang guru yang mengabdi kepada pendidikan, atau seorang pemimpin yang mengabdi kepada masyarakat.

Padahal kalau kita pahami dan renungkan, sesungguhnya pengabdian itu tidak hanya milik orang yang memiliki jabatan.

Seorang ibu yang bangun pagi menyiapkan kebutuhan keluarganya, memasak nasi, membuatkan suaminya kopi, itu sesungguhnya dia sedang mengabdi.

Seorang ayah yang bekerja mencari nafkah yang halal untuk keluarga juga sedang mengabdi.

Seorang petani yang mengolah tanah untuk menghasilkan padi jagung sehingga orang bisa mendapatkan makanan juga sedang mengabdi.

Seorang pedagang yang melayani pembeli dengan jujur juga sedang mengabdi.

Bahkan seseorang yang membantu tetangganya tanpa mengharapkan imbalan juga merupakan bentuk pengabdian.

Artinya, pengabdian bukan ditentukan oleh tinggi rendahnya jabatan, tetapi oleh niat, tanggung jawab, dan manfaat yang diberikan.

Nah untuk mendapatkan berkah dalam pengabdian itu dapat kita rinci menjadi 4 Pilar

1. Sadarilah bahwa Pengabdian itu adalah bagian dari amal saleh

Allah Swt. berfirman dalam QS. An-Nahl ayat 97:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً

Artinya:

"Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik."

Ayat ini mengajarkan bahwa setiap kebaikan memiliki nilai di sisi Allah.

Jadi, jangan pernah merasa bahwa pekerjaan kita tidak berarti hanya karena tidak memiliki jabatan atau tidak dikenal banyak orang.

Bisa jadi, seseorang yang tidak memiliki jabatan justru memberikan manfaat besar bagi masyarakat melalui pekerjaannya sehari-hari.

2. Pengabdian harus dilandasi keikhlasan

Ada orang yang mau bekerja kalau diperhatikan. Ada yang mau membantu kalau mendapatkan pujian. Ada pula yang kecewa ketika kebaikannya tidak dihargai.

Padahal, kalau kita mengabdikan diri hanya untuk mendapatkan penghargaan manusia, kita akan mudah kecewa.

Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

"Sesungguhnya amal itu bergantung pada niatnya." (HR. Bukhari dan Muslim).

Maka, luruskanlah niat kita.

Bekerjalah dengan baik bukan hanya karena atasan melihat, tetapi karena Allah Maha Melihat.

Bantulah orang lain bukan hanya karena ingin dipuji, tetapi karena ingin mendapatkan rida Allah.

3. Pengabdian yang baik harus memberikan manfaat

Rasulullah saw. bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya."

Pesan ini mengajak kita untuk bertanya kepada diri sendiri:

Apakah kehadiran kita sudah memberikan manfaat bagi orang lain?

Apakah keluarga kita merasa terbantu dengan keberadaan kita?

Apakah tetangga merasa nyaman dengan sikap kita?

Apakah masyarakat merasakan kebaikan dari pekerjaan kita?

Jangan sampai kita merasa sudah banyak mengabdi, tetapi orang-orang di sekitar kita justru tidak merasakan manfaatnya.

4. Berkah tidak selalu berarti banyak harta

Kadang-kadang kita mengukur keberhasilan pengabdian dari banyaknya penghasilan, tingginya jabatan, atau banyaknya penghargaan.

Padahal, berkah tidak selalu berarti kaya raya.

Ada orang yang penghasilannya sederhana, tetapi keluarganya rukun.

Ada orang yang jabatannya biasa saja, tetapi kehadirannya selalu dirindukan masyarakat.

Ada orang yang hartanya tidak banyak, tetapi selalu memiliki kesempatan untuk membantu orang lain.

Itulah salah satu gambaran kehidupan yang penuh berkah.

Maka, jangan hanya mengejar apa yang kita dapatkan dari pengabdian, tetapi perhatikan juga kebaikan apa yang bisa kita tinggalkan.

Kulit Pembalut Tulang

"Ketika rumah menjadi tempat paling sunyi untuk menanggung luka"

Dahulu, Dia mengira bahwa rumah tangga adalah tempat seseorang pulang untuk menemukan ketenangan. Tempat berbagi lelah, menumpahkan cerita, dan menyandarkan kepala ketika dunia terasa begitu berat.

Namun, waktu mengajarinya sesuatu yang tak pernah ia bayangkan: seseorang bisa tinggal serumah dengan orang yang dicintainya, tetapi merasa begitu sendirian dalam menjalani hidupnya.

Dia belajar diam ketika hatinya terluka. Bukan karena tak punya kata-kata, melainkan karena setiap kata yang keluar sering kali tak menemukan tempat untuk dipahami.

Dia belajar tersenyum meski dadanya sesak. Bukan karena hidupnya baik-baik saja, melainkan karena ia tak ingin orang lain mengetahui betapa berantakannya isi hatinya.

Hari demi hari berlalu. Persoalan datang silih berganti. Ada perkataan yang menusuk, sikap yang mengabaikan, harapan yang dibiarkan menggantung, dan perhatian yang perlahan kehilangan kehangatannya.

Dia tidak selalu menangis. Bahkan, ada masa ketika air matanya tak lagi jatuh. Bukan karena lukanya sembuh, tetapi karena ia terlalu lelah menjelaskan rasa sakit yang sama berulang kali.

Dia menelan kecewa sendirian. Menyimpan marah tanpa suara. Mengubur harapan sedikit demi sedikit, sembari tetap menjalankan kewajibannya sebagai pasangan, sebagai orang tua, dan sebagai bagian dari rumah tangga yang harus tetap berjalan.

Orang-orang melihatnya masih beraktivitas seperti biasa. Mereka tak tahu bahwa di balik wajah yang tampak tenang, ada hati yang terus bergulat dengan pertanyaan:

“Sampai kapan aku harus sekuat ini?”

Dia tetap mengurus rumah. Tetap memikirkan kebutuhan keluarga. Tetap berusaha memberikan yang terbaik. Namun, siapa yang memikirkan lelahnya? Siapa yang bertanya tentang perasaannya? Siapa yang menyadari bahwa orang yang selama ini dianggap kuat sebenarnya sedang perlahan kehilangan kekuatannya?

Begitulah luka yang dipendam terlalu lama. Dia tak selalu meninggalkan bekas pada kulit, tetapi diam-diam menggerogoti semangat, merampas ketenangan, dan membuat seseorang merasa asing terhadap dirinya sendiri.

Dia terlalu lama makan hati, hingga seolah-olah tubuhnya tinggal kulit pembalut tulang. Bukan semata-mata karena tubuhnya kehilangan tenaga, melainkan karena jiwanya telah begitu letih menanggung sesuatu yang tak mampu ia ceritakan kepada siapa pun.

Namun, jauh di dalam dirinya, masih ada secercah harapan. Harapan bahwa suatu hari rumah tangga bukan lagi tempat untuk saling melukai, melainkan tempat untuk saling memahami.

Sebab sesungguhnya, pernikahan bukan perlombaan tentang siapa yang paling kuat menahan penderitaan. Bukan pula tentang siapa yang paling pandai menyembunyikan air mata.

Pernikahan adalah perjalanan dua manusia yang sama-sama memiliki kekurangan, yang semestinya belajar mendengar tanpa menghakimi, menegur tanpa merendahkan, dan mencintai tanpa membuat pasangannya kehilangan harga diri.

Jika satu hati terus-menerus diminta mengalah, sementara hati lainnya tak pernah belajar memahami, maka yang perlahan habis bukan hanya cinta, tetapi juga diri seseorang yang dahulu begitu tulus menjaganya.

Pada akhirnya, ia ingin mengatakan satu hal:

"Aku tidak menuntut rumah tangga yang sempurna. Aku hanya ingin rumah yang membuatku merasa pulang. Tempat aku boleh lelah tanpa dianggap lemah, boleh bersedih tanpa disalahkan, dan boleh menjadi diriku sendiri tanpa harus terus-menerus menelan luka."

Sebab manusia tidak diciptakan hanya untuk bertahan hidup di dalam rumahnya sendiri. Ia juga berhak merasa aman, dihargai, dan dicintai di dalamnya.

Ada orang yang tubuhnya kurus bukan karena tak cukup makan, melainkan karena terlalu banyak beban yang dipikulnya. Ada pula yang senyumnya masih terlihat, padahal hatinya telah lama meminta pertolongan.

Dan kisah ini ada yang merasakan memang dekat dengan kehidupan nyata, sabar!.  bersabar bukan berarti harus membiarkan luka terus berulang. Terkadang, langkah pertama untuk menyelamatkan rumah tangga adalah berani mengakui bahwa ada sesuatu yang mesti diperbaiki.

Berbahagialah orang yang bisa meraih rumah tangga nya sakinah mawadah Rahmah dan amanah, pertahanan kanlah! tapi bagi yang gagal,, bukan hanya dikhianati, di siksa, dicaci-maki, itulah awal dari kehidupan yang paling pahit, maka berjuanglah!! Mudah mudahan meraih sakinah mawadah warahmah!! 

Tak dapat diraih dalam kenyataan,, minimal diraih dalam Tulisan.



Kamis, 22 Oktober 2026

Makanan dan minuman yang diharamkan

 









Berkah Dalam pengabdian-Materi Jumat berkah di kantor wali nagari Binjai



Disusun Oleh: Zainal Masri 

PAI Tigo Nagari 

KBBI menjelaskan, berkah berarti karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia.

Dalam penggunaan sehari-hari, berkah juga sering dimaknai sebagai karunia atau kebaikan yang membawa manfaat.

Contoh dalam kehidupan:

Rezeki yang berkah: rezeki yang diperoleh dengan cara halal dan membawa kebaikan.

Ilmu yang berkah: ilmu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

Pengabdian yang berkah: pengabdian yang menghasilkan kebaikan dan manfaat bagi masyarakat.

Kalau kita merujuk pada ayat suci Al-Qur'an Allah SWT berfirman :QS. An-Nahl ayat 97.

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik"

KBBI menjelaskan Pengabdian,  berasal dari kata dasar abdi, yang berkaitan dengan perbuatan mengabdi atau menghambakan diri.

Jadi, Pengabdian dapat kita pahami sebagai kesediaan mencurahkan tenaga, pikiran, waktu, dan kemampuan untuk melaksanakan suatu tanggung jawab.

BERKAH DALAM PENGABDIAN 

Berkah dalam pengabdian tidak selalu ditunjukkan oleh jabatan tinggi, kekayaan melimpah, atau nama yang terkenal. Terkadang, keberkahan justru hadir dalam kehidupan orang biasa yang bekerja dengan ikhlas, jujur, dan bermanfaat bagi orang lain.

Pada kesempatan ini, marilah kita merenungkan satu tema sederhana, tetapi sangat dekat dengan kehidupan kita, yaitu Meraih Berkah dalam Pengabdian.

Hadirin...

Kalau kita mendengar kata pengabdian, mungkin yang terbayang oleh kita adalah seorang pegawai yang mengabdi kepada negara, seorang guru yang mengabdi kepada pendidikan, atau seorang pemimpin yang mengabdi kepada masyarakat.

Padahal kalau kita pahami dan renungkan, sesungguhnya pengabdian itu tidak hanya milik orang yang memiliki jabatan.

Berikut contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan keseharian kita 

1. Petugas kebersihan yang membuat orang lain nyaman

Seorang petugas kebersihan setiap pagi menyapu kantor, membersihkan halaman, dan membuang sampah. Tidak banyak orang memperhatikan pekerjaannya. Bahkan, namanya jarang disebut dalam sambutan.

Namun, berkat pekerjaannya, orang lain dapat bekerja dengan nyaman dan masyarakat merasa senang datang ke kantor.

Letak berkahnya: pekerjaannya yang terlihat sederhana ternyata memberikan manfaat kepada banyak orang.

2. Seorang ibu yang mengabdi kepada keluarga

Seorang ibu bangun pagi, memasak, mengurus anak, membersihkan rumah, dan membantu suaminya. Ia tidak mendapatkan penghargaan atau piagam atas pekerjaannya.

Namun, dari ketekunannya, anak-anak tumbuh dengan baik, keluarga terawat, dan rumah menjadi tempat yang menenangkan.

Letak berkahnya: pengabdian yang dilakukan dengan niat baik menjadi jalan kebaikan bagi seluruh keluarga.

3. Pedagang kecil yang jujur

Seorang pedagang di pasar memperoleh keuntungan yang tidak seberapa. Ia tidak mengurangi timbangan, tidak menyembunyikan barang yang rusak, dan tetap tersenyum kepada pembeli meskipun dagangannya sepi.

Ada pedagang lain yang memperoleh untung lebih besar, tetapi ia tetap menjaga kejujurannya.

Letak berkahnya: rezekinya mungkin tidak banyak, tetapi diperoleh dengan cara yang baik, menumbuhkan kepercayaan pelanggan, dan memberi ketenangan hati.

4. Bapak ibuk bekerja sebagai perangkat nagari atau kita sebagai pelayan publik yang melayani masyarakat dengan tulus

Tidak semua warga mengucapkan terima kasih. Ada pula yang menganggap pelayanan itu memang sudah menjadi kewajibannya.

Namun, ia tetap bekerja dengan baik karena menyadari bahwa jabatan adalah amanah.

Letak berkahnya: pekerjaannya bukan sekadar menyelesaikan administrasi, tetapi juga membantu masyarakat memperoleh hak dan kemudahan.

5. Orang biasa yang membantu tetangganya diam-diam

Seorang warga mengetahui tetangganya sedang kesulitan membeli beras. Ia memberikan bantuan tanpa mengumumkannya kepada orang lain.

Tidak ada dokumentasi, tidak ada pujian, dan tidak ada ucapan terima kasih yang panjang. Ia hanya berharap tetangganya dapat melewati kesulitan.

Letak berkahnya: bantuan kecil dapat meringankan beban besar bagi orang yang menerimanya.

6. Guru mengaji yang mengajar anak-anak dengan sabar

Seorang guru mengaji di musala mengajar anak-anak membaca Al-Qur'an. Sebagian anak cepat memahami pelajaran, sedangkan sebagian lainnya harus dibimbing berkali-kali.

Ia tetap sabar, meskipun imbalannya tidak seberapa.

Bertahun-tahun kemudian, anak-anak yang dahulu diajarnya tumbuh menjadi orang dewasa yang mampu membaca Al-Qur'an dan mengajarkannya kepada generasi berikutnya.

Letak berkahnya: kebaikan dari pengabdiannya terus berlanjut melalui ilmu yang diwariskan

Jadi marilah kita renungkan bapak bapak kaumuslimin 

Jika besok kita tidak lagi menjabat, bekerja, atau berada di tempat pengabdian kita sekarang, kebaikan apa yang akan tetap dikenang dan dirasakan oleh orang lain?”

tidak semua orang ditakdirkan menjadi pemimpin besar. Tidak semua orang memiliki kekayaan berlimpah. Tidak semua orang akan dikenal namanya oleh masyarakat.

Tetapi, setiap orang memiliki kesempatan untuk menghadirkan keberkahan.

Petugas kebersihan menghadirkan keberkahan melalui kebersihan. Pedagang menghadirkan keberkahan melalui kejujuran. Guru menghadirkan keberkahan melalui ilmu. Perangkat nagari menghadirkan keberkahan melalui pelayanan.

Maka, jangan pernah merasa bahwa pengabdian kita tidak berarti hanya karena pekerjaan kita terlihat sederhana.

Kamis, 01 Oktober 2026

HARI PERTANGGUNGJAWABAN MANUSIA DI HADAPAN ALLAH SWT

Pena: Zainal Masri 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ خَلَقَنَا وَرَزَقَنَا وَإِلَيْهِ مَرْجِعُنَا وَمَآبُنَا.

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Fuji syukur kepada Allah SWT, salawat dan salam untuk junjungan kita nabi Muhammad Saw 

Kaumuslimin Jamaah Jumat rahimakumullah

Allah mengingatkan kita dalam Al-Qur'an:

يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَىٰ مِنْكُمْ خَافِيَةٌ

"Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tidak ada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi bagi Allah." (QS. Al-Haqqah: 18)

Kaumuslimin Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Alangkah cepatnya sedetik dibanding dengan semenit, semenit dibandingkan dengan sejam, sejam dengan sehari, sehari dengan sebulan sebulan dengan setahun, pada endingnya alangkah cepatnya perjalanan waktu hari yang kita lalui dibanding dengan kehadiran usia kita. Mau kemanakah kita ini?

Ada yang berkata kita ini berjalan dan berjalan pada akhirnya kita punah kita, kita tidak ada lagi. Ini barangkali opini yang banyak berkembang di dunia barat yang boleh jadi sudah masuk sebagian ke negeri kita. 

Bagi kita orang yang beragama, tidak demikian, kita sedang berjalan menuju Tuhan, innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un...

Suatu hari nanti kita semua akan meninggalkan dunia ini. Jabatan akan kita tinggalkan. Harta akan kita tinggalkan. Rumah, kendaraan, pekerjaan, keluarga dan segala yang kita banggakan akan kita tinggalkan.

Yang kita bawa hanyalah amal shaleh.

Pada hari itulah manusia tidak lagi mempertanggung jawabkan apa yang dimiliki orang lain bapak bapak kaumuslimin, tetapi mempertanggung jawabkan apa yang telah diperbuatnya sendiri waktu di dunia.

Allah berfirman:

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ۝ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

"Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya."(QS. Az-Zalzalah: 7–8)

Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa tidak ada amal yang benar-benar hilang dan sia2 di hadapan Allah

Kebaikan yang mungkin kita anggap kecil, Allah mengetahuinya.

Senyuman kepada saudara kita, Allah mengetahuinya.

Membantu orang yang kesusahan, Allah mengetahuinya.

Memberi nafkah kepada keluarga, Allah mengetahuinya.

Mengajarkan Al-Qur'an kepada anak-anak, Allah mengetahuinya.

Bahkan kebaikan yang tidak diketahui manusia sekalipun, tidak pernah tersembunyi dari Allah.

Sebaliknya, dosa yang kita sembunyikan dari manusia juga tidak tersembunyi dari Allah.

Kaumuslimin Jamaah Jumat rahimakumullah,

Rasulullah ﷺ mengingatkan:

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلَاهُ.

"Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang ilmunya untuk apa diamalkan, tentang hartanya dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakan."(HR. Tirmidzi)

Mari kita Perhatikan, jamaah..

Kita akan ditanya tentang umur.

Berapa tahun yang telah kita jalani?

Berapa banyak waktu yang kita gunakan untuk ibadah?

Berapa banyak waktu yang habis untuk perkara yang tidak bermanfaat?

Kita akan ditanya tentang ilmu.

Apa yang kita ketahui?

Apakah ilmu itu kita amalkan?

Kita akan ditanya tentang harta.

Dari mana kita mendapatkannya?

Apakah halal atau haram?

Untuk apa kita membelanjakannya?

Dan kita akan ditanya tentang tubuh kita.

Untuk apa mata kita gunakan?

Untuk apa telinga kita gunakan?

Untuk apa tangan dan kaki kita gunakan?

Untuk apa kesehatan yang Allah berikan kepada kita?

Kaumuslimin Jamaah Jumat rahimakumullah,

Karena itu, sebelum datang hari pertanggung jawaban, marilah kita melakukan muhasabah diri.

Jika selama ini kita masih banyak dosa, mari bertaubat.

Jika masih ada hak orang lain yang kita ambil, mari kita kembalikan.

Jika masih ada orang yang kita sakiti, mari kita minta maaf.

Jika masih kurang berbakti kepada orang tua, mari kita perbaiki.

Jika masih lalai terhadap keluarga, mari kita perhatikan.

Jika masih jauh dari Al-Qur'an, mari kita kembali mendekat.

Jangan menunggu usia tua untuk berubah.

Jangan menunggu sakit untuk beribadah.

Jangan menunggu kematian mendekat untuk bertaubat.

Sebab kita tidak pernah tahu kapan Allah memanggil kita.

Rabu, 30 September 2026

BRUS DI MAS TIGO NAGARI OLEH PEMATERI: USTAD RIKI JUSMAN, Lc



 Resume: Zainal Masri 

1. Kenali diri 

        Dengan pertanyaan " Siapa saya?

2. Bijak menggunakan HP, 

3. Saring sebelum shareing

4. Pergaulan remaja. 

Islam mengajarkan batasan pergaulan laki laki dan PR.

Batasan yang tidak boleh dilihat :

1. Batasan fisik, contoh aurat.

PR : semua anggota tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan.

LK2 : Antara pusar dan lutut.

Trend hari ini yang perlu disikapi, menyukai laki-laki sesama laki-laki, atau PR sama PR. 

2. Dilarang mendekati jalan Zina (QS. Alisra 32)

3. Menjaga hati dan pandangan. Caranya: Ketika terjatuh dalam dosa cepat ingat Allah dan cepat melakukan kebaikan.

Ctt: kita boleh menyukai orang lain, mencintai orang lain, tapi harus sesuai dengan tuntunan agama.

DOA ACARA HUT KE 81 KABUPATEN PASAMAN TAHUN 2026


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَلِوَالِدَيْنَا ، وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.

Allahumma ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahiim. Dengan taburan nikmat,  naungan,  serta kasih sayang yang senantiasa mengiringi setiap detik perjalanan hidup kami.

Pada hari ini  kami berkumpul bersama sambil menengadahkan tangan menengadahkan tangan memanjatkan doa kehadiratMu Pada acara HUT Ke 81 Kabupaten Pasaman tiada daya dan upaya kecuali kekuatan dan pertolongan yang telah engkau berikan kepada kami.

Engkau berkati Acara kami ini ya Allah

Anugerahkanlah  kepada daerah kami tanah yang subur, masyarakat yang beragam, serta potensi alam dan sumber daya yang menjadi amanah bagi kami untuk dikelola dengan sebaik-baiknya.

Ya Allah, 

Jadikanlah daerah kami daerah yang aman, tenteram, maju, sejahtera, dan penuh keberkahan. Jauhkanlah kami dari perpecahan, permusuhan, bencana, kemiskinan, dan berbagai keburukan.

Ya Allah, karuniakanlah kepada kami, pemimpin pemimpin yang takut kepada Mu dan sayang kepada kami, berikanlah mereka kekuatan, kesehatan, kecerdasan, kejujuran, dan kebijaksanaan dalam menjalankan amanah.

Bimbinglah mereka agar senantiasa mengutamakan kepentingan masyarakat, menegakkan keadilan, menjaga integritas, serta menghadirkan kebijakan dan pembangunan yang membawa kemaslahatan bagi seluruh masyarakat.

Ya Allah, bukakanlah pintu-pintu rezeki bagi masyarakat kami. Majukanlah pendidikan, kesehatan, pertanian, perdagangan, usaha masyarakat, serta seluruh sektor pembangunan. Berikanlah kesempatan kepada generasi muda kami untuk belajar, berkarya, dan menjadi generasi yang berilmu, berakhlak, serta bermanfaat bagi bangsa dan daerahnya.

Ya Allah, jadikanlah peringatan Hari Jadi Kabupaten Pasaman ini sebagai momentum untuk memperbaiki kekurangan, memperkuat persatuan, dan membangun masa depan yang lebih baik.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Selasa, 22 September 2026

Doa Pembukaan Acara RAWIYA Sekabupaten Pasaman

Yaallah..

Pada hari ini kami berkumpul bersama Ya Allah,  di pasar Malampah nagari Malampah kecamatan tigo nagari,pada acara tabligh Akbar RAWIYA sekabupaten Pasaman. Tiada daya dan upaya kecuali kekuatan dan kemauan yang telah engkau curahkan kepada kami. Engkau berkati acara kami ini ya Allah, curahkan keberkahan disisi Mu, jadikan lah pertemuan kami ini sebagai sarana ubudiah dan bibit penanaman nilai nilai regius kepada umat, serta menjadi Rahmat bagi kejayaan bangsa ini..

Ya Allah ya Ghaffar, engkau zat yang maha pengampun. ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, guru-guru kami, dosa pemimpin pemimpin kami, serta dosa seluruh kaumuslimin dan muslimat 

Ya Allah, perbaikilah keadaan kami, keluarga kami dan anak-anak kami. Jadikanlah rumah tangga kami dipenuhi ketenteraman, kasih sayang dan rahmat.

Ya Allah, karuniakanlah kepada kami iman yang benar, ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, amal yang saleh, hati yang khusyuk dan akhir kehidupan yang baik.

Ya Allah, jagalah negeri kami dan seluruh keluarga kami. Jadikanlah negeri kami negeri yang aman dan tenteram. Berilah kami kemampuan untuk melakukan segala sesuatu yang Engkau cintai dan Engkau ridhai.

Ya Tuhan kami, terimalah amal kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

Rabbana aatina...

Annisa 17

 17

Allah menerima taubat itu bagi orang-orang yang melakukan kejahatan, bijahalah, jahil itu apa?

Bodoh, blm tentu bodoh, ada orang bodoh tidak jahil. Picik, gerak yang dilakukan tanpa tujuan yang benar itu kejahilan, aktivitas yang dilakukan dan menjatuhkan seseorang dari kebenaran itu jajal, zaman jahiliah, jahiliah modern 

Orang orang yang diterima Allah taubat nya, melakukan kesalahan dosa akibat dia tidak sadar, akibat picik, akibat tidak benar, lalu dia bertaubat minnkarib, dia bertaubat dari arah yang dekat. Apa maksud nya dari arah yang dekat??

Yakni sebelum rohnya berada di kerongkongan. Kalau sudah berada di kerongkongan tidak diterima lagi. Dan kedatangan maut itu tidak bisa kita duga kapan?

Boleh jadi sedang kita duduk...

Di YouTube kita liat sedang pidato meninggal 

18

Bukan nya taubat itu yang dikerjakan oleh orang yang melakukan aneka kejahatan sampai ketika kematian datang menghampiri mereka baru mereka berkata "saya sekarang mau bertaubat"



Senin, 21 September 2026

Annisa 15

 Perempuan2 yang mendatangi alfakhisyah, kata alfakhisyah dalam arti yang keji menurut akal, menurut adat, dan menurut agama.

Bisa jadi ada sesuatu yang tidak baik menurut adat tapi agama membolehkan. Bisa jadi ada sesuatu yang dibolehkan menurut agama tapi dalam adat suatu masyarakat bahwa itu kurang baik.

Jadi Fahkisyah keji

Apa yang keji itu? Disini ulama beda pendapat:

Salah satu penafsirannya adalah zina.

Ada yang mengatakan hubungan antar perempuan. Kalau zina itu hubungan lelaki dengan perempuan.

Alfakhisyah bisa berarti tempat yang keji.

Jadi perempuan2 yang mendatangi tempat-tempat yang keji, tempat tempat yang buruk.

Tidak harus zina! Jadi Ada tempat2 buruk, tidak wajar didatangi oleh seorang perempuan! Bagaimana sanksi atau hukumannya itu??

Sebelum kamu sanksi kepada nya, hendak lh ada 4 orang lelaki yang menjadi saksi yang menyaksikan perbuatan nya itu.

Kalau zina, kita harus ada 4 orang saksi yang menyaksikan bahwa dia mmg berzina, bukan hanya sekedar berduaan di dalam kamar.

Itu sebabnya, sanksi ini sangat berat untuk terlaksana!

Karena disamping agama melarang orang pergi ke tempat yang keji, juga yang pergi ke tempat yang kejipun untuk menjadi saksi,,hati hati!

Kenapa kamu pergi, kan begitu?

Nanti kita akan lihat bahwa kalau hanya 3 orang yang menjadi saksi, tidak diterima kesaksiannya, bahkan bisa jadi yang 3 orang itu yang terkena saksi.

Karena itu dinilai oleh agama kurang syarat, kalau dikita boleh jadi pencemaran nama baik.

Kita ambil penafsiran pertama, bahwa mendatangi tempat-tempat yang keji, tentu itu lebih ringan dari berzina 

Kemudian kalau 4 orang saksi itu telah memberikan kesaksian dan diterima kesaksiannya, maka perempuan2 yang mendatangi tempat-tempat yang keji itu famsiku hunna, tahan mereka dirumah 


Nah, ini ujian bagi kita:

Ada anak kita yang suka keluar dan pergi kesana, tahan jangan biarkan dia keluar!

Kenapa? Karena kalau kamu biarkan Dia keluar dia bisa kesana lagi 

Sampai kapan??

Ini banyak penafsiran sebenarnya, kita ambil 1, tahan doa sampai mati, jangan biarkan dia keluar rumah! Atau,  sampai dia kawin, kalau dia sudah kawin sudah ada suaminya.

Timbul pertanyaan?

Itu perempuan wajar nggak ditahan dirumah??

Kalau dia bersalah??

Jadi, kalau ada suami suami ada ayah yang melarang anaknya keluar, itu sebenarnya sama saja dengan menghukum dia

Dia mau pergi keluar ketempat teman nya yang baik2, dia mau pergi belajar ke sekolah, dia mau bekerja ketempat pekerjaannya yang terhormat, tidak boleh dilarang. Kalau dilarang itu namanya dijatuhi sanksi,, karena larangan keluar rumah menurut ayat ini adalah pergi ketempat yang keji..atau ketempat yang berpotensi dia melakukan kekejian. 

Sebaliknya orang tua, siapa pun yang mengizinkan pr pr yang berada dlm wewenang nya untuk pergi dan mengizinkan ketempat yang keji itu, maka yang bersangkutan ikut memikul dosa

Ayat 4:


Kita tidak ingin mendalami masalah ini, kita pindah ke arah lain:


Keteladanan Rasulullah

Sekarang hidup sudah perlu dipertanyakan. Menurunnya Akhlakul Karimah ditengah tengah2 asyarakat kita. Pergaulan bebas terjadi dimana mana, judi, mabuk2kan, KDRT 


Oleh karena itu ada 3 inti dari ayat tadi yang dapat kita ambil sebagai pelajaran:

1. Ucapan 

2. Perbuatan dan salat

Kamis, 10 September 2026

MENELADANI RASULULLAH ﷺ DALAM UCAPAN, PERBUATAN, DAN AKHLAK

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan untuk berkumpul dalam kebaikan.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Allah SWT berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian.”(QS. Al-Ahzab: 21)

Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa Rasulullah ﷺ adalah teladan dalam seluruh kehidupan.

Ada tiga hal utama yang dapat kita teladani:

Pertama, ucapan beliau.

Rasulullah ﷺ selalu berkata benar, baik, lembut, dan tidak menyakiti hati orang lain. Beliau bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau kalau tidak bisa berkata yang baik, lebih baik' diam. (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka kalau kita mencintai beliau, marilah kita menjaga lisan. Jangan mudah mencela, menggunjing, memfitnah, atau menyakiti orang lain dengan perkataan.

Orang bijak berkata:

Kedua, perbuatan beliau.

Rasulullah ﷺ rajin beribadah, suka menolong, bersedekah, menjaga silaturahmi, menyayangi keluarga, dan peduli kepada orang yang membutuhkan.

Kita tidak harus melakukan sesuatu yang besar. Membantu tetangga, mengunjungi orang sakit, memberi makan orang yang membutuhkan, bahkan tersenyum kepada saudara kita juga merupakan kebaikan.

Ketiga, akhlak beliau.

Rasulullah ﷺ memiliki akhlak yang sangat mulia. Jadi kalau kita mengaku umat beliau, cinta Rasul contohi akhlak mulia nabi.

Jadi, anak jadilah anak yang berakhlak, sekolah yang rajin, jangan melawan pada orang tua, jangan jatuhkan air mata orang tua, hargai guru..

Ridallaah..

Jadi pemuda juga demikian, jadilah pemuda yang berakhlak seperti nabi Muhammad.. jangan suka berjudi, sekarang judi sudah canggih, judol namanya, mudaratnya jauh lebih besar dari manfaatnya..

Almaidah 90

Jadi pemuda jadilah pemuda yang berakhlak... jangan terlibat dengan narkoba.

Jadi suami, jadilah suami yang berakhlak...

Kaumuslimin, kenapa karena istri bukan objek derita kaumuslimin, tapi istri adalah amanah Allah yang harus dijaga dicinta bukan dikhianati.

Inilah pentingnya pembiasaan akhlak, dan untuk memulai nya tentu dimulai dari diri kita sendiri..

Ada seorang bercita cita ingin mengubah dunia, Tapi dia gagal. Maka dia Turunkan target nya ingin mengubah bangsa nya menjadi lebih positif, dia gagal lagi, dia Turunkan! Sukunya, gagal juga, dia Turunkan lagi, pada akhir usia nya, ingin mengubah keluarga nya, ketika sampai di pembaringan maut, dia berucap "seandainya dulu saya memulai dengan mengubah diri saya, boleh jadi setelah berubah saya bisa mengubah keluarga saya, suku bangsa bahkan dunia.

Jadi kalau ada kata penutup yang saya ingin ucapan, mari kita mulai mengubah diri kita, mari kita mulai mengubah keluarga kita, tidak usah jauh-jauh dulu. 

Mari kita berusaha menyebarkan kedamaian, kalau bukan kedamaian aktif, minimal kedamaian pasif.

Apa yang saya maksud kedamaian pasif?

Kalau anda tidak bisa memberi, jangan halangi orang lain memberi, kalau anda tidak bisa memuji, jangan mencela, kalau anda tidak bisa membantu jangan jerumuskan orang. Itu saja dulu..

Insyaallah, pada masa-masa yang akan datang kita lebih banyak yang ikut, lebih banyak beraktivitas, sehingga tercipta bangsa yang bersatu,  yang damai, yang rukun, yang cinta, yang bersama dalam kebhinekaan, dsb.

Rabu, 09 September 2026

RUMAH TANGGA YANG SALAT DAN MEMBACA ALQURAN

Disebutkan dalam suatu riwayat:

نَوِّرُوا مَنَازِلَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ

“Terangilah rumah-rumah kalian dengan salat dan membaca Al-Qur’an.”

Ini merupakan anjuran agar rumah tangga dihidupkan dengan ibadah, salat, zikir, dan tilawah Al-Qur’an, sehingga rumah menjadi tempat yang penuh ketenangan dan keberkahan.

Rumah yang selalu diisi dengan salat dan tilawah Al-Qur’an bukan sekadar terang secara fisik, tetapi terang dengan iman dan petunjuk Allah. Karena itu, mari kita biasakan keluarga menyediakan waktu untuk membaca Al-Qur’an bersama, walaupun hanya beberapa ayat setiap hari.

“Jangan biarkan rumah kita hanya terang dengan lampu, tetapi gelap dari Al-Qur’an. Terangilah rumah dengan salat dan tilawah Al-Qur’an.”

Senin, 07 September 2026

BERUBAH MENJADI LEBIH BAIK

Kehidupan manusia mengalami perubahan. Kita yang dahulu kecil, sekarang menjadi dewasa. Dahulu belum memiliki tanggung jawab, sekarang memiliki keluarga dan amanah. Waktu terus berjalan dan usia terus berkurang.

Namun pertanyaannya: apakah perubahan usia kita juga diikuti dengan perubahan kualitas iman dan amal kita?

Allah SWT berfirman dalam QS. Ar-Ra'd ayat 11:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri."

Ayat ini mengajarkan kepada kita pentingnya ikhtiar untuk berubah.

Kalau dahulu kita mudah marah, mari belajar menjadi lebih sabar.

Kalau dahulu kita jarang membaca Al-Qur'an, mari mulai membiasakannya.

Kalau dahulu kita sering menyakiti orang lain dengan perkataan, mari belajar menjaga lisan.

Kalau dahulu kita sering menunda salat, mari memperbaikinya.

Kalau dahulu hubungan dengan orang tua, saudara, atau tetangga renggang, mari kita mulai menyambung silaturahmi.

Jamaah rahimakumullah,

Perubahan tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Perubahan besar sering kali dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara istiqamah.

Satu ayat Al-Qur'an yang dibaca setiap hari.

Satu kebaikan yang dilakukan setiap hari.

Satu kesalahan yang kita tinggalkan.

Satu orang yang kita maafkan.

Satu hubungan yang kita perbaiki.

Itulah langkah-langkah perubahan.

Jangan berkata, “Nanti kalau sudah tua saya akan rajin beribadah.”

Jangan berkata, “Nanti kalau sudah kaya saya akan bersedekah.”

Jangan berkata, “Nanti kalau sudah punya waktu saya akan bersilaturahmi.”

Sebab kita tidak pernah tahu apakah kita masih memiliki kesempatan untuk mengatakan “nanti.”

Jamaah yang dirahmati Allah,

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

"Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang paling terus-menerus, meskipun sedikit."

(HR. Bukhari dan Muslim)

Maka marilah kita berubah sedikit demi sedikit, tetapi istiqamah.

Dari kurang baik menjadi lebih baik.

Dari lalai menjadi lebih ingat kepada Allah.

Dari jauh menjadi dekat.

Dari bermusuhan menjadi bersaudara.

Dari banyak mengeluh menjadi banyak bersyukur.

Semoga perubahan yang kita lakukan menjadi jalan menuju keridaan Allah SWT.

Uraian Penutup 

Ada seorang bercita cita ingin mengubah dunia, Tapi dia gagal. Maka dia Turunkan target nya ingin mengubah bangsa nya menjadi lebih positif, dia gagal lagi, dia Turunkan! Sukunya, gagal juga, dia Turunkan lagi, pada akhir usia nya, ingin mengubah keluarga nya, ketika sampai di pembaringan maut, dia berucap "seandainya dulu saya memulai dengan mengubah diri saya, boleh jadi setelah berubah saya bisa mengubah keluarga saya, suku bangsa bahkan dunia.

Jadi kalau ada kata penutup yang saya ingin ucapan, mari kita mulai mengubah diri kita, mari kita mulai mengubah keluarga kita, tidak usah jauh-jauh dulu. 

Mari kita berusaha menyebarkan kedamaian, kalau bukan kedamaian aktif, minimal kedamaian pasif.

Apa yang saya maksud kedamaian pasif?

Kalau anda tidak bisa memberi, jangan halangi orang lain memberi, kalau anda tidak bisa memuji, jangan mencela, kalau anda tidak bisa membantu jangan jerumuskan orang. Itu saja dulu..

Insyaallah, pada masa-masa yang akan datang kita lebih banyak yang ikut, lebih banyak beraktivitas, sehingga tercipta bangsa yang bersatu,  yang damai, yang rukun, yang cinta, yang bersama dalam kebhinekaan, dsb.
















Rujukan: Prof. Quraish Shihab 

Kamis, 13 Agustus 2026

CINTA TANAH AIR

مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَىٰ

“Dari bumi (tanah) itulah Kami menciptakan kamu, dan ke dalamnya Kami akan mengembalikan kamu, dan darinya Kami akan mengeluarkan kamu pada waktu yang lain (hari kebangkitan).” (Taaha: 55)

Sebagaimana yang telah kita ketahui, bahwa istilah Tanah Air” adalah istilah yang digunakan di Indonesia untuk menyebut seluruh bumi Indonesia yang terdiri dari daratan dan lautan. Istilah ini berbeda dengan sementara bangsa yang menggunakan istilah motherland atau fatherland untuk menunjuk wilayah mereka masing-masing.

Dalam bahasa arab kita kenal istilah Wathan, yang artinya tempat bermukim seseorang di mana kesetiaan dan pembelaannya tertuju ke tempat itu, baik dia lahir di sana maupun tidak.

Demikianlah sekelumit tentang arti tanah air. Kita selaku orang yang beriman, maka agama sebagai pedoman dan panduan hidup kita mengatakan kita manusia berasal dari tanah, begitu firman Nya dalam surat Tahaa 55

Jadi tanah adalah asal kejadian kita.

Sedangkan air adalah sumber kehidupan, orang tidak mungkin bisa hidup tanpa ada air, begitu dalam surat alambiya 30 

Jika demikian, kita memiliki keterikatan dengan tanah dan air. Dari sini wilayah tempat kita bermukim menuntut kita membela dan membangunnya, apalagi tanah dan segala isinya tidak kikir terhadap kita, tidak juga bosan mempersembahkan buat kita segala yang kita minta darinya.

Tanah air biasa juga kita kenal dengan tanah tumpah darah. Tentu Istilah ini bisa jadi inspirasi oleh kesadaran bahwa kita lahir bersamaan dengan tumpahnya darah pada saat dan setelah ibu melahirkan. Darah yang keluar setelah kelahiran kita dinamai nifas, sedangkan kata nifas terambil dari kata nafs yakni hadirnya seorang bayi yang berjiwa.

Jadi Tempat kita lahir dinamai “tumpah darah” artinya tempat kelahiran kita sekaligus menyiratkan bahwa kita bersedia membela tanah tersebut sampai titik darah yang penghabisan. Itulah tanah air kita. Itulah ibu pertiwi sekaligus di wilayah itulah darah kelahiran kita pernah tumpah melalui ibu kita.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Cinta tanah air merupakan salah satu bentuk rasa syukur atas nikmat Allah. Kita lahir, hidup, mencari rezeki, beribadah, dan membangun keluarga di negeri ini. Karena itu, seorang mukmin hendaknya menunjukkan kecintaannya kepada tanah air melalui perbuatan yang baik.


Apa tanda seorang mukmin yang cinta tanah air?

Pertama, menjaga keamanan dan kedamaian. Menjaga keamanan adalah bagian dari rasa syukur dan cinta kepada tanah air. Bentuknya dapat dilakukan dengan menaati aturan, tidak membuat kerusuhan, menjaga persatuan, menghormati sesama, serta ikut menciptakan lingkungan yang aman dan damai.

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya.

Kedua, menjaga persatuan. Perbedaan suku, bahasa, adat, dan pilihan tidak boleh menjadi alasan untuk saling membenci. Allah berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 13 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Bahwa manusia diciptakan oleh Allah bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal.

Ayat ini mengajarkan bahwa perbedaan suku, bangsa, dan kelompok bukan alasan untuk kita bermusuhan, tetapi menjadi sarana untuk lita‘ārafū—saling mengenal dan menghargai.

Ketiga, menjaga lingkungan.

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا

“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik.”

“Orang yang beriman tidak hanya rajin beribadah kepada Allah, tetapi juga menjaga ciptaan-Nya. Menjaga kebersihan, melestarikan alam, dan tidak membuat kerusakan adalah bagian dari amal saleh. Karena itu, mencintai tanah air dapat kita wujudkan dengan menjaga lingkungan tempat kita hidup.”

Keempat, mengisi kemerdekaan dengan iman, ilmu, dan amal saleh. QS. Almujadalah 11

Mari kita isi kemerdekaan ini dengan tiga kekuatan: iman yang kokoh, ilmu yang bermanfaat, dan amal saleh yang nyata. Dengan iman kita memiliki arah, dengan ilmu kita memiliki kemampuan, dan dengan amal saleh kita memberikan manfaat bagi agama, keluarga, masyarakat, bangsa dan tanah air.”

Kamis, 06 Agustus 2026

Mensyukuri Kemerdekaan dengan Iman, Ilmu dan Amal Saleh

Kemerdekaan adalah nikmat terbesar yang patut kita syukuri. Dahulu para pejuang mengorbankan harta, tenaga, bahkan nyawa agar bangsa ini terbebas dari penjajahan. Tugas kita hari ini bukan lagi merebut kemerdekaan, melainkan mengisinya dengan iman, ilmu dan amal saleh.

Allah SWT berfirman:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

"Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu." (QS. Ibrahim: 7)

Syukur tidak cukup diucapkan dengan lisan, tetapi harus dibuktikan dengan amal perbuatan. 

مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

Di antara bentuk syukur kita atas Nikmat kemerdekaan adalah:

Pertama, menjaga keimanan dan semangat cinta tanah air 

Walaupun zaman sudah berubah, Aqidah jangan sampai goyah, silahkan saja musim berganti tapi keyakinan jangan sampai mati. Jaddidu imanakum, Segarkan imanmu karena iman yang kokoh merupakan bentuk wujud syukur kita kepada Allah atas kemerdekaan.

Orang orang tua kita terdahulu tidak mungkin mau memperjuangkan kemerdekaan kalau dia tidak beriman kepada Allah. Atas dasar iman lah mereka berjuang. Makanya dikatakan dalam Pembukaan UUD 1994 itu atas berkat Rahmat Allah...


Jadi, dalam rangka mengisi kemerdekaan mari kuatkan iman mantapkan Aqidah.


Yang kedua, menuntut dan menyebarkan Ilmu yang bermanfaat. 

Ilmu  yang dimaksud tentunya ilmu agama, kenapa demikian?

Karena orang tidak mungkin akan bersyukur kalau dia tidak tau agama, mustahil orang mau berjuang kalau dia tidak mengerti. Untuk tau dan mengerti itu butuh ilmu. Oleh karenanya jangan bosan-bosan kita menuntut ilmu, bukan saja untuk kita tapi kita wariskan pula untuk anak cucu kita generasi yang akan datang. 

Yang ke tiga, amal shaleh.

amal saleh adalah segala perbuatan baik yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah dan sesuai dengan ajaran Islam.

Contoh: menjaga ibadah salat, membaca Alquran, berzikir, menjaga persatuan dan kesatuan, berbakti kepada orang tua, bersedekah apakah untuk anak yatim, orang miskin dan pembangunan masjid dsb.

Mungkin hari kita melihat tempat salat kita ini, ini sedang proses pembangunan bapak bapak kaumuslimin, ini merupakan salah satu ladang bagi kita untuk beramal, apakah dalam bentuk infaq shodaqoh dsb..

Setiap amal saleh yang kita lakukan merupakan wujud syukur atas nikmat kemerdekaan.

Jadi setiap kita musti beramal, yang punya harta beramal dengan hartanya, yang sehat beramal dengan tenaganya dan yang tidak punya apa-apa beramal dengan doanya.

Amal saleh itu kita kerjakan maksimal waktu kita masih hidup dan merdeka, 

Addunya Daarul amal, wal akhirah Daarul jaza..

Jadi kalau sekarang kita malas, beramal, malas beraktivitas positif, menyia nyiakan waktu rugilah kita selama lamanya.

Bahkan kalau kita mati tidak ada yang kita bawa kecuali amal saleh kita..

Hanya ada tiga yang mengantarkan kita ke kubur kalau kita meninggalkan dunia ini

Ahluhu, wamaluhu, waamaluhu.

Jadi oleh karenanya, kalau kita benar benar mencintai bangsa ini, marilah kita mensyukuri nikmat kemerdekaan mengisinya dengan iman ilmu dan aktivitas yang bermanfaat.

Tanyalah diri kita...

Kamis, 30 Juli 2026

Konsekuensi menjadi orang beriman

Isi Khutbah

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Iman bukan sekadar pengakuan di lisan, tetapi keyakinan di hati yang dibuktikan dengan amal saleh. Karena itu, menjadi orang beriman memiliki konsekuensi yang harus kita diterima dan dijalani.

1. Konsekuensi pertama: Siap untuk Taat kepada Allah dan Rasul-Nya

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul." (QS. An-Nisa': 59)

Keimanan menuntut ketaatan dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah.

2. Konsekuensi kedua: Siap diuji

Allah berfirman:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya mengatakan, 'Kami telah beriman,' sedangkan mereka tidak diuji?" (QS. Al-'Ankabut: 2)

Ujian bukan tanda Allah membenci hamba-Nya, tetapi sarana membuktikan kejujuran iman.

3. Konsekuensi ketiga: Beramal saleh

Iman selalu berdampingan dengan amal saleh. Al-Qur'an berkali-kali menyebutkan:

الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ

Artinya, keimanan harus melahirkan amal kebajikan, akhlak mulia, kejujuran, amanah, dan kepedulian kepada sesama.

Makanya dalam Al-Baqarah 177 dikatakan:

Disamping kita beriman kepada rukun iman yang 6 itu, kita juga dituntut untuk memberikan sebagian dari harta yang kita cinta kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, peminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya; melaksanakan salat; menunaikan zakat; menepati janji apabila berjanji; sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

4. Konsekuensi keempat: Istikamah

Rasulullah ﷺ bersabda:

قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ

"Katakanlah, 'Aku beriman kepada Allah,' kemudian beristikamahlah." (HR. Muslim)

Keimanan harus dijaga hingga akhir hayat.

Khutbah Kedua

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Keimanan adalah nikmat terbesar, tetapi juga amanah yang berat. Orang beriman akan dimintai pertanggungjawaban atas iman yang dimilikinya. Jangan sampai iman hanya menjadi pengakuan, tetapi tidak tercermin dalam ibadah, akhlak, dan muamalah.

Marilah kita memperkuat iman dengan ilmu, memperbanyak amal saleh, bersabar menghadapi ujian, dan berdoa agar Allah menetapkan hati kita di atas agama-Nya.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

"Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu." (HR. Tirmidzi)

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang beriman dengan sebenar-benarnya iman, istiqamah dalam ketaatan, dan diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah. Aamiin.

Mengisi waktu

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Salah satu nikmat terbesar yang sering dilalaikan manusia adalah waktu. Padahal Setiap detik yang berlalu tidak akan pernah kembali. Karena itu, seorang mukmin diperintahkan untuk memanfaatkan waktu dengan amal saleh. Begitu dikatakan dalam surat Al asr

Allah Ta'ala berfirman:

وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ...

"Demi masa. Sungguh, manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh..." (QS. Al-'Ashr: 1–3).

bahwa pada dasarnya setiap manusia itu merugi apabila waktunya terbuang sia sia. 

Rasulullah ﷺ bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

"Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya, yaitu kesehatan dan waktu luang." (HR. Bukhari).

Waktu yang diisi dengan membaca Al-Qur'an, salat berjamaah, berbakti kepada orang tua, mencari ilmu, bekerja dengan jujur, bersedekah, dan membantu sesama akan menjadi bekal di akhirat.

Sebaliknya, waktu yang dihabiskan untuk maksiat, permusuhan, atau hal-hal yang sia-sia akan menjadi penyesalan pada hari kiamat.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Marilah kita mengevaluasi diri. Jangan sampai umur bertambah tetapi amal semakin berkurang. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas umurnya, untuk apa dihabiskan.

Mari jadikan setiap hari sebagai kesempatan memperbanyak amal saleh, memperbaiki akhlak, mempererat silaturahmi, dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah.

Kamis, 23 Juli 2026

Bekal Terbaik Menuju Kampung akhirat

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Setiap manusia pasti akan meninggalkan dunia ini, dalam arti kata setiap manusia pasti akan mati. Allah Swt. berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
"Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. (QS. Ali 'Imran: 185)
Karena kematian adalah kepastian, maka yang perlu kita pikirkan bukanlah kapan kita akan meninggal, tetapi bekal apa yang akan kita bawa menghadap Allah.
Allah Swt. berfirman:
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ
"Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa."
(QS. Al-Baqarah: 197)
Takwa diwujudkan dengan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Di usia kita yang semakin hari semakin bertambah ini, hendaknya kita semakin memperbanyak amal ibadah:

1.  Terutama sekali Ibadah salat dan Membaca Alquran 

mari kita luang kan waktu sedikit setiap hari untuk membaca Alquran, bahkan bukan hanya membaca tapi kita usahakan menghafalnya walaupun sedikit, kita usahakan memahami terjemahan dan isinya.

Rahasianya apa?

Andaikan nanti mata kita tidak lagi bisa berfungsi, hafalan masih bisa kita baca 

3. Bersedekah sesuai kemampuan.

Allah berfirmanAlmunafiqun 10

فَيَقُوْلَ رَبِّ لَوْلَآ اَخَّرْتَنِيْٓ اِلٰٓى اَجَلٍ قَرِيْبٍۚ فَاَصَّدَّقَ وَاَكُنْ مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ ۝١

Kata Allah infakkan lah hartamu sebelum mati selagi hidup, walaupun sedikit. 2000, 5000, 10000, 50000, bahkan 100. Apalagi sampai jutaan. Itu membela kita di alam kubur.

Kalau tidak kita akan menyesal dan menangis nanti kepada Allah,, ya Allah andai kan aku diberi hidup walaupun sesaat, aku akan berinfaq, berwakaf dan aku beramal saleh 

Tapi apa boleh buat sesal dahulu pendapatan sesal kemudian tiada berguna.

5. Menjaga silaturahmi.

Ungkapan masyhur di kalangan ulama:

 مَنِ اسْتَخَفَّ بِخَمْسٍ حُرِمَ خَمْسًا:

مَنِ اسْتَخَفَّ بِالْعُلَمَاءِ حُرِمَ الْعِلْمَ،

وَمَنِ اسْتَخَفَّ بِالْأُمَرَاءِ حُرِمَ الدُّنْيَا،

وَمَنِ اسْتَخَفَّ بِالْجِيرَانِ حُرِمَ الْمَنَافِعَ،

وَمَنِ اسْتَخَفَّ بِالْأَقَارِبِ حُرِمَ الشَّفَاعَةَ،

مَنِ اسْتَخَفَّ بِالْأَقَارِبِ حُرِمَ الْمَوَدَّةَ

6. Bertaubat memohon ampunan Kepada Allah SWT.

Marilah kita manfaatkan sisa umur ini sebagai kesempatan memperbanyak amal saleh, karena harta, jabatan, dan keluarga akan kita tinggalkan, sedangkan iman dan amal salehlah yang akan menemani kita di alam kubur hingga hari akhir.

Hutang Piutang dalam Islam: Amanah yang Wajib Ditunaikan




Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil 'alamin, segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat iman, Islam, dan kesehatan kepada kita. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikut beliau hingga akhir zaman.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Islam adalah agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan, termasuk urusan hutang piutang. Berhutang bukanlah sesuatu yang diharamkan. Bahkan, dalam kondisi tertentu, hutang dapat menjadi solusi bagi seseorang yang sedang mengalami kesulitan. Namun, Islam mengajarkan agar hutang tidak dianggap ringan.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ

"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, maka hendaklah kamu menuliskannya."

(QS. Al-Baqarah: 282)

Ayat ini mengajarkan pentingnya kejelasan, kejujuran, dan pencatatan dalam hutang piutang agar tidak terjadi perselisihan.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ

"Jiwa seorang mukmin tergantung karena hutangnya sampai hutangnya dilunasi."

(HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Dari hadis ini kita belajar bahwa hutang adalah amanah. Karena itu, siapa pun yang berhutang hendaknya memiliki niat yang tulus untuk melunasinya dan berusaha semampunya memenuhi kewajibannya. Sebaliknya, orang yang memberikan hutang juga dianjurkan untuk bersikap bijaksana. Allah SWT berfirman:

وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ

"Jika orang yang berhutang dalam kesulitan, maka berilah tenggang waktu sampai ia memperoleh kelapangan. Dan jika kamu menyedekahkan (membebaskan) hutang itu, maka itu lebih baik bagimu."

(QS. Al-Baqarah: 280)

Bagi kita, khususnya yang diberi amanah melayani masyarakat, mari menjadi teladan dalam menjaga kejujuran, menepati janji, dan memenuhi hak-hak orang lain. Jangan membiasakan menunda pembayaran hutang jika kita mampu, dan jangan pula mempersulit saudara kita yang benar-benar sedang kesulitan.

Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba yang amanah, dijauhkan dari hutang yang memberatkan, dan dimudahkan untuk melunasi setiap kewajiban kita.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Adab Hutang Piutang dalam Islam
Hutang piutang merupakan bagian dari muamalah yang dibolehkan dalam Islam sebagai bentuk tolong-menolong. Namun, Islam menetapkan adab agar tidak menimbulkan perselisihan dan kezaliman.

1. Berhutang hanya karena kebutuhan yang dibenarkan Jangan menjadikan hutang sebagai gaya hidup atau untuk berfoya-foya. Berhutanglah jika memang ada kebutuhan yang mendesak dan halal.


2. Berniat sungguh-sungguh untuk melunasi Rasulullah ﷺ bersabda:


مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ، وَمَنْ أَخَذَهَا يُرِيدُ إِتْلَافَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ
"Barang siapa mengambil harta orang lain dengan niat mengembalikannya, Allah akan menolongnya untuk melunasinya. Dan barang siapa mengambilnya dengan niat merusaknya (tidak mengembalikan), Allah akan membinasakannya."
(HR. Bukhari)

3. Mencatat hutang dan menghadirkan saksi Allah SWT berfirman:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ
"Apabila kamu bermuamalah secara hutang piutang untuk waktu yang ditentukan, maka tulislah."
(QS. Al-Baqarah: 282)

4. Menepati waktu pembayaran Jika telah jatuh tempo dan mampu membayar, jangan menunda-nundanya. Rasulullah ﷺ bersabda:


مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ
"Menunda pembayaran hutang oleh orang yang mampu adalah suatu kezaliman."
(HR. Bukhari dan Muslim)

5. Tidak mengambil manfaat yang disyaratkan dari hutang Hutang tidak boleh menjadi sarana mengambil keuntungan yang termasuk riba.


6. Bersikap lembut ketika menagih Pemberi hutang boleh menagih haknya, tetapi hendaknya dengan cara yang baik dan tidak mempermalukan orang yang berhutang.


7. Memberi kelonggaran kepada yang benar-benar kesulitan Allah SWT berfirman:


وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيْسَرَةٍ
"Jika orang yang berhutang dalam kesulitan, maka berilah tenggang waktu sampai dia memperoleh kelapangan."
(QS. Al-Baqarah: 280)

8. Bersyukur dan berterima kasih kepada pemberi hutang Orang yang berhutang hendaknya mendoakan dan berterima kasih kepada orang yang telah membantunya.


9. Segera melunasi sebelum meninggal dunia Rasulullah ﷺ bersabda:


نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ
"Jiwa seorang mukmin tergantung karena hutangnya sampai hutangnya dilunasi."
(HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Macam macam hutang 

Dalam Islam, hutang tidak hanya berupa uang. Secara umum, hutang dapat dibagi menjadi beberapa macam:
Hutang kepada Allah
Kewajiban ibadah yang belum ditunaikan, seperti zakat yang wajib tetapi belum dibayar, nazar yang harus dipenuhi, atau kafarat yang belum dilaksanakan.
Hutang kepada sesama manusia (hutang piutang)
Meminjam uang, barang, atau menerima pinjaman yang wajib dikembalikan sesuai kesepakatan.
Hutang kepada negara
Kewajiban yang ditetapkan secara sah oleh negara, seperti pajak, denda, atau kewajiban lain yang wajib dipenuhi sesuai peraturan yang berlaku.
Hutang amanah
Amanah berupa harta, jabatan, atau tugas yang harus ditunaikan dengan jujur dan bertanggung jawab.
Hutang janji
Janji yang telah diucapkan kepada orang lain dan wajib dipenuhi selama tidak bertentangan dengan syariat.
Hutang budi (secara moral)
Kebaikan yang diterima dari orang lain. Ini bukan hutang yang wajib dibayar dengan uang, tetapi dianjurkan untuk dibalas dengan kebaikan atau doa.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Jiwa seorang mukmin masih tergantung karena hutangnya sampai hutang itu dilunasi." (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
Karena itu, setiap bentuk kewajiban yang menjadi tanggungan hendaknya segera ditunaikan sesuai kemampuan, dan jika mengalami kesulitan, hendaknya berkomunikasi dengan pihak yang berpiutang serta berusaha melunasinya.

Rabu, 22 Juli 2026

Sambutan Kepala KUA pada Kegiatan Rembuk Stunting di Nagari Binjai

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Yang saya hormati Bapak/Ibu Camat beserta jajaran, Kepala Puskesmas, Wali Nagari, para kader kesehatan, penyuluh, tokoh masyarakat, serta seluruh peserta yang hadir.

Pertama kami menyampaikan permohonan maaf dari bapak KUA, yang seyogyanya beliau hadir, tapi karena ada pelaksanaan akad nikah hari ini. maka saya diminta untuk menghadiri kegiatan kita ini

Dapat saya sampaikan pesan pesan beliau bahwa,

Stunting bukan hanya persoalan tinggi badan anak, tetapi menyangkut kualitas sumber daya manusia di masa depan. Karena itu, pencegahan stunting merupakan tanggung jawab kita bersama, bukan hanya tugas tenaga kesehatan, melainkan juga keluarga, tokoh masyarakat, dan lembaga keagamaan.

Sebagai bentuk wujudnya, KUA telah bekerjasama dengan puskesmas, dan juga Kapolsek dalam memberikan bimbingan kepada calon pengantin agar memahami pentingnya membangun keluarga sakinah, keluarga yang sehat, menjaga gizi ibu hamil, memberikan ASI eksklusif, menerapkan pola asuh yang baik, serta terhindar dari prilaku KDRT. 

Semua itu sejalan dengan ajaran Islam yang menganjurkan umatnya menjaga kesehatan dan mempersiapkan generasi yang kuat dan berkualitas.

Melalui kegiatan Rembuk Stunting ini, mari kita perkuat sinergi antarinstansi Ini, saling berbagi informasi, dan menyusun langkah nyata untuk menurunkan angka stunting di daerah kita. Semoga usaha yang kita lakukan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat kita.

Mungkin itu yang dapat kami sampaikan.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Kamis, 16 Juli 2026

Memanfaatkan Sisa Umur Sebelum Datang Penyesalan

1. Waktu adalah amanah. 

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara

(1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu,

(2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu,

(3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu,

(4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu

(5) Masa hidup sebelum mati 

2. Mengisi sisa  usia dengan ibadah dan amal saleh.

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ۝٩٧

Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, sungguh, Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang selalu mereka kerjakan.

3. Persiapkan diri menuju kampung akhirat.

Sebab kalau kita sudah mati, tidak ada yang kita bawa kecuali amal saleh, ibadah yang sudah kita kerjakan.

Nabi bersabda:

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ: أَهْلُهُ، وَمَالُهُ، وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ، وَيَبْقَى وَاحِدٌ؛ يَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ.

Ahluhu, Keluarga. 

Wamaluhu, sebagian kecil kekayaannya

Amaluhu..

Diantara ketiganya, itu 2 kembali pulang satu kekal bersama kita.

Rabu, 15 Juli 2026

Mengapa Rasidul kiblat Urgent?

Oleh: Zainal Masri 

Pentingnya rasidul kiblat sebab menghadap kiblat merupakan salah satu sarat sah salat

Jadi, yarat-syarat sah salat yang perlu dipenuhi sebelum melaksanakan salat:

1. Beragama Islam.

2. Berakal sehat (tidak gila).

3. Sudah masuk waktu salat.

4. Suci dari hadas kecil dan hadas besar (berwudu atau mandi wajib bila diperlukan).

5. Suci badan, pakaian, dan tempat salat dari najis.

6. Menutup aurat.

7. Menghadap kiblat bagi yang mampu.

Dalam konteks sosialisasi Rashdul Kiblat, syarat yang ditekankan adalah menghadap kiblat, sebagaimana firman Allah SWT:

"Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, hadapkanlah wajahmu ke arahnya." (QS. Al-Baqarah: 144)

Karena itu, kegiatan Rashdul Kiblat bertujuan membantu memastikan arah kiblat agar pelaksanaan salat semakin tepat dan sesuai dengan tuntunan syariat.

Saran:

Meluruskan arah kiblat bukan berarti menyalahkan pendahulu, tetapi merupakan ikhtiar kita untuk menyempurnakan ibadah sesuai dengan ilmu dan tuntunan syariat."

Senin, 13 Juli 2026

Hutang piutang


Berikut materi singkat tentang Adab Hutang Piutang dalam Islam.

Allah SWT membolehkan hutang piutang sebagai bentuk tolong-menolong, bukan untuk mengambil keuntungan dengan cara yang batil. Allah berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, maka hendaklah kamu menuliskannya."

(QS. Al-Baqarah: 282)

Beberapa adab hutang piutang yang perlu diperhatikan:

1. Berniat untuk melunasi hutang. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa siapa yang berhutang dengan niat membayar, Allah akan menolongnya untuk melunasinya.

2. Mencatat hutang dan menghadirkan saksi bila diperlukan, agar tidak terjadi perselisihan di kemudian hari.

3. Tidak menunda pembayaran jika mampu. Rasulullah ﷺ bersabda: "Penundaan pembayaran oleh orang yang mampu adalah suatu kezaliman." (HR. Bukhari dan Muslim).

4. Tidak mengambil atau memberikan tambahan yang disyaratkan dalam hutang, karena tambahan yang disyaratkan dalam akad pinjaman termasuk riba.

5. Bersikap lembut saat menagih maupun saat membayar. Islam mengajarkan akhlak yang baik kepada kedua belah pihak.

6. Memberi kelonggaran kepada orang yang benar-benar kesulitan. Allah SWT berfirman:

"Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tenggang waktu sampai dia memperoleh kelapangan. Dan jika kamu menyedekahkan (sebagian atau seluruh hutang itu), itu lebih baik bagimu."

(QS. Al-Baqarah: 280)

Penutup: Hutang adalah amanah yang harus ditunaikan. Pemberi hutang hendaknya ikhlas menolong, sedangkan yang berhutang wajib menjaga amanah dengan berusaha melunasi tepat waktu. Dengan menjaga adab hutang piutang, hubungan persaudaraan tetap terpelihara dan keberkahan muamalah akan diperoleh.

Minggu, 12 Juli 2026

Sistem akad memberikan modal usaha dengan syarat menjual kembali ke si pemberi modal, lalu si pemberi modal membeli dengan harga mengambil keuntungan 40% bagaimana pandangan anda?




Ada 3 ya?

1. Seseorang memberikan modal untuk usaha.

2. Dengan syarat hasil usaha atau barang harus dijual kembali kepadanya.

3. Lalu ia membeli barang tersebut dengan mengambil keuntungan tetap sebesar 40%.

Maka hukumnya bergantung pada bentuk akad yang sebenarnya.

Jika itu benar-benar akad jual beli, misalnya pemberi modal membeli barang dari Anda dengan harga yang disepakati, dan semua syarat jual beli terpenuhi (barang jelas, harga jelas, tidak ada penipuan), maka keuntungan 40% pada jual beli tidak memiliki batas tertentu dalam Islam. Selama kedua belah pihak rela dan tidak ada unsur zalim atau penipuan, hukumnya pada dasarnya boleh.

Namun, jika sebenarnya itu adalah pinjaman yang disamarkan, misalnya pemberi modal meminjamkan uang lalu mensyaratkan harus memperoleh tambahan keuntungan 40% dari uang yang dipinjamkan, maka mayoritas ulama memandang hal itu termasuk riba, karena setiap pinjaman yang memberikan manfaat yang disyaratkan kepada pemberi pinjaman termasuk riba.

Jadi, yang menjadi penentu bukan besar kecilnya keuntungan 40%, tetapi jenis akadnya:

Jual beli yang sah: boleh, meskipun untung 40%, jika dilakukan secara jujur dan atas dasar kerelaan.

Pinjaman yang menghasilkan keuntungan yang disyaratkan: tidak boleh karena termasuk riba.


Lalu Apakah menjual barang dengan harga 3 kali lipat dari modal termasuk riba?

Dalam Islam, riba berbeda dengan keuntungan jual beli. Allah berfirman:

"Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba."

(QS. Al-Baqarah: 275)

Pada dasarnya, Islam tidak menetapkan batas maksimal keuntungan dalam jual beli. Seorang pedagang boleh memperoleh keuntungan besar, termasuk hingga tiga kali lipat, selama:

Barang dan harganya jelas.

Pembeli mengetahui harga yang disepakati dan rela membelinya.

Tidak ada penipuan, pemaksaan, atau manipulasi.

Tidak memanfaatkan keadaan darurat pembeli secara zalim.

Namun, meskipun tidak termasuk riba, seorang Muslim dianjurkan untuk bersikap jujur, adil, dan tidak mengambil keuntungan secara berlebihan yang dapat merugikan atau mengeksploitasi orang lain.

Jadi, keuntungan tiga kali lipat bukan riba, tetapi tetap harus memperhatikan etika dan keadilan dalam berdagang sesuai syariat.


Sistem akad memberikan modal petani jagung dengan syarat menjual kembali jagung ke si pemberi modal, lalu si pemberi modal membeli jagung dengan harga mengambil keuntungan 40% bagaimana menurut Islam?
Dan bagaimana jika jagung nya tidak berhasil panen?

Kasus yang Anda sampaikan perlu dilihat dari akadnya, karena dalam fikih muamalah ada beberapa kemungkinan.

Jika akadnya seperti ini:

Pemberi modal memberikan dana kepada petani untuk menanam jagung.

Sebagai syarat, setelah panen petani harus menjual jagung kepada pemberi modal.

Pemberi modal kemudian membeli jagung dengan harga yang disepakati dan memperoleh keuntungan sekitar 40% saat menjualnya kembali.

Maka akad ini bisa dibolehkan jika:

Dana yang diberikan bukan pinjaman berbunga.

Harga pembelian jagung disepakati secara adil.

Tidak ada unsur penipuan, kezaliman, atau syarat yang merugikan salah satu pihak.

Namun, jika modal itu sebenarnya adalah pinjaman, lalu petani diwajibkan menjual hasilnya kepada pemberi modal dengan harga yang membuat pemberi modal pasti mendapat tambahan keuntungan dari pinjaman tersebut, maka banyak ulama memandang akad seperti ini perlu dihindari karena dapat menjadi cara terselubung untuk mengambil manfaat dari pinjaman (yang berpotensi mengandung riba).

Jika jagung tidak berhasil panen

Jawabannya bergantung pada jenis akad:

Jika akadnya pinjaman (qardh): Petani tetap berkewajiban mengembalikan pokok pinjaman. Islam sangat menganjurkan pemberi pinjaman memberi kelonggaran atau penundaan jika petani benar-benar kesulitan, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 280.

Jika akadnya kerja sama usaha (misalnya mudharabah atau muzara'ah sesuai ketentuannya): Kerugian usaha pada dasarnya ditanggung sesuai aturan akad. Dalam mudharabah, kerugian modal ditanggung pemilik modal selama tidak ada kelalaian atau kecurangan dari pengelola. Petani tidak menanggung kerugian modal kecuali jika ia lalai atau melanggar kesepakatan.

Jadi, untuk menentukan hukumnya secara tepat, saya perlu mengetahui satu hal penting:

Apakah modal itu wajib dikembalikan oleh petani meskipun gagal panen, atau hanya dibagi hasil jika panen berhasil? Ini akan menentukan apakah akad tersebut lebih dekat kepada pinjaman, jual beli, atau kerja sama usaha menurut fikih Islam.