لَيْسَ الْبِرَّ اَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةِ وَالْكِتٰبِ وَالنَّبِيّنَۚ وَاٰتَى الْمَالَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِۙ وَالسَّاۤىِٕلِيْنَ وَفىِ الرِّقَابِۚ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَۚ وَالْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عَاهَدُوْاۚ وَالصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَاۤءِ وَالضَّرَّاۤءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْاۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ
Kebajikan itu bukanlah mengahadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.
Kaumuslimin jamaah ..
Untuk memahaminya khatib ingin ingin menjelaskan sebab sebab turunnya ayat ini :
Ayat ini berkaitan tentang pengalihan arah kiblat, awalnya kaumuslimin mengarah ke Baitul maqdis lalu nabi berkeinginan, maka allah mengarahkan kiblat ke mekah. Setelah turunnya ayat ini maka orang orang yahudi, mengecoh dengan berkata “apa ini?” mengarah ke barat sekali mengarah ke timur sekali, ini bukan ajaran yang benar !
Adapun kaumuslimin, lain lagi komentarnya, sudah saangat gembira karena sudah mengarah ke kabah, seakan akan tidak ada lagi yang lebih penting selain mengarah ke kabah! Kalau kita di sini, mengara ke barat ya?
Maka turunlah ayat ini menegur kedua belah pihak, menegur umat islam, bahkan kita dapat juga menjelaskan, menegur sebagian kita sekarang juga yang seakan akan beranggapan kalau sudah menghadap ke kiblat dalam arti kalau sudah salat, itu sudah baik atau sudah beres, ...bukan itu yang dimaksud dengan kebajikan, atau bukan seluruh kebajikan.
Allah menjelaskan, yang baik itu, atau kebajikan yang sempurna itu bukan sekedar menghadapkan wajah ketimur dan ke barat
وَلٰكِنَّ الْبِرَّ
Kebajikan itu adalah:
Sebelum kita lanjutkan ternyata Alquran kalau berbicara tentang kebajikan dia tidak hanya ingin dalam bentuk konsep tetapi dia ingin kita wujudkan dalam perbuatan kita, sehingga dia jawab:
الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ
Kebajikan itu harus dilakukan oleh orang yang beriman kepada Allah.
Bapak kaumuslimin..
Jadi kita tidak dapat langsung berkata dia sudah baik, harus ada yang membuktikan kebaikan itu dalam bentuk wujud amalan dalam kehidupan.
Berdasarkan ayat ini maka kita dapat mengelompokan kebajikan kepada 3 kelompok:
1. Kebajikan dalam bidang aqidah
Pertama: Kita tidak dapat dinamai telah melaksannakan kebajikan menurut alquran, kecuali kalau kita percaya kepada Allah, itu sebabnya dia katakan man amana billah. Percaya kepada Allah itu maksudnya bagaimana? Kita percaya bahwa ada pencipta alam raya ini, pengaturnya yang maha esa, esa dalam zat sifat dan perbuatannya dan harus esa ketika beribadah kepadanya.
Kedua percaya kepada hari akhir, hidup bukan hari ini saja. Kenapa harus ada hari akhir? Karena di dunia tidak ada barangkali keadilan sempurna, ada orang baik belum dapat ganjaran kebajikan, ada orang jahat lalu justru bersenang-senang. Maka perlu suatu hari dimana ada pembalasan. Kita harus percaya pada hari itu.
Kemudian walmala ikah harus percaya pada malaikat
Kemudian walkitab, harus pecaya bahwa allah menurunkan pesan pesan dan petunjuk2 nya melalui kitab2 Nya (taurat, zabur injil, suhuf ibrahim, dan Alquran)
Yang terakhir wannabiyyin, percaya kepada nabi dan rasulNya, minimal 25 nabi dan rasul.
Jadi kalau kita tidak percaya kita belum bisa di sebut orang baik, ini kebajikan dalam bidang aqidah
2. kita lihat yang kedua dalam bidang Syariah
وَاٰتَى الْمَالَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِۙ وَالسَّاۤىِٕلِيْنَ وَفىِ الرِّقَابِۚ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ
memberikan harta berdasarkan kesenangannya, kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat.
Kalau kita rujuk ayat ini, ternyata salat disebut terakhir, jadi ada hal yang penting kalau kita mau memahami apa itu kebajikan, apa itu . وَاٰتَى الْمَالَ عَلٰى حُبِّه. Memberikan harta, . عَلٰى حُبِّه. Berdasar kesenangannya, siapa yang diberi? kepada kerabatnya, jadi prioritaskan kerabat kita dulu, kita jangan perhatikan dulu orang lain, bangsa lain padahal kita punya keluarga, baru setelah itu orang lain. anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat.
3. yang terakhir kebajikan dalam bidang Akhlak
وَالْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عَاهَدُوْا
Sabar, dan dia menepati janji apabila berjanji.
Mudah mudahan kita dapat memahami Alquran tentang kebajikan ini dan mengamalkan dalam kehidupan kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar