1. Tidak menghadap atau membelakangi kiblat
Posisi duduk di WC sebaiknya tidak menghadap atau membelakangi Ka'bah.
Ini berlaku terutama jika tempatnya terbuka.
2. Jika di dalam bangunan (tertutup)
Para ulama berbeda pendapat:
1. Sebagian membolehkan, karena ada penghalang (dinding).
2. Sebagian tetap memakruhkan, sebagai bentuk kehati-hatian.
Pendapat yang lebih aman: Tetap dihindari menghadap dan membelakangi kiblat, meskipun di dalam ruangan.
Praktik terbaik saat membangun WC masjid
Agar sesuai adab Islam:
1. Posisi kloset miring dari arah kiblat (tidak lurus depan/belakang)
2. Idealnya sekitar 90 derajat (menyamping) dari arah kiblat.
3. Perhatikan arah kiblat setempat (di Indonesia umumnya ke barat laut).
Dalil:
Dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu:
إِذَا أَتَيْتُمُ الْغَائِطَ فَلَا تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ وَلَا تَسْتَدْبِرُوهَا، وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا
“Apabila kalian datang ke tempat buang hajat, maka janganlah menghadap kiblat dan jangan pula membelakanginya, tetapi menghadaplah ke arah timur atau barat.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Kiblat yang dimaksud adalah arah Ka'bah.
🕌 Hadits 2
Dari Abu Ayyub juga, Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ بِغَائِطٍ وَلَا بَوْلٍ وَلَا تَسْتَدْبِرُوهَا
Terjemahan:
“Janganlah kalian menghadap kiblat ketika buang air besar maupun kecil, dan jangan pula membelakanginya.”
Berikut beberapa ulama dan mazhab yang berpendapat membolehkan menghadap atau membelakangi kiblat saat buang hajat jika di dalam bangunan (tertutup):
🕌 1. Mazhab Mazhab Syafi'i
Pendapat mu‘tamad: boleh dalam bangunan, haram jika di tempat terbuka.
Dalilnya: hadits dari Abdullah bin Umar bahwa beliau melihat Nabi ﷺ buang hajat di rumah menghadap arah tertentu (tidak persis seperti larangan di tempat terbuka).
Dikuatkan oleh ulama seperti Imam An-Nawawi.
🕌 2. Mazhab Mazhab Hanafi
Membolehkan jika ada penghalang (dinding, bangunan).
Jika di tempat terbuka: tetap tidak boleh.
🕌 3. Mazhab Mazhab Hanbali (sebagian riwayat)
Ada riwayat yang membolehkan dalam bangunan.
Namun, tetap dianjurkan untuk menghindari demi kehati-hatian.
📚 Dalil yang menjadi dasar kebolehan
Hadits dari Abdullah bin Umar:
رَقِيتُ يَوْمًا عَلَى بَيْتِ حَفْصَةَ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقْضِي حَاجَتَهُ مُسْتَدْبِرَ الْقِبْلَةِ مُسْتَقْبِلَ الشَّامِ
Artinya:
“Suatu hari aku naik ke rumah Hafshah, lalu aku melihat Nabi ﷺ buang hajat dengan membelakangi kiblat dan menghadap Syam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
👉 Kiblat adalah arah Ka'bah.

