Selamat datang di blog Zainal Masri- semoga ada manfaatnya dan bernilai Ibadah disisi Nya serta menjadi cemety buat generasi yang akan datang.Amiin ya Rabbal 'Alamiin. Blog ini berisi tentang serba-serbi my prestasi-prestasi yang pernah diraih,, harapan: galilah potensi kita menjadi prestasi” jangan pernah berhenti melakukan aktifitas-aktifitas positif untuk mengukir prestasi ..Allah menciptakan manusia dengan sempurna, Allah memberi banyak potensi/kemampuan. Tugas kita adalah: mencari-menggali-menemukan-menmgembangkan dan meningkatkan kemampuan diri tersebut. Moment adalah peluang yang diberikan Allah kepada kita untuk maju, Allah tidak pernah memberi amanah/beban yang kita tidak mampu. Sukses/takdir baik diberikan kepada mereka yang optimis. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat di antara manusia lainnya. Yakinlah Allah tidak akan pernah meninggalkan hamba-nya. Doa adalah senjata kita yang paling Ampun. Usaha-Ikhtiar-Do,a. Kalau sabar menunggu masa, Insyaallah..��☕☕☕

Rabu, 27 Mei 2026

Apakah Sabar ada Batasnya?

Sabar memang memiliki batas dalam kemampuan manusia, karena manusia punya rasa lelah, sedih, dan tekanan. Namun dalam ajaran Islam, sabar bukan berarti diam tanpa usaha atau memendam semuanya sampai hancur. Sabar adalah kemampuan menahan diri agar tetap berada di jalan yang benar ketika menghadapi ujian.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)

Ada beberapa bentuk sabar:

*Sabar dalam taat kepada Allah

*Sabar meninggalkan maksiat

*Sabar menghadapi musibah

Jadi, sabar bukan berarti tidak boleh menangis, mengeluh kepada Allah, atau mencari bantuan. Bahkan para nabi pun pernah sedih dan mengadu kepada Allah. Nabi Ya‘qub berkata:

“Sesungguhnya aku hanya mengadukan kesusahan dan kesedihanku kepada Allah.” (QS. Yusuf: 86)

Yang tidak boleh adalah putus asa, menyalahkan Allah, atau melakukan hal yang dilarang karena tidak tahan menghadapi ujian.

Maka boleh saja seseorang merasa “sudah sampai batas”, lalu beristirahat, meminta bantuan, bercerita kepada orang terpercaya, atau memperbanyak doa. Itu bukan berarti gagal sabar. Justru bagian dari ikhtiar menjaga diri.

Doa agar diberi kesabaran:

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا

“Ya Rabb kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan teguhkan langkah kami.” (QS. Al-Baqarah: 250)

Kamis, 21 Mei 2026

Larangan berbicara tanpa ilmu


مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Artinya:

“Barang siapa berkata tentang Al-Qur’an tanpa ilmu, maka hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka.”

(HR. Jami' at-Tirmidzi)

Atsar dari Abdullah bin Mas'ud:

مَنْ عَلِمَ شَيْئًا فَلْيَقُلْ بِهِ، وَمَنْ لَمْ يَعْلَمْ فَلْيَقُلِ: اللَّهُ أَعْلَمُ

Artinya:“Barang siapa mengetahui sesuatu maka hendaklah ia berkata dengannya. Dan barang siapa tidak mengetahui maka hendaklah ia berkata: ‘Allah lebih mengetahui.’”

Disebutkan pula bahwa Imam Malik pernah ditanya puluhan pertanyaan, dan banyak di antaranya beliau jawab:

“Laa adri” (Saya tidak tahu).

Ini menunjukkan bahwa mengatakan “tidak tahu” bukan aib, justru tanda amanah ilmiah dan ketakwaan.

Bahkan Allah berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌۗ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا ۝٣٦

Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kau ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggung jawabannya (QS. Al-Isra’: 36)

Jadi, ketika ditanya lalu memang belum tahu jawabannya, sikap yang benar adalah berkata:

“Saya belum tahu.”

“Allahu a‘lam.”

“Saya cari dulu dalilnya.”

Itu lebih baik daripada menjawab tanpa ilmu.

Sabtu, 16 Mei 2026

Masih terkait hutang piutang

Pokok pembahasan: Bagaimana pandangan agama bagi orang yang berhutang ke saya lalu saya sudah sering minta, tapi tidak juga dibayar bayar nya, kemudian saya ikhlas kan lagi?

Dalam Islam, memaafkan dan mengikhlaskan hutang termasuk amalan yang sangat besar pahalanya, apalagi jika orang yang berhutang memang sedang kesulitan.

Allah berfirman dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 280:

وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيْسَرَةٍ ۚ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya:

“Jika orang yang berhutang itu dalam kesulitan, maka berilah tenggang waktu sampai dia lapang. Dan jika kamu menyedekahkan (sebagian atau seluruh hutang itu), maka itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

Ada juga hadits dari Abu Hurairah bahwa Nabi Muhammad bersabda:

“Dahulu ada seorang pedagang yang memberi pinjaman kepada manusia. Jika ia melihat orang yang kesulitan membayar, ia berkata kepada pelayannya:

‘Maafkan saja dia, mudah-mudahan Allah memaafkan kita.’

Maka Allah pun memaafkannya.”

(HR. Shahih Bukhari dan Shahih Muslim)

Jadi balasannya sangat besar:

Mendapat pahala sedekah.

Mendapat rahmat dan ampunan Allah.

Menjadi sebab dipermudah urusan di akhirat.

Tetapi ada perbedaan penting:

Jika orang itu benar-benar susah, memaafkannya sangat dianjurkan.

Jika dia sebenarnya mampu tetapi sengaja menunda-nunda pembayaran, maka itu termasuk kezaliman. Nabi ﷺ bersabda:

“Menunda pembayaran hutang bagi orang mampu adalah suatu kezaliman. (HR. Shahih Bukhari)

Walaupun begitu, bila Anda memilih mengikhlaskan karena mengharap ridha Allah, itu termasuk akhlak mulia dan insya Allah menjadi simpanan pahala yang besar di sisi Allah.

HUTANG PIUTANG

 Pena/penyusun: Zainal Masri



QS. Al-Baqarah 282
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ ۚ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ ۚ وَلَا يَأْبَ كَاتِبٌ أَنْ يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللَّهُ ۚ فَلْيَكْتُبْ وَلْيُمْلِلِ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلَا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئًا ...
Artinya :
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu melakukan hutang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar...”
***
Deskripsi:
Tahukah kita bahwa ayat yang terpanjang dalam Al-Qur'an adalah ayat yang berkaitan dengan hutang piutang?

Sungguh agama kita mengatur tentang hal itu. Jangan berhutang kalau anda duga anda tidak mampu untuk membayar nya.

Saudara, dalam suatu hadits..

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَرَأَيْتَ إِنْ قُتِلْتُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ تُكَفَّرُ عَنِّي خَطَايَايَ؟

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «نَعَمْ، إِنْ قُتِلْتَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأَنْتَ صَابِرٌ مُحْتَسِبٌ، مُقْبِلٌ غَيْرُ مُدْبِرٍ»

ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «كَيْفَ قُلْتَ؟»

قَالَ: أَرَأَيْتَ إِنْ قُتِلْتُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَتُكَفَّرُ عَنِّي خَطَايَايَ؟

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «نَعَمْ، وَأَنْتَ صَابِرٌ مُحْتَسِبٌ، مُقْبِلٌ غَيْرُ مُدْبِرٍ، إِلَّا الدَّيْنَ، فَإِنَّ جِبْرِيلَ قَالَ لِي ذَلِكَ»..

Ada seorang lelaki pernah bertanya kepada nabi, wahai nabi seandainya saya gugur di jalan Allah, apakah Allah mengampuni dosa dosa saya?

Nabi menjawab ya, tapi sejenak nabi kemudian bertanya, bagaimana pertanyaan mu tadi?

Sang penanya mengulangi, nabi menjawab ya, kalau kamu bersabar, kalau Kamu berjuang demi karena Allah, kecuali hutang

Karena itu nabi menganjurka, bahkan beliau enggan salat. Bagi seseorang yang belum terbayar hutang nya atau tidak ada yang menanggung siapa yang membayar nya.

Nabi juga mengingatkan:

مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ، وَمَنْ أَخَذَهَا يُرِيدُ إِتْلَافَهَعَنْا أَتْلَفَهُ اللَّهُ

Siapa yang berhutang dengan niat ingin membayar Allah akan membantunya, dan siapa yang berhutang dengan niat enggan membayarnya, maka apa yang diperoleh nya akan binasa dan membinasakannya

Itu tuntunan agama kita.


Kamis, 14 Mei 2026

Amalan-amalan Yang Bisa Membela kita Dari Azab Kubur

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال
قال رسول الله ﷺ:
يُؤْتَى الرَّجُلُ فِي قَبْرِهِ، فَإِذَا أُتِيَ مِنْ قِبَلِ رَأْسِهِ دَفَعَتْهُ تِلَاوَةُ الْقُرْآنِ، وَإِذَا أُتِيَ مِنْ قِبَلِ يَدَيْهِ دَفَعَتْهُ الصَّدَقَةُ، وَإِذَا أُتِيَ مِنْ قِبَلِ رِجْلَيْهِ دَفَعَهُ مَشْيُهُ إِلَى الْمَسَاجِدِ.
(رواه الطبراني في الأوسط عن أبي هريرة وحسنه الألباني)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, bersabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam: 

Jika didatangkan azab kepada seseorang saat dia di dalam kuburnya, maka;

-jika azab itu datang ke arah kepalanya, maka bacaan Al-Qurannya akan menolak dan melindunginya.

jika azab itu datang ke arah kedua tangannya,  maka sedekahnya akan menolak dan melindunginya.

Jika azab itu datang ke arah kedua kakinya, maka langkah-langkahnya ke masjid akan menolak dan melindunginya.

3 Amalan yang akan menolong kita dari azab kubur

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال
قال رسول الله ﷺ:
يُؤْتَى الرَّجُلُ فِي قَبْرِهِ، فَإِذَا أُتِيَ مِنْ قِبَلِ رَأْسِهِ دَفَعَتْهُ تِلَاوَةُ الْقُرْآنِ، وَإِذَا أُتِيَ مِنْ قِبَلِ يَدَيْهِ دَفَعَتْهُ الصَّدَقَةُ، وَإِذَا أُتِيَ مِنْ قِبَلِ رِجْلَيْهِ دَفَعَهُ مَشْيُهُ إِلَى الْمَسَاجِدِ.
(رواه الطبراني في الأوسط عن أبي هريرة وحسنه الألباني)

Berdasarkan hadits yang kita bacakan tadi, maka dapat kita hidangkan bapak bapak kaumuslimin, ada 3 amalan yang akan menolong kita dari azab kubur. 

Azab kubur bapak bapak adalah sesuatu yang pasti kita lalui, tapi tidak nampak. Kalau diperlihatkan Allah lah azab kubur itu bapak kaumuslimin, barang kali masjid akan selalu berlimpah ruah. Tidak saja hari Jumat dan hari raya, tapi Lima waktu sehari semalam akan penuh. Karena takut akan azab kubur.

Tapi karena tidak nampak, orang ada yang yakin dan ada yang tidak yakin. 

Jamaah Jumat 

Allah SWT berfirman : Aluminum 100

وَمِن وَرَآئِهِم بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

Dihadapan kamu telah menunggu alam barzah, itulah kuburan. Kalau sekarang Kita bapak bapak di atas bumi, Kuburan itu di dalam bumi. 

Tapi mungkin, nanti, besok, lusa, Minggu depan tahun depan kita masuk ke sana. 

Khatib yakin bapak bapak dan kita yang hadir ini sudah pernah mendekati kubur bahkan berdiri di pinggir kubur. Adakah hati berkata "ya Allah kapan saya masuk kedalam?"

Kalau ditanya apakah sudah siap atau belum?

Siap tidak siap kita pasti akan masuk ke dalam. 

Kuburan,  sudah lah sempit, gelapnya luar biasa, sendirian disitu! Sampai kapan? Sampai hari kiamat. Andaikan kita disiksa di azab, sampai kapan? Itu sampai hari kiamat. 

Mudah mudahan kita ini terhindar dari azab kubur bapak bapak kaumuslimin. Amin..

Tapi perlu kita renungkan bapak bapak kaumuslimin bahwa itu rumah masa depan, 

Rumah yang kita tempati hari ini boleh jadi bentuk dan nilainya nya bervariasi bapak bapak kaumuslimin, ada yang mahal ada yang sederhana, mati kita kita tinggalkan! Kita pindah ke rumah masa depan. 

Harapan kita hendaknya rumah masa depan kita lebih indah, lebih mewah ketimbang rumah kita yang sekarang.

Sudah lah lapang, mewah bercahaya lagi!

Itu tergantung perjuangan kita sekarang, 

Agar lapang, agar ramai agar bercahaya kuburan kita, 3 hal jangan sampai kita abaikan:

Iman yang kuat Aqidah yang kokoh, kemudian ilmu agama yang mantap, kemudian terakhir amal ibadah yang banyak. 

Kalau yang tiga ini sudah oke, bapak kaumuslimin, maka kuburan kita menjadi raudatammirriyadil Jannah, menjadi taman dari taman-taman surga.

Tapi sungguh pun demikian bapak kaumuslimin, dalam hadits lain disampaikan oleh rasul:

يُؤْتَى الرَّجُلُ فِي قَبْرِهِ

Seseorang kata nabi akan di datangi oleh malaikat dan akan di azab dalam kubur, seseorang itu mungkin dia penguasa, mungkin dia pejabat, konglomerat, org biasa macam macam.

1. Ketika malaikat datang dari arah kepala ingin melaksanakan tugas nya mengazab, tapi tidak bisa ia laksanakan. Walaupun sudah ada order dari Allah tapi tidak bisa ia lakukan.

Kenapa karena orang itu dibela oleh amalnya, yaitu Tilawatil Qur'an. Oleh karenanya mari kita luang kan waktu sedikit setiap hari untuk membaca Alquran, bahkan bukan hanya membaca tapi kita usahakan menghafalnya walaupun sedikit, kita usahakan memahami terjemahan dan isinya.

Rahasianya apa?

Andaikan nanti mata kita tidak lagi bisa berfungsi, hafalan masih bisa kita baca 

2. Apabila malaikat datang dari tengah depan belakang kiri dan kanan, mereka tidak dapat melaksanakan tugas karena dibela oleh nilai sadaqah kita. Jadi sadaqah kita, wakaf kita, infak dan zakat kita itulah yang akan membela kita nanti di akhirat bapak kaumuslimin. 

Makanya didalam ayat dikatakan: QS. Almunafiqun 10

فَيَقُوْلَ رَبِّ لَوْلَآ اَخَّرْتَنِيْٓ اِلٰٓى اَجَلٍ قَرِيْبٍۚ فَاَصَّدَّقَ وَاَكُنْ مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ ۝١

Kata Allah infakkan lah hartamu sebelum mati selagi hidup, walaupun sedikit. 2000, 5000, 10000, 50000, bahkan 100. Apalagi sampai jutaan. Itu membela kita di alam kubur.

Kalau tidak kita akan menyesal dan menangis nanti kepada Allah,, ya Allah andai kan aku diberi hidup walaupun sesaat, aku akan berinfaq, berwakaf dan aku beramal saleh 

Tapi apa boleh buat sesal dahulu pendapatan sesal kemudian tiada berguna.

3. Apabila malaikat datang dari arah kaki, wah ngeri bapak kaumuslimin.

Ia dibela oleh amalnya karena sering melangkah ke masjid, berangkat dari rumah walaupun dengan motor dengan mobil dengan berjalan kaki, itu membela kita di dalam kubur bapak kaumuslimin.

At-Taubah ayat 18

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan tidak takut selain kepada Allah. Maka mereka itulah yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Kajian Fiqih

 


1. Waktu salat Duha sampai jam berapa?

Waktu salat Dhuha dimulai setelah matahari terbit dan naik sekitar satu tombak (kurang lebih 15–20 menit setelah terbit matahari) sampai sebelum masuk waktu Zuhur.

Batas akhirnya adalah sebelum matahari tepat di atas kepala atau sekitar 10–15 menit sebelum azan Zuhur.

Di Padang hari ini, jika Zuhur sekitar pukul 12-an lebih, maka batas aman salat Dhuha biasanya sekitar pukul 11.45–11.50 WIB.

Waktu yang paling utama untuk Dhuha adalah ketika matahari mulai terasa panas, sekitar pukul 08.00–10.00 pagi.

Hadits Nabi ﷺ:

“Salat orang-orang yang kembali kepada Allah adalah ketika anak unta mulai kepanasan.”

(HR. Muslim)

2. Apakah ada ayat khusus yang harus dibaca dalam salat duha?

Tidak ada ayat atau surat tertentu yang wajib dibaca Rasulullah ﷺ dalam salat Dhuha. Namun, ada beberapa riwayat dan anjuran ulama tentang surat yang sering dibaca.

Yang paling masyhur:

Rakaat pertama: Surat Surah Ash-Shams

Rakaat kedua: Surat Surah Ad-Duha

Ada juga riwayat lain:

Rakaat pertama: Surah Al-Kafirun

Rakaat kedua: Surah Al-Ikhlas

Namun para ulama menjelaskan bahwa riwayat-riwayat tersebut tidak sampai menunjukkan kewajiban. Jadi, salat Dhuha sah membaca surat apa saja yang mudah dihafal.

Kamis, 07 Mei 2026

Tareqad


Menuntut Ilmu dan Tarekat

Tidak semua orang yang menuntut ilmu otomatis masuk tarekat. Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim, sedangkan tarekat adalah jalan pembinaan ruhani tertentu yang biasanya dibimbing oleh seorang guru/mursyid untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui zikir, adab, dan latihan spiritual.

Secara umum:

Menuntut ilmu fokus pada memahami ajaran Islam: akidah, fikih, tafsir, hadis, akhlak, dan sebagainya.

Tarekat lebih khusus pada pembinaan hati dan amalan ruhani secara teratur dalam suatu metode tertentu.

Namun, keduanya bisa saling berkaitan. Banyak ulama mengatakan:

Syariat tanpa hakikat bisa kering, dan hakikat tanpa syariat bisa menyimpang.

Artinya, ilmu agama tetap menjadi dasar utama. Orang yang belajar agama dengan sungguh-sungguh, memperbaiki akhlak, menjaga ibadah, dan membersihkan hati sebenarnya sudah menempuh jalan menuju kedekatan kepada Allah, walaupun belum tentu bergabung dalam tarekat tertentu.

Ada juga ulama yang memaknai “tarekat” secara umum sebagai:

Jalan menuju Allah melalui ketaatan dan penyucian jiwa.

Dalam makna ini, orang yang menuntut ilmu dengan niat ikhlas dan mengamalkan ilmunya bisa disebut sedang menempuh “jalan” menuju Allah, tetapi belum tentu menjadi anggota tarekat tertentu seperti Tarekat Qadiriyah, Tarekat Naqsyabandiyah, atau lainnya.

Dalil tentang pentingnya menuntut ilmu:

“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.”

(HR. Muslim)

Jadi, inti utamanya:

Menuntut ilmu = kewajiban dan fondasi.

Masuk tarekat = pilihan metode pembinaan ruhani tertentu.

Orang berilmu belum tentu pengikut tarekat.

Tetapi tarekat yang benar harus dibangun di atas ilmu dan syariat.




Rabu, 06 Mei 2026

Penyuluh Agama Sampaikan Materi tentang Hidayah dalam Islam kepada Jamaah Musalla Almuhklisin

Malampah _Dalam upaya meningkatkan pemahaman keagamaan masyarakat, penyuluh agama Kecamatan Tigo Nagari, Zainal Masri, kembali melaksanakan diskusi ringan ringan dengan jamaah Musalla Almuhklisin Pasar Malampah. Dengan metode dialog interaktif dan saling memberikan pendapat antar jamaah, Pada kesempatan tersebut, jamaah mendapatkan materi tentang hidayah dalam Islam serta cara meraih petunjuk Allah SWT dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam penyampaiannya, Zainal  menjelaskan bahwa hidayah merupakan nikmat besar dari Allah SWT yang harus disyukuri dan dijaga. Hidayah dapat diraih melalui ilmu, keimanan, menjaga ibadah, memperbanyak doa, membaca Al-Qur’an, serta bergaul dengan lingkungan yang baik.

Jamaah juga diingatkan agar tidak mudah merasa paling baik, karena hati kita manusia berada dalam kekuasaan Allah SWT. Oleh sebab itu, setiap Muslim dianjurkan untuk senantiasa memohon keteguhan iman dan petunjuk kepada Allah, sebagaimana doa yang selalu dibaca dalam Surah Al-Fatihah, “Ihdinash shirathal mustaqim” yang berarti “Tunjukilah kami jalan yang lurus.”

Selain itu, disampaikannya pula bahwa salat menjadi salah satu jalan utama untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memperoleh hidayah. Jamaah diajak untuk menjaga salat lima waktu dan memperbaiki akhlak dimanapun berada.

Kegiatan berjalan dengan baik, jamaah antusias mengikuti. Penyuluh berharap jamaah bertambah pengetahuannya, meningkatkan keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT, taat kita beribadah.

Ngopi pagi ini


Coretan-coretan kopi dengan jamaah pagi ini :

1. Wudu dan Salat mengugurkan dosa (Rujukan di hadits dalam Fadillah amal) Cukup jelas!

2. Hidayah

Apakah orang yang tidak salat tidak mendapat hidayah??

Jawaban:

Salat adalah salah satu pintu terbesar datangnya hidayah. Orang yang meninggalkan salat berarti ia sedang menjauh dari salah satu sebab utama mendapatkan petunjuk Allah. Namun, bukan berarti seseorang yang belum salat pasti tidak akan mendapat hidayah sama sekali. Banyak orang justru mendapat hidayah lalu kemudian mulai menjaga salatnya.

Allah berfirman:

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ

“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”

(QS. Al-‘Ankabut: 45)

Dan tentang doa meminta hidayah, setiap Muslim membacanya dalam salat:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.”

(QS. Al-Fatihah: 6)

Ini menunjukkan bahwa salat sangat berkaitan dengan hidayah.

Tetapi hidayah tetap milik Allah. Ada orang yang dahulu lalai salat, lalu Allah bukakan hatinya untuk bertobat dan menjadi rajin beribadah. Karena itu, sikap yang baik adalah:

*jangan meremehkan meninggalkan salat,

*jangan putus asa dari rahmat Allah,

*Terus menasihati dengan lembut dan mendoakan kebaikan.

Dalam banyak hadits, meninggalkan salat diperingatkan dengan sangat keras, sehingga seorang Muslim hendaknya berusaha menjaga salat lima waktu sebaik mungkin.

3. Apakah berdosa orang yang sudah diberi kemampuan untuk berkurban tapi tidak melaksanakan qurban?

Jawaban:

Mayoritas ulama memandang kurban pada hari raya Idul adha bagi yang mampu hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan). Jadi, orang yang mampu tetapi tidak berkurban memang kehilangan pahala dan keutamaan besar, namun menurut pendapat mayoritas ulama tidak sampai berdosa.

Namun, sebagian ulama seperti mazhab Hanafi berpendapat bahwa kurban bagi orang yang mampu hukumnya wajib, sehingga meninggalkannya tanpa alasan dianggap berdosa.

Dalil yang sering dijadikan peringatan adalah hadits:

مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا

“Barang siapa memiliki kelapangan (mampu) tetapi tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat salat kami.”

(HR. Ibnu Majah)

Hadits ini dipahami oleh sebagian ulama sebagai penekanan kuat agar orang mampu tidak meninggalkan kurban.

Keutamaan kurban juga sangat besar karena termasuk syiar Islam dan bentuk ketakwaan kepada Allah:

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ

“Daging dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”

(QS. Al-Hajj: 37)

Intinya: apakah berdosa atau tidak, Ulama terdapat perbedaan pendapat ulama.

Menurut mayoritas ulama: tidak berdosa, tetapi sangat rugi jika mampu namun meninggalkan kurban.

Menurut sebagian ulama: bisa berdosa jika sengaja meninggalkannya padahal mampu.

Karena itu, bila Allah memberi kelapangan rezeki, sangat dianjurkan untuk berkurban sebagai bentuk syukur dan ibadah.

Selasa, 05 Mei 2026

“Ujian Sakit: Menguji Kasih Sayang dan Kesabaran Keluarga”

Ujian keluarga ketika sakit adalah salah satu bentuk cobaan yang sangat nyata dalam kehidupan. Dalam Islam, sakit tidak hanya dilihat sebagai penderitaan fisik, tapi juga sebagai sarana pendidikan iman—baik bagi yang sakit maupun keluarganya.

1. Ujian kesabaran dan keikhlasan

Saat ada anggota keluarga sakit, semua diuji: yang sakit diuji kesabarannya, yang merawat diuji keikhlasan dan ketelatenannya. Tidak semua orang kuat menghadapi kondisi ini dalam waktu lama.

2. Ujian perhatian dan kasih sayang

Sakit sering membuka hakikat hubungan keluarga. Ada yang semakin dekat, ada juga yang justru menjauh. Di sinilah terlihat sejauh mana kasih sayang itu benar-benar hidup dalam keluarga. Ada keluarga yang boleh jadi sayang ketika sehat, begitu sakit menimpa sayang dan perhatian nya berkurang bahkan hilang. Atau sebaliknya.

3. Ujian ekonomi dan tanggung jawab

Biaya pengobatan, waktu yang tersita, dan tenaga yang terkuras bisa menjadi beban tersendiri. Ini menguji tanggung jawab dan kerja sama dalam keluarga.

4. Penghapus dosa dan pengangkat derajat

Sakit bisa menjadi sebab dihapusnya dosa. Nabi ﷺ bersabda:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ وَأَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةُ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kesedihan, bahkan sampai duri yang menusuknya, kecuali Allah menghapus sebagian dosanya karenanya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

5. Pengingat untuk kembali kepada Allah

Seringkali saat sehat, manusia lalai. Namun ketika sakit datang, hati menjadi lebih lembut, doa lebih sungguh-sungguh, dan ketergantungan kepada Allah semakin terasa. Allah yang memberikan kesehatan.

Sikap yang dianjurkan:

1. Bersabar dan tetap berhusnuzan kepada Allah

2. Saling menguatkan dalam keluarga

3. Memperbanyak doa dan dzikir

4. Berikhtiar dengan pengobatan yang halal

5. Tidak mengeluh berlebihan kepada manusia

Inti Sari:

Sakit memang melemahkan tubuh, tapi bisa menguatkan jiwa. Jika dihadapi dengan iman, ujian ini bukan sekadar penderitaan—melainkan jalan menuju kebaikan yang lebih besar.

Senin, 04 Mei 2026

Diskusi bersama Jamaah Musalla Almuhklisin tentang arah Closed dan tempat bersuci WC dalam pembangunan masjid

 


1. Tidak menghadap atau membelakangi kiblat

Posisi duduk di WC sebaiknya tidak menghadap atau membelakangi Ka'bah.

Ini berlaku terutama jika tempatnya terbuka.

2. Jika di dalam bangunan (tertutup)

Para ulama berbeda pendapat:

1. Sebagian membolehkan, karena ada penghalang (dinding).

2. Sebagian tetap memakruhkan, sebagai bentuk kehati-hatian.

Pendapat yang lebih aman: Tetap dihindari menghadap dan membelakangi kiblat, meskipun di dalam ruangan.

Praktik terbaik saat membangun WC masjid

Agar sesuai adab Islam:

1. Posisi kloset miring dari arah kiblat (tidak lurus depan/belakang)

2. Idealnya sekitar 90 derajat (menyamping) dari arah kiblat.

3. Perhatikan arah kiblat setempat (di Indonesia umumnya ke barat laut).

Dalil:

Dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu:

إِذَا أَتَيْتُمُ الْغَائِطَ فَلَا تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ وَلَا تَسْتَدْبِرُوهَا، وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا

“Apabila kalian datang ke tempat buang hajat, maka janganlah menghadap kiblat dan jangan pula membelakanginya, tetapi menghadaplah ke arah timur atau barat.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Kiblat yang dimaksud adalah arah Ka'bah.

🕌 Hadits 2

Dari Abu Ayyub juga, Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ بِغَائِطٍ وَلَا بَوْلٍ وَلَا تَسْتَدْبِرُوهَا

Terjemahan:

“Janganlah kalian menghadap kiblat ketika buang air besar maupun kecil, dan jangan pula membelakanginya.”

Berikut beberapa ulama dan mazhab yang berpendapat membolehkan menghadap atau membelakangi kiblat saat buang hajat jika di dalam bangunan (tertutup):

🕌 1. Mazhab Mazhab Syafi'i

Pendapat mu‘tamad: boleh dalam bangunan, haram jika di tempat terbuka.

Dalilnya: hadits dari Abdullah bin Umar bahwa beliau melihat Nabi ﷺ buang hajat di rumah menghadap arah tertentu (tidak persis seperti larangan di tempat terbuka).

Dikuatkan oleh ulama seperti Imam An-Nawawi.

🕌 2. Mazhab Mazhab Hanafi

Membolehkan jika ada penghalang (dinding, bangunan).

Jika di tempat terbuka: tetap tidak boleh.

🕌 3. Mazhab Mazhab Hanbali (sebagian riwayat)

Ada riwayat yang membolehkan dalam bangunan.

Namun, tetap dianjurkan untuk menghindari demi kehati-hatian.