Selamat datang di blog Zainal Masri- semoga ada manfaatnya dan bernilai Ibadah disisi Nya serta menjadi cemety buat generasi yang akan datang.Amiin ya Rabbal 'Alamiin. Blog ini berisi tentang serba-serbi my prestasi-prestasi yang pernah diraih,, harapan: galilah potensi kita menjadi prestasi” jangan pernah berhenti melakukan aktifitas-aktifitas positif untuk mengukir prestasi ..Allah menciptakan manusia dengan sempurna, Allah memberi banyak potensi/kemampuan. Tugas kita adalah: mencari-menggali-menemukan-menmgembangkan dan meningkatkan kemampuan diri tersebut. Moment adalah peluang yang diberikan Allah kepada kita untuk maju, Allah tidak pernah memberi amanah/beban yang kita tidak mampu. Sukses/takdir baik diberikan kepada mereka yang optimis. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat di antara manusia lainnya. Yakinlah Allah tidak akan pernah meninggalkan hamba-nya. Doa adalah senjata kita yang paling Ampun. Usaha-Ikhtiar-Do,a. Kalau sabar menunggu masa, Insyaallah..��☕☕☕

Kamis, 10 September 2026

MENELADANI RASULULLAH ﷺ DALAM UCAPAN, PERBUATAN, DAN AKHLAK

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan untuk berkumpul dalam kebaikan.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Allah SWT berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian.”(QS. Al-Ahzab: 21)

Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa Rasulullah ﷺ adalah teladan dalam seluruh kehidupan.

Ada tiga hal utama yang dapat kita teladani:

Pertama, ucapan beliau.

Rasulullah ﷺ selalu berkata benar, baik, lembut, dan tidak menyakiti hati orang lain. Beliau bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau kalau tidak bisa berkata yang baik, lebih baik' diam. (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka kalau kita mencintai beliau, marilah kita menjaga lisan. Jangan mudah mencela, menggunjing, memfitnah, atau menyakiti orang lain dengan perkataan.

Orang bijak berkata:

Kedua, perbuatan beliau.

Rasulullah ﷺ rajin beribadah, suka menolong, bersedekah, menjaga silaturahmi, menyayangi keluarga, dan peduli kepada orang yang membutuhkan.

Kita tidak harus melakukan sesuatu yang besar. Membantu tetangga, mengunjungi orang sakit, memberi makan orang yang membutuhkan, bahkan tersenyum kepada saudara kita juga merupakan kebaikan.

Ketiga, akhlak beliau.

Rasulullah ﷺ memiliki akhlak yang sangat mulia. Jadi kalau kita mengaku umat beliau, cinta Rasul contohi akhlak mulia nabi.

Jadi, anak jadilah anak yang berakhlak, sekolah yang rajin, jangan melawan pada orang tua, jangan jatuhkan air mata orang tua, hargai guru..

Ridallaah..

Jadi pemuda juga demikian, jadilah pemuda yang berakhlak seperti nabi Muhammad.. jangan suka berjudi, sekarang judi sudah canggih, judol namanya, mudaratnya jauh lebih besar dari manfaatnya..

Almaidah 90

Jadi pemuda jadilah pemuda yang berakhlak... jangan terlibat dengan narkoba.

Jadi suami, jadilah suami yang berakhlak...

Kaumuslimin, kenapa karena istri bukan objek derita kaumuslimin, tapi istri adalah amanah Allah yang harus dijaga dicinta bukan dikhianati.

Inilah pentingnya pembiasaan akhlak, dan untuk memulai nya tentu dimulai dari diri kita sendiri..

Ada seorang bercita cita ingin mengubah dunia, Tapi dia gagal. Maka dia Turunkan target nya ingin mengubah bangsa nya menjadi lebih positif, dia gagal lagi, dia Turunkan! Sukunya, gagal juga, dia Turunkan lagi, pada akhir usia nya, ingin mengubah keluarga nya, ketika sampai di pembaringan maut, dia berucap "seandainya dulu saya memulai dengan mengubah diri saya, boleh jadi setelah berubah saya bisa mengubah keluarga saya, suku bangsa bahkan dunia.

Jadi kalau ada kata penutup yang saya ingin ucapan, mari kita mulai mengubah diri kita, mari kita mulai mengubah keluarga kita, tidak usah jauh-jauh dulu. 

Mari kita berusaha menyebarkan kedamaian, kalau bukan kedamaian aktif, minimal kedamaian pasif.

Apa yang saya maksud kedamaian pasif?

Kalau anda tidak bisa memberi, jangan halangi orang lain memberi, kalau anda tidak bisa memuji, jangan mencela, kalau anda tidak bisa membantu jangan jerumuskan orang. Itu saja dulu..

Insyaallah, pada masa-masa yang akan datang kita lebih banyak yang ikut, lebih banyak beraktivitas, sehingga tercipta bangsa yang bersatu,  yang damai, yang rukun, yang cinta, yang bersama dalam kebhinekaan, dsb.

Rabu, 09 September 2026

RUMAH TANGGA YANG SALAT DAN MEMBACA ALQURAN

Disebutkan dalam suatu riwayat:

نَوِّرُوا مَنَازِلَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ

“Terangilah rumah-rumah kalian dengan salat dan membaca Al-Qur’an.”

Ini merupakan anjuran agar rumah tangga dihidupkan dengan ibadah, salat, zikir, dan tilawah Al-Qur’an, sehingga rumah menjadi tempat yang penuh ketenangan dan keberkahan.

Rumah yang selalu diisi dengan salat dan tilawah Al-Qur’an bukan sekadar terang secara fisik, tetapi terang dengan iman dan petunjuk Allah. Karena itu, mari kita biasakan keluarga menyediakan waktu untuk membaca Al-Qur’an bersama, walaupun hanya beberapa ayat setiap hari.

“Jangan biarkan rumah kita hanya terang dengan lampu, tetapi gelap dari Al-Qur’an. Terangilah rumah dengan salat dan tilawah Al-Qur’an.”

Senin, 07 September 2026

Mau Merubah Dunia? Mulai lah dari diri sendiri!

Ada seorang bercita cita ingin mengubah dunia, Tapi dia gagal. Maka dia Turunkan target nya ingin mengubah bangsa nya menjadi lebih positif, dia gagal lagi, dia Turunkan! Sukunya, gagal juga, dia Turunkan lagi, pada akhir usia nya, ingin mengubah keluarga nya, ketika sampai di pembaringan maut, dia berucap "seandainya dulu saya memulai dengan mengubah diri saya, boleh jadi setelah berubah saya bisa mengubah keluarga saya, suku bangsa bahkan dunia.

Jadi kalau ada kata penutup yang saya ingin ucapan, mari kita mulai mengubah diri kita, mari kita mulai mengubah keluarga kita, tidak usah jauh-jauh dulu. 

Mari kita berusaha menyebarkan kedamaian, kalau bukan kedamaian aktif, minimal kedamaian pasif.

Apa yang saya maksud kedamaian pasif?

Kalau anda tidak bisa memberi, jangan halangi orang lain memberi, kalau anda tidak bisa memuji, jangan mencela, kalau anda tidak bisa membantu jangan jerumuskan orang. Itu saja dulu..

Insyaallah, pada masa-masa yang akan datang kita lebih banyak yang ikut, lebih banyak beraktivitas, sehingga tercipta bangsa yang bersatu,  yang damai, yang rukun, yang cinta, yang bersama dalam kebhinekaan, dsb.
















Rujukan: Prof. Quraish Shihab 

Kamis, 13 Agustus 2026

CINTA TANAH AIR

مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَىٰ

Dari bumi (tanah) itulah Kami menciptakan kamu, dan ke dalamnya Kami akan mengembalikan kamu, dan darinya Kami akan mengeluarkan kamu pada waktu yang lain (hari kebangkitan).” (Taaha: 55)

Sebagaimana yang telah kita ketahui, bahwa istilah Tanah Air” adalah istilah yang digunakan di Indonesia untuk menyebut seluruh bumi Indonesia yang terdiri dari daratan dan lautan. Istilah ini berbeda dengan sementara bangsa yang menggunakan istilah motherland atau fatherland untuk menunjuk wilayah mereka masing-masing.

Dalam bahasa arab kita kenal istilah Wathan, yang artinya tempat bermukim seseorang di mana kesetiaan dan pembelaannya tertuju ke tempat itu, baik dia lahir di sana maupun tidak.

Demikianlah sekelumit tentang arti tanah air. Kita selaku orang yang beriman, maka agama sebagai pedoman dan panduan hidup kita mengatakan kita manusia berasal dari tanah, begitu firman Nya dalam surat Tahaa 55

Jadi tanah adalah asal kejadian kita.

Sedangkan air adalah sumber kehidupan, orang tidak mungkin bisa hidup tanpa ada air, begitu dalam surat alambiya 30 

Jika demikian, kita memiliki keterikatan dengan tanah dan air. Dari sini wilayah tempat kita bermukim menuntut kita membela dan membangunnya, apalagi tanah dan segala isinya tidak kikir terhadap kita, tidak juga bosan mempersembahkan buat kita segala yang kita minta darinya.

Tanah air biasa juga kita kenal dengan tanah tumpah darah. Tentu Istilah ini bisa jadi inspirasi oleh kesadaran bahwa kita lahir bersamaan dengan tumpahnya darah pada saat dan setelah ibu melahirkan. Darah yang keluar setelah kelahiran kita dinamai nifas, sedangkan kata nifas terambil dari kata nafs yakni hadirnya seorang bayi yang berjiwa.

Jadi Tempat kita lahir dinamai “tumpah darah” artinya tempat kelahiran kita sekaligus menyiratkan bahwa kita bersedia membela tanah tersebut sampai titik darah yang penghabisan. Itulah tanah air kita. Itulah ibu pertiwi sekaligus di wilayah itulah darah kelahiran kita pernah tumpah melalui ibu kita.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Cinta tanah air merupakan salah satu bentuk rasa syukur atas nikmat Allah. Kita lahir, hidup, mencari rezeki, beribadah, dan membangun keluarga di negeri ini. Karena itu, seorang mukmin hendaknya menunjukkan kecintaannya kepada tanah air melalui perbuatan yang baik.


Apa tanda seorang mukmin yang cinta tanah air?

Pertama, menjaga keamanan dan kedamaian. Menjaga keamanan adalah bagian dari rasa syukur dan cinta kepada tanah air. Bentuknya dapat dilakukan dengan menaati aturan, tidak membuat kerusuhan, menjaga persatuan, menghormati sesama, serta ikut menciptakan lingkungan yang aman dan damai.

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya.

Kedua, menjaga persatuan. Perbedaan suku, bahasa, adat, dan pilihan tidak boleh menjadi alasan untuk saling membenci. Allah berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 13 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Bahwa manusia diciptakan oleh Allah bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal.

Ayat ini mengajarkan bahwa perbedaan suku, bangsa, dan kelompok bukan alasan untuk kita bermusuhan, tetapi menjadi sarana untuk lita‘ārafū—saling mengenal dan menghargai.

Ketiga, menjaga lingkungan.

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا

“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik.”

“Orang yang beriman tidak hanya rajin beribadah kepada Allah, tetapi juga menjaga ciptaan-Nya. Menjaga kebersihan, melestarikan alam, dan tidak membuat kerusakan adalah bagian dari amal saleh. Karena itu, mencintai tanah air dapat kita wujudkan dengan menjaga lingkungan tempat kita hidup.”

Keempat, mengisi kemerdekaan dengan iman, ilmu, dan amal saleh. QS. Almujadalah 11

Mari kita isi kemerdekaan ini dengan tiga kekuatan: iman yang kokoh, ilmu yang bermanfaat, dan amal saleh yang nyata. Dengan iman kita memiliki arah, dengan ilmu kita memiliki kemampuan, dan dengan amal saleh kita memberikan manfaat bagi agama, keluarga, masyarakat, bangsa dan tanah air.”

Kamis, 06 Agustus 2026

Mensyukuri Kemerdekaan dengan Iman, Ilmu dan Amal Saleh

Kemerdekaan adalah nikmat terbesar yang patut kita syukuri. Dahulu para pejuang mengorbankan harta, tenaga, bahkan nyawa agar bangsa ini terbebas dari penjajahan. Tugas kita hari ini bukan lagi merebut kemerdekaan, melainkan mengisinya dengan iman, ilmu dan amal saleh.

Allah SWT berfirman:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

"Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu." (QS. Ibrahim: 7)

Syukur tidak cukup diucapkan dengan lisan, tetapi harus dibuktikan dengan amal perbuatan. 

مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

Di antara bentuk syukur kita atas Nikmat kemerdekaan adalah:

Pertama, menjaga keimanan dan semangat cinta tanah air 

Walaupun zaman sudah berubah, Aqidah jangan sampai goyah, silahkan saja musim berganti tapi keyakinan jangan sampai mati. Jaddidu imanakum, Segarkan imanmu karena iman yang kokoh merupakan bentuk wujud syukur kita kepada Allah atas kemerdekaan.

Orang orang tua kita terdahulu tidak mungkin mau memperjuangkan kemerdekaan kalau dia tidak beriman kepada Allah. Atas dasar iman lah mereka berjuang. Makanya dikatakan dalam Pembukaan UUD 1994 itu atas berkat Rahmat Allah...


Jadi, dalam rangka mengisi kemerdekaan mari kuatkan iman mantapkan Aqidah.


Yang kedua, menuntut dan menyebarkan Ilmu yang bermanfaat. 

Ilmu  yang dimaksud tentunya ilmu agama, kenapa demikian?

Karena orang tidak mungkin akan bersyukur kalau dia tidak tau agama, mustahil orang mau berjuang kalau dia tidak mengerti. Untuk tau dan mengerti itu butuh ilmu. Oleh karenanya jangan bosan-bosan kita menuntut ilmu, bukan saja untuk kita tapi kita wariskan pula untuk anak cucu kita generasi yang akan datang. 

Yang ke tiga, amal shaleh.

amal saleh adalah segala perbuatan baik yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah dan sesuai dengan ajaran Islam.

Contoh: menjaga ibadah salat, membaca Alquran, berzikir, menjaga persatuan dan kesatuan, berbakti kepada orang tua, bersedekah apakah untuk anak yatim, orang miskin dan pembangunan masjid dsb.

Mungkin hari kita melihat tempat salat kita ini, ini sedang proses pembangunan bapak bapak kaumuslimin, ini merupakan salah satu ladang bagi kita untuk beramal, apakah dalam bentuk infaq shodaqoh dsb..

Setiap amal saleh yang kita lakukan merupakan wujud syukur atas nikmat kemerdekaan.

Jadi setiap kita musti beramal, yang punya harta beramal dengan hartanya, yang sehat beramal dengan tenaganya dan yang tidak punya apa-apa beramal dengan doanya.

Amal saleh itu kita kerjakan maksimal waktu kita masih hidup dan merdeka, 

Addunya Daarul amal, wal akhirah Daarul jaza..

Jadi kalau sekarang kita malas, beramal, malas beraktivitas positif, menyia nyiakan waktu rugilah kita selama lamanya.

Bahkan kalau kita mati tidak ada yang kita bawa kecuali amal saleh kita..

Hanya ada tiga yang mengantarkan kita ke kubur kalau kita meninggalkan dunia ini

Ahluhu, wamaluhu, waamaluhu.

Jadi oleh karenanya, kalau kita benar benar mencintai bangsa ini, marilah kita mensyukuri nikmat kemerdekaan mengisinya dengan iman ilmu dan aktivitas yang bermanfaat.

Tanyalah diri kita...

Kamis, 30 Juli 2026

Konsekuensi menjadi orang beriman

Isi Khutbah

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Iman bukan sekadar pengakuan di lisan, tetapi keyakinan di hati yang dibuktikan dengan amal saleh. Karena itu, menjadi orang beriman memiliki konsekuensi yang harus kita diterima dan dijalani.

1. Konsekuensi pertama: Siap untuk Taat kepada Allah dan Rasul-Nya

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul." (QS. An-Nisa': 59)

Keimanan menuntut ketaatan dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah.

2. Konsekuensi kedua: Siap diuji

Allah berfirman:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya mengatakan, 'Kami telah beriman,' sedangkan mereka tidak diuji?" (QS. Al-'Ankabut: 2)

Ujian bukan tanda Allah membenci hamba-Nya, tetapi sarana membuktikan kejujuran iman.

3. Konsekuensi ketiga: Beramal saleh

Iman selalu berdampingan dengan amal saleh. Al-Qur'an berkali-kali menyebutkan:

الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ

Artinya, keimanan harus melahirkan amal kebajikan, akhlak mulia, kejujuran, amanah, dan kepedulian kepada sesama.

Makanya dalam Al-Baqarah 177 dikatakan:

Disamping kita beriman kepada rukun iman yang 6 itu, kita juga dituntut untuk memberikan sebagian dari harta yang kita cinta kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, peminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya; melaksanakan salat; menunaikan zakat; menepati janji apabila berjanji; sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

4. Konsekuensi keempat: Istikamah

Rasulullah ﷺ bersabda:

قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ

"Katakanlah, 'Aku beriman kepada Allah,' kemudian beristikamahlah." (HR. Muslim)

Keimanan harus dijaga hingga akhir hayat.

Khutbah Kedua

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Keimanan adalah nikmat terbesar, tetapi juga amanah yang berat. Orang beriman akan dimintai pertanggungjawaban atas iman yang dimilikinya. Jangan sampai iman hanya menjadi pengakuan, tetapi tidak tercermin dalam ibadah, akhlak, dan muamalah.

Marilah kita memperkuat iman dengan ilmu, memperbanyak amal saleh, bersabar menghadapi ujian, dan berdoa agar Allah menetapkan hati kita di atas agama-Nya.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

"Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu." (HR. Tirmidzi)

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang beriman dengan sebenar-benarnya iman, istiqamah dalam ketaatan, dan diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah. Aamiin.

Mengisi waktu

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Salah satu nikmat terbesar yang sering dilalaikan manusia adalah waktu. Padahal Setiap detik yang berlalu tidak akan pernah kembali. Karena itu, seorang mukmin diperintahkan untuk memanfaatkan waktu dengan amal saleh. Begitu dikatakan dalam surat Al asr

Allah Ta'ala berfirman:

وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ...

"Demi masa. Sungguh, manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh..." (QS. Al-'Ashr: 1–3).

bahwa pada dasarnya setiap manusia itu merugi apabila waktunya terbuang sia sia. 

Rasulullah ﷺ bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

"Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya, yaitu kesehatan dan waktu luang." (HR. Bukhari).

Waktu yang diisi dengan membaca Al-Qur'an, salat berjamaah, berbakti kepada orang tua, mencari ilmu, bekerja dengan jujur, bersedekah, dan membantu sesama akan menjadi bekal di akhirat.

Sebaliknya, waktu yang dihabiskan untuk maksiat, permusuhan, atau hal-hal yang sia-sia akan menjadi penyesalan pada hari kiamat.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Marilah kita mengevaluasi diri. Jangan sampai umur bertambah tetapi amal semakin berkurang. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas umurnya, untuk apa dihabiskan.

Mari jadikan setiap hari sebagai kesempatan memperbanyak amal saleh, memperbaiki akhlak, mempererat silaturahmi, dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah.