Pada kesempatan ini, marilah kita merenungkan satu tema sederhana, tetapi sangat dekat dengan kehidupan kita, yaitu Meraih Berkah dalam Pengabdian.
Hadirin...
Kalau kita mendengar kata pengabdian, mungkin yang terbayang oleh kita adalah seorang pegawai yang mengabdi kepada negara, seorang guru yang mengabdi kepada pendidikan, atau seorang pemimpin yang mengabdi kepada masyarakat.
Padahal kalau kita pahami dan renungkan, sesungguhnya pengabdian itu tidak hanya milik orang yang memiliki jabatan.
Seorang ibu yang bangun pagi menyiapkan kebutuhan keluarganya, memasak nasi, membuatkan suaminya kopi, itu sesungguhnya dia sedang mengabdi.
Seorang ayah yang bekerja mencari nafkah yang halal untuk keluarga juga sedang mengabdi.
Seorang petani yang mengolah tanah untuk menghasilkan padi jagung sehingga orang bisa mendapatkan makanan juga sedang mengabdi.
Seorang pedagang yang melayani pembeli dengan jujur juga sedang mengabdi.
Bahkan seseorang yang membantu tetangganya tanpa mengharapkan imbalan juga merupakan bentuk pengabdian.
Artinya, pengabdian bukan ditentukan oleh tinggi rendahnya jabatan, tetapi oleh niat, tanggung jawab, dan manfaat yang diberikan.
Nah untuk mendapatkan berkah dalam pengabdian itu dapat kita rinci menjadi 4 Pilar
1. Sadarilah bahwa Pengabdian itu adalah bagian dari amal saleh
Allah Swt. berfirman dalam QS. An-Nahl ayat 97:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً
Artinya:
"Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik."
Ayat ini mengajarkan bahwa setiap kebaikan memiliki nilai di sisi Allah.
Jadi, jangan pernah merasa bahwa pekerjaan kita tidak berarti hanya karena tidak memiliki jabatan atau tidak dikenal banyak orang.
Bisa jadi, seseorang yang tidak memiliki jabatan justru memberikan manfaat besar bagi masyarakat melalui pekerjaannya sehari-hari.
2. Pengabdian harus dilandasi keikhlasan
Ada orang yang mau bekerja kalau diperhatikan. Ada yang mau membantu kalau mendapatkan pujian. Ada pula yang kecewa ketika kebaikannya tidak dihargai.
Padahal, kalau kita mengabdikan diri hanya untuk mendapatkan penghargaan manusia, kita akan mudah kecewa.
Rasulullah saw. bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
"Sesungguhnya amal itu bergantung pada niatnya." (HR. Bukhari dan Muslim).
Maka, luruskanlah niat kita.
Bekerjalah dengan baik bukan hanya karena atasan melihat, tetapi karena Allah Maha Melihat.
Bantulah orang lain bukan hanya karena ingin dipuji, tetapi karena ingin mendapatkan rida Allah.
3. Pengabdian yang baik harus memberikan manfaat
Rasulullah saw. bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya."
Pesan ini mengajak kita untuk bertanya kepada diri sendiri:
Apakah kehadiran kita sudah memberikan manfaat bagi orang lain?
Apakah keluarga kita merasa terbantu dengan keberadaan kita?
Apakah tetangga merasa nyaman dengan sikap kita?
Apakah masyarakat merasakan kebaikan dari pekerjaan kita?
Jangan sampai kita merasa sudah banyak mengabdi, tetapi orang-orang di sekitar kita justru tidak merasakan manfaatnya.
4. Berkah tidak selalu berarti banyak harta
Kadang-kadang kita mengukur keberhasilan pengabdian dari banyaknya penghasilan, tingginya jabatan, atau banyaknya penghargaan.
Padahal, berkah tidak selalu berarti kaya raya.
Ada orang yang penghasilannya sederhana, tetapi keluarganya rukun.
Ada orang yang jabatannya biasa saja, tetapi kehadirannya selalu dirindukan masyarakat.
Ada orang yang hartanya tidak banyak, tetapi selalu memiliki kesempatan untuk membantu orang lain.
Itulah salah satu gambaran kehidupan yang penuh berkah.
Maka, jangan hanya mengejar apa yang kita dapatkan dari pengabdian, tetapi perhatikan juga kebaikan apa yang bisa kita tinggalkan.









