Selamat datang di blog Zainal Masri- semoga ada manfaatnya dan bernilai Ibadah disisi Nya serta menjadi cemety buat generasi yang akan datang.Amiin ya Rabbal 'Alamiin. Blog ini berisi tentang serba-serbi my prestasi-prestasi yang pernah diraih,, harapan: galilah potensi kita menjadi prestasi” jangan pernah berhenti melakukan aktifitas-aktifitas positif untuk mengukir prestasi ..Allah menciptakan manusia dengan sempurna, Allah memberi banyak potensi/kemampuan. Tugas kita adalah: mencari-menggali-menemukan-menmgembangkan dan meningkatkan kemampuan diri tersebut. Moment adalah peluang yang diberikan Allah kepada kita untuk maju, Allah tidak pernah memberi amanah/beban yang kita tidak mampu. Sukses/takdir baik diberikan kepada mereka yang optimis. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat di antara manusia lainnya. Yakinlah Allah tidak akan pernah meninggalkan hamba-nya. Doa adalah senjata kita yang paling Ampun. Usaha-Ikhtiar-Do,a. Kalau sabar menunggu masa, Insyaallah..��☕☕☕

Kamis, 07 Mei 2026

Tareqad


Menuntut Ilmu dan Tarekat

Tidak semua orang yang menuntut ilmu otomatis masuk tarekat. Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim, sedangkan tarekat adalah jalan pembinaan ruhani tertentu yang biasanya dibimbing oleh seorang guru/mursyid untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui zikir, adab, dan latihan spiritual.

Secara umum:

Menuntut ilmu fokus pada memahami ajaran Islam: akidah, fikih, tafsir, hadis, akhlak, dan sebagainya.

Tarekat lebih khusus pada pembinaan hati dan amalan ruhani secara teratur dalam suatu metode tertentu.

Namun, keduanya bisa saling berkaitan. Banyak ulama mengatakan:

Syariat tanpa hakikat bisa kering, dan hakikat tanpa syariat bisa menyimpang.

Artinya, ilmu agama tetap menjadi dasar utama. Orang yang belajar agama dengan sungguh-sungguh, memperbaiki akhlak, menjaga ibadah, dan membersihkan hati sebenarnya sudah menempuh jalan menuju kedekatan kepada Allah, walaupun belum tentu bergabung dalam tarekat tertentu.

Ada juga ulama yang memaknai “tarekat” secara umum sebagai:

Jalan menuju Allah melalui ketaatan dan penyucian jiwa.

Dalam makna ini, orang yang menuntut ilmu dengan niat ikhlas dan mengamalkan ilmunya bisa disebut sedang menempuh “jalan” menuju Allah, tetapi belum tentu menjadi anggota tarekat tertentu seperti Tarekat Qadiriyah, Tarekat Naqsyabandiyah, atau lainnya.

Dalil tentang pentingnya menuntut ilmu:

“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.”

(HR. Muslim)

Jadi, inti utamanya:

Menuntut ilmu = kewajiban dan fondasi.

Masuk tarekat = pilihan metode pembinaan ruhani tertentu.

Orang berilmu belum tentu pengikut tarekat.

Tetapi tarekat yang benar harus dibangun di atas ilmu dan syariat.




Rabu, 06 Mei 2026

Penyuluh Agama Sampaikan Materi tentang Hidayah dalam Islam kepada Jamaah Musalla Almuhklisin

Malampah _Dalam upaya meningkatkan pemahaman keagamaan masyarakat, penyuluh agama Kecamatan Tigo Nagari, Zainal Masri, kembali melaksanakan diskusi ringan ringan dengan jamaah Musalla Almuhklisin Pasar Malampah. Dengan metode dialog interaktif dan saling memberikan pendapat antar jamaah, Pada kesempatan tersebut, jamaah mendapatkan materi tentang hidayah dalam Islam serta cara meraih petunjuk Allah SWT dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam penyampaiannya, Zainal  menjelaskan bahwa hidayah merupakan nikmat besar dari Allah SWT yang harus disyukuri dan dijaga. Hidayah dapat diraih melalui ilmu, keimanan, menjaga ibadah, memperbanyak doa, membaca Al-Qur’an, serta bergaul dengan lingkungan yang baik.

Jamaah juga diingatkan agar tidak mudah merasa paling baik, karena hati kita manusia berada dalam kekuasaan Allah SWT. Oleh sebab itu, setiap Muslim dianjurkan untuk senantiasa memohon keteguhan iman dan petunjuk kepada Allah, sebagaimana doa yang selalu dibaca dalam Surah Al-Fatihah, “Ihdinash shirathal mustaqim” yang berarti “Tunjukilah kami jalan yang lurus.”

Selain itu, disampaikannya pula bahwa salat menjadi salah satu jalan utama untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memperoleh hidayah. Jamaah diajak untuk menjaga salat lima waktu dan memperbaiki akhlak dimanapun berada.

Kegiatan berjalan dengan baik, jamaah antusias mengikuti. Penyuluh berharap jamaah bertambah pengetahuannya, meningkatkan keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT, taat kita beribadah.

Ngopi pagi ini


Coretan-coretan kopi dengan jamaah pagi ini :

1. Wudu dan Salat mengugurkan dosa (Rujukan di hadits dalam Fadillah amal) Cukup jelas!

2. Hidayah

Apakah orang yang tidak salat tidak mendapat hidayah??

Jawaban:

Salat adalah salah satu pintu terbesar datangnya hidayah. Orang yang meninggalkan salat berarti ia sedang menjauh dari salah satu sebab utama mendapatkan petunjuk Allah. Namun, bukan berarti seseorang yang belum salat pasti tidak akan mendapat hidayah sama sekali. Banyak orang justru mendapat hidayah lalu kemudian mulai menjaga salatnya.

Allah berfirman:

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ

“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”

(QS. Al-‘Ankabut: 45)

Dan tentang doa meminta hidayah, setiap Muslim membacanya dalam salat:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.”

(QS. Al-Fatihah: 6)

Ini menunjukkan bahwa salat sangat berkaitan dengan hidayah.

Tetapi hidayah tetap milik Allah. Ada orang yang dahulu lalai salat, lalu Allah bukakan hatinya untuk bertobat dan menjadi rajin beribadah. Karena itu, sikap yang baik adalah:

*jangan meremehkan meninggalkan salat,

*jangan putus asa dari rahmat Allah,

*Terus menasihati dengan lembut dan mendoakan kebaikan.

Dalam banyak hadits, meninggalkan salat diperingatkan dengan sangat keras, sehingga seorang Muslim hendaknya berusaha menjaga salat lima waktu sebaik mungkin.

3. Apakah berdosa orang yang sudah diberi kemampuan untuk berkurban tapi tidak melaksanakan qurban?

Jawaban:

Mayoritas ulama memandang kurban pada hari raya Idul adha bagi yang mampu hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan). Jadi, orang yang mampu tetapi tidak berkurban memang kehilangan pahala dan keutamaan besar, namun menurut pendapat mayoritas ulama tidak sampai berdosa.

Namun, sebagian ulama seperti mazhab Hanafi berpendapat bahwa kurban bagi orang yang mampu hukumnya wajib, sehingga meninggalkannya tanpa alasan dianggap berdosa.

Dalil yang sering dijadikan peringatan adalah hadits:

مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا

“Barang siapa memiliki kelapangan (mampu) tetapi tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat salat kami.”

(HR. Ibnu Majah)

Hadits ini dipahami oleh sebagian ulama sebagai penekanan kuat agar orang mampu tidak meninggalkan kurban.

Keutamaan kurban juga sangat besar karena termasuk syiar Islam dan bentuk ketakwaan kepada Allah:

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ

“Daging dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”

(QS. Al-Hajj: 37)

Intinya: apakah berdosa atau tidak, Ulama terdapat perbedaan pendapat ulama.

Menurut mayoritas ulama: tidak berdosa, tetapi sangat rugi jika mampu namun meninggalkan kurban.

Menurut sebagian ulama: bisa berdosa jika sengaja meninggalkannya padahal mampu.

Karena itu, bila Allah memberi kelapangan rezeki, sangat dianjurkan untuk berkurban sebagai bentuk syukur dan ibadah.

Selasa, 05 Mei 2026

“Ujian Sakit: Menguji Kasih Sayang dan Kesabaran Keluarga”

Ujian keluarga ketika sakit adalah salah satu bentuk cobaan yang sangat nyata dalam kehidupan. Dalam Islam, sakit tidak hanya dilihat sebagai penderitaan fisik, tapi juga sebagai sarana pendidikan iman—baik bagi yang sakit maupun keluarganya.

1. Ujian kesabaran dan keikhlasan

Saat ada anggota keluarga sakit, semua diuji: yang sakit diuji kesabarannya, yang merawat diuji keikhlasan dan ketelatenannya. Tidak semua orang kuat menghadapi kondisi ini dalam waktu lama.

2. Ujian perhatian dan kasih sayang

Sakit sering membuka hakikat hubungan keluarga. Ada yang semakin dekat, ada juga yang justru menjauh. Di sinilah terlihat sejauh mana kasih sayang itu benar-benar hidup dalam keluarga. Ada keluarga yang boleh jadi sayang ketika sehat, begitu sakit menimpa sayang dan perhatian nya berkurang bahkan hilang. Atau sebaliknya.

3. Ujian ekonomi dan tanggung jawab

Biaya pengobatan, waktu yang tersita, dan tenaga yang terkuras bisa menjadi beban tersendiri. Ini menguji tanggung jawab dan kerja sama dalam keluarga.

4. Penghapus dosa dan pengangkat derajat

Sakit bisa menjadi sebab dihapusnya dosa. Nabi ﷺ bersabda:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ وَأَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةُ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kesedihan, bahkan sampai duri yang menusuknya, kecuali Allah menghapus sebagian dosanya karenanya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

5. Pengingat untuk kembali kepada Allah

Seringkali saat sehat, manusia lalai. Namun ketika sakit datang, hati menjadi lebih lembut, doa lebih sungguh-sungguh, dan ketergantungan kepada Allah semakin terasa. Allah yang memberikan kesehatan.

Sikap yang dianjurkan:

1. Bersabar dan tetap berhusnuzan kepada Allah

2. Saling menguatkan dalam keluarga

3. Memperbanyak doa dan dzikir

4. Berikhtiar dengan pengobatan yang halal

5. Tidak mengeluh berlebihan kepada manusia

Inti Sari:

Sakit memang melemahkan tubuh, tapi bisa menguatkan jiwa. Jika dihadapi dengan iman, ujian ini bukan sekadar penderitaan—melainkan jalan menuju kebaikan yang lebih besar.

Senin, 04 Mei 2026

Diskusi bersama Jamaah Musalla Almuhklisin tentang arah Closed dan tempat bersuci WC dalam pembangunan masjid

 


1. Tidak menghadap atau membelakangi kiblat

Posisi duduk di WC sebaiknya tidak menghadap atau membelakangi Ka'bah.

Ini berlaku terutama jika tempatnya terbuka.

2. Jika di dalam bangunan (tertutup)

Para ulama berbeda pendapat:

1. Sebagian membolehkan, karena ada penghalang (dinding).

2. Sebagian tetap memakruhkan, sebagai bentuk kehati-hatian.

Pendapat yang lebih aman: Tetap dihindari menghadap dan membelakangi kiblat, meskipun di dalam ruangan.

Praktik terbaik saat membangun WC masjid

Agar sesuai adab Islam:

1. Posisi kloset miring dari arah kiblat (tidak lurus depan/belakang)

2. Idealnya sekitar 90 derajat (menyamping) dari arah kiblat.

3. Perhatikan arah kiblat setempat (di Indonesia umumnya ke barat laut).

Dalil:

Dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu:

إِذَا أَتَيْتُمُ الْغَائِطَ فَلَا تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ وَلَا تَسْتَدْبِرُوهَا، وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا

“Apabila kalian datang ke tempat buang hajat, maka janganlah menghadap kiblat dan jangan pula membelakanginya, tetapi menghadaplah ke arah timur atau barat.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Kiblat yang dimaksud adalah arah Ka'bah.

🕌 Hadits 2

Dari Abu Ayyub juga, Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ بِغَائِطٍ وَلَا بَوْلٍ وَلَا تَسْتَدْبِرُوهَا

Terjemahan:

“Janganlah kalian menghadap kiblat ketika buang air besar maupun kecil, dan jangan pula membelakanginya.”

Berikut beberapa ulama dan mazhab yang berpendapat membolehkan menghadap atau membelakangi kiblat saat buang hajat jika di dalam bangunan (tertutup):

🕌 1. Mazhab Mazhab Syafi'i

Pendapat mu‘tamad: boleh dalam bangunan, haram jika di tempat terbuka.

Dalilnya: hadits dari Abdullah bin Umar bahwa beliau melihat Nabi ﷺ buang hajat di rumah menghadap arah tertentu (tidak persis seperti larangan di tempat terbuka).

Dikuatkan oleh ulama seperti Imam An-Nawawi.

🕌 2. Mazhab Mazhab Hanafi

Membolehkan jika ada penghalang (dinding, bangunan).

Jika di tempat terbuka: tetap tidak boleh.

🕌 3. Mazhab Mazhab Hanbali (sebagian riwayat)

Ada riwayat yang membolehkan dalam bangunan.

Namun, tetap dianjurkan untuk menghindari demi kehati-hatian.

Sabtu, 25 April 2026

Diskusi Jamaah Musalla Almuhklisin bertajuk Wisata religi

 



Resume Pesan pesan yang terkandung dalam QS. Alfatihah-Diskusi ringan ringan dengan jamaah Musalla Almuhklisin


1. Makna dan pesan yang terkandung dalam surat Alfatihah 

Al-Fatihah bukan sekadar bacaan, tetapi merupakan inti dari ajaran Islam yang mencakup tauhid, ibadah, dan doa. Ia menjelaskan bahwa ayat “Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin” mengajarkan pentingnya bersyukur atas segala nikmat yang Allah berikan, sementara “Ar-Rahmanir Rahim” menunjukkan kasih sayang Allah yang luas kepada seluruh makhluk-Nya.

Lebih lanjut, dapat dijelaskan bahwa ayat “Iyyaka na’budu wa iyyaka نستعين” menjadi penegasan bahwa hanya kepada Allah tempat manusia beribadah dan memohon pertolongan. Ayat ini juga mengajarkan keikhlasan dalam beramal serta ketergantungan penuh kepada Allah dalam setiap aspek kehidupan.

2 Apakah Alfatihah itu nama, surat, atau judul 

Setelah didiskusikan dari berbagai pendapat jamaah, dapat dijelaskan bahwa:

Al-Fatihah itu pada dasarnya adalah nama dari salah satu surat (surah) dalam Al-Qur’an.

Penjelasannya:

Sebagai surat: Al-Fatihah adalah surah pertama dalam Al-Qur’an, terdiri dari 7 ayat, dan wajib dibaca dalam setiap rakaat salat.

Sebagai nama/judul: Kata “Al-Fatihah” berarti “Pembukaan”, sehingga ini adalah nama atau judul yang diberikan untuk surah tersebut karena letaknya di awal Al-Qur’an dan menjadi pembuka bacaan.

Kesimpulan:

Al-Fatihah itu adalah sebuah surat, dan “Al-Fatihah” adalah nama/judul dari surat