مَنِ اسْتَخَفَّ بِخَمْسٍ حُرِمَ خَمْسًا:
مَنِ اسْتَخَفَّ بِالْعُلَمَاءِ حُرِمَ الْعِلْمَ،
وَمَنِ اسْتَخَفَّ بِالْأُمَرَاءِ حُرِمَ الدُّنْيَا،
وَمَنِ اسْتَخَفَّ بِالْجِيرَانِ حُرِمَ الْمَنَافِعَ،
وَمَنِ اسْتَخَفَّ بِالْأَقَارِبِ حُرِمَ الشَّفَاعَةَ،
مَنِ اسْتَخَفَّ بِالْأَقَارِبِ حُرِمَ الْمَوَدَّةَ
***
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain, boleh jadi mereka (yang direndahkan) lebih baik dari mereka (yang merendahkan). Dan jangan pula perempuan-perempuan (merendahkan) perempuan lain, boleh jadi perempuan (yang direndahkan) lebih baik dari mereka. Janganlah kamu saling mencela dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”
مَنِ اسْتَخَفَّ بِخَمْسٍ حُرِمَ خَمْسًا
1. Manistakhafa bil ulama, hasiraddiina. Barang siapa yang meremehkan ulama, dia akan rugi dari segi agama. Dari segi ilmu.
Kalau agama rugi sengsara lah kita dunia akhirat. Orang tidak akan bahagia tanpa agama. Tau dan mengerti nya kita tentang agama itu termasuk jasa dan perjuangan nya guru guru kita dan para ulama kita terdahulu.
Al ulama wawarasatul Ambiya.
Oleh karenanya kita tidak boleh memandang enteng, remeh para ulama. Rugi besar dunia akhirat.
2. Wamanis takhaffa bil Umara, hasiratddunya. Barang siapa yang meremehkan pemerintah mulai dari tingkat yang paling bawah, Wali nagari, camat, bupati sampai ke yang paling atas dsb, kita rugi dari segi dunia.
Contoh sederhana bapak kaumuslimin kalau Wali nagari kita remehkan, kita tidak akan mendapatkan KTP, orang tidak mungkin naik pesawat tanpa KTP, orang tidak mungkin naik haji tanpa ktp, itu contoh kecil bapak kaumuslimin belum lagi fasilitas dan hal2 yg lain. Oleh karena itu hal ini jangan sampai terjadi pada diri dan keluarga kita.
3. Wamanis takhaffa bil jiiran, khasiran manafi a.
Barang siapa meremehkan "Jiran" Jiran tetangga.
Tetangga baik dirumah kita, baik dikantor baik dipasar. Orang2 yg ada di sekitar kita, sama agama atau tidak, apalagi kita orang beriman. Nah, kalau kita tinggal di perkampungan yang rapat penduduk nya, ukuran nya 70 kiri kanan muka belakang rumah, semuanya Jiran kita, ada yang dekat ada yang jauh. Hubungan kita harus utuh harus kasih sayang dengan mereka.
Malah indikasi orang beriman, baik hubungan silaturrahmi nya dengan jiran.
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ
Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hormati Jiran.
Jadi inilah pentingnya menjaga hubungan baik dengan jiran, akan terasa nikmatnya duduk bersama itu kalau baik dengan jiran.
"Duduak surang basampik sampik duduak Basamo balapang lapang", salah satu indikasi nya baik dengan jiran.
Apapun kondisi kita bapak bapak kaumuslimin, apalagi dalam musibah, siapa yang mula-mula membantu kita, tidak lain kecuali tetangga.
Kalau kita renung2kan banyak manfaat tetangga itu bapak kaumuslimin, masalah pesta Jiran yg menolong, masalah musibah Jiran menolong, masalah Kematian Jiran menolong.
Pergi kita keluar kota siapa yang akan mengetahui kondisi rumah kita, bahkan menjaganya kalau bukan tetangga.
Oleh karenanya siapa yang meremehkan tetangga rugi dari segi manfaat.
4. Wamanis takhaffa bil aqaa rib,
Barang siapa yang meremehkan karib kerabatnya, dekat dia dengan keluarganya, rugi dari segi kasih sayang. Mamak saja dilecehkan bapak kaumuslimin, siapa yang mengurus pernikahan kemenakan kalau tidak mamak.. bisa saja seseorang tidak jadi pesta karena tidak baik hubungannya dengan si mamak, ini memang kelihatannya bagi sebagian orang sepele tapi besar pengaruh nya.
Oleh karena itu agar kasih sayang terjalin, maka jalin silaturahmi dengan karib kerabat, Apakah adik kita, kakak kita, mamak kita kemenakan dsb
5. Wamanis takhaffa bil aqaaribi hurimal mawadah. Barang siapa yang memandang enteng keluarganya, kalau oleh suami, istri. Kalau oleh istri, suami! rugi dia dari segi kasih sayang.
Bapak bapak mungkin telah melihat berapa banyak laki2 yang bercerai, nikah lagi, bercerai, nikah lagi lalu bercerai lagi. Kenapa itu bisa terjadi? Karena meremehkan istri bapak bapak, atau istri meremehkan suami akhirnya menderita!
Jadi inilah mudah mudahan yang 5 ini tidak ada pada diri kita bapak kaumuslimin. Kalaupun ada mari kita buang jauh-jauh agar kita tidak rugi dunia akhirat.


