Kehidupan manusia mengalami perubahan. Kita yang dahulu kecil, sekarang menjadi dewasa. Dahulu belum memiliki tanggung jawab, sekarang memiliki keluarga dan amanah. Waktu terus berjalan dan usia terus berkurang.
Namun pertanyaannya: apakah perubahan usia kita juga diikuti dengan perubahan kualitas iman dan amal kita?
Allah SWT berfirman dalam QS. Ar-Ra'd ayat 11:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri."
Ayat ini mengajarkan kepada kita pentingnya ikhtiar untuk berubah.
Kalau dahulu kita mudah marah, mari belajar menjadi lebih sabar.
Kalau dahulu kita jarang membaca Al-Qur'an, mari mulai membiasakannya.
Kalau dahulu kita sering menyakiti orang lain dengan perkataan, mari belajar menjaga lisan.
Kalau dahulu kita sering menunda salat, mari memperbaikinya.
Kalau dahulu hubungan dengan orang tua, saudara, atau tetangga renggang, mari kita mulai menyambung silaturahmi.
Jamaah rahimakumullah,
Perubahan tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Perubahan besar sering kali dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara istiqamah.
Satu ayat Al-Qur'an yang dibaca setiap hari.
Satu kebaikan yang dilakukan setiap hari.
Satu kesalahan yang kita tinggalkan.
Satu orang yang kita maafkan.
Satu hubungan yang kita perbaiki.
Itulah langkah-langkah perubahan.
Jangan berkata, “Nanti kalau sudah tua saya akan rajin beribadah.”
Jangan berkata, “Nanti kalau sudah kaya saya akan bersedekah.”
Jangan berkata, “Nanti kalau sudah punya waktu saya akan bersilaturahmi.”
Sebab kita tidak pernah tahu apakah kita masih memiliki kesempatan untuk mengatakan “nanti.”
Jamaah yang dirahmati Allah,
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
"Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang paling terus-menerus, meskipun sedikit."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Maka marilah kita berubah sedikit demi sedikit, tetapi istiqamah.
Dari kurang baik menjadi lebih baik.
Dari lalai menjadi lebih ingat kepada Allah.
Dari jauh menjadi dekat.
Dari bermusuhan menjadi bersaudara.
Dari banyak mengeluh menjadi banyak bersyukur.
Semoga perubahan yang kita lakukan menjadi jalan menuju keridaan Allah SWT.
Uraian Penutup
Ada seorang bercita cita ingin mengubah dunia, Tapi dia gagal. Maka dia Turunkan target nya ingin mengubah bangsa nya menjadi lebih positif, dia gagal lagi, dia Turunkan! Sukunya, gagal juga, dia Turunkan lagi, pada akhir usia nya, ingin mengubah keluarga nya, ketika sampai di pembaringan maut, dia berucap "seandainya dulu saya memulai dengan mengubah diri saya, boleh jadi setelah berubah saya bisa mengubah keluarga saya, suku bangsa bahkan dunia.
Jadi kalau ada kata penutup yang saya ingin ucapan, mari kita mulai mengubah diri kita, mari kita mulai mengubah keluarga kita, tidak usah jauh-jauh dulu.
Mari kita berusaha menyebarkan kedamaian, kalau bukan kedamaian aktif, minimal kedamaian pasif.
Apa yang saya maksud kedamaian pasif?
Kalau anda tidak bisa memberi, jangan halangi orang lain memberi, kalau anda tidak bisa memuji, jangan mencela, kalau anda tidak bisa membantu jangan jerumuskan orang. Itu saja dulu..
Insyaallah, pada masa-masa yang akan datang kita lebih banyak yang ikut, lebih banyak beraktivitas, sehingga tercipta bangsa yang bersatu, yang damai, yang rukun, yang cinta, yang bersama dalam kebhinekaan, dsb.
Rujukan: Prof. Quraish Shihab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar