Ya — menurut pemikiran M. Quraish Shihab, mengurus organisasi keumatan dapat termasuk ṣadaqah jāriyah, apabila memenuhi syarat keberlanjutan manfaat dan bernilai ibadah.
Berikut penjelasannya secara ringkas dan sistematis:
1. Kerangka pikir Quraish Shihab tentang Ṣadaqah Jāriyah
Quraish Shihab menekankan bahwa inti ṣadaqah jāriyah bukan pada bentuknya, tetapi pada dampak dan keberlanjutan manfaatnya.
Beliau memandang ṣadaqah jāriyah sebagai:
“segala amal kebaikan yang manfaatnya terus hidup dan dirasakan orang banyak, meskipun pelakunya telah tiada.”
Karena itu, ṣadaqah jāriyah tidak terbatas pada benda (masjid, sumur, wakaf), tetapi juga bisa berupa sistem, lembaga, dan aktivitas sosial yang terus memberi manfaat.
2. Mengapa organisasi keumatan termasuk ṣadaqah jāriyah?
Organisasi keumatan (seperti majelis taklim, ormas Islam, lembaga dakwah, BAZNAS, LAZ, pesantren, dll.) memiliki ciri:
-
Mengatur dakwah
-
Mengelola pendidikan
-
Mengurus fakir miskin
-
Membina umat
-
Menjaga nilai-nilai Islam
Dalam pandangan Quraish Shihab, amal yang melahirkan sistem kebaikan yang berkelanjutan termasuk ṣadaqah jāriyah.
Maka:
Mengelola organisasi keumatan berarti menciptakan dan menjaga aliran kebaikan yang terus bekerja, meskipun pengurusnya berganti.
Ini sejalan dengan konsep beliau tentang “amal shalih yang produktif”—yakni amal yang melahirkan manfaat sosial jangka panjang, bukan hanya sesaat.
3. Bentuk ṣadaqah jāriyah dalam mengurus organisasi
Menurut pendekatan Quraish Shihab, orang yang:
-
Mengatur program dakwah
-
Mengelola keuangan umat
-
Mengembangkan lembaga pendidikan Islam
-
Menyusun sistem pelayanan umat
telah berperan menyebabkan kebaikan terjadi dan terus berlangsung.
Dan dalam kaidah Islam:
“Siapa yang menjadi sebab terjadinya kebaikan, ia mendapat pahala seperti pelakunya.”
Selama organisasi itu terus menghidupkan ibadah, ilmu, dan kemaslahatan, maka pahala para pengelolanya pun terus mengalir.
4. Kesimpulan menurut Quraish Shihab
Mengurus organisasi keumatan termasuk ṣadaqah jāriyah karena:
-
Ia menciptakan sistem kebaikan yang berkelanjutan
-
Ia menumbuhkan ilmu, iman, dan kesejahteraan umat
-
Manfaatnya terus hidup, bahkan setelah pengurusnya wafat
Dengan kata lain:
Siapa yang membangun dan menjaga lembaga kebaikan, ia sedang menanam amal yang pahalanya tidak pernah mati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar