Belajar Al-Qur’an tidak mengenal batas usia. Setiap Muslim memiliki kewajiban untuk membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Karena itu, semangat untuk belajar Al-Qur’an tetap dapat tumbuh meskipun seseorang sudah memasuki usia lanjut.
Di beberapa majelis taklim dan kelompok jamaah masjid dan mushalla, penulis dapat melihat dan menjelaskan. Para lansia dengan penuh kesungguhan duduk bersama membuka mushaf Al-Qur’an, berusaha mengeja huruf demi huruf Al-Qur'an Walaupun usia tidak lagi muda dan daya ingat tidak sekuat dahulu, semangat mereka untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT tetap menyala.
Bagi sebagian jamaah yang sudah memasuki usia lanjut belajar Al-Qur’an bukan sekadar kegiatan membaca, tetapi juga menjadi sarana menenangkan hati dan memperkuat keimanan. Dalam suasana pengajian yang hangat dan penuh kebersamaan, mereka saling memberi semangat dan dukungan. Kesalahan dalam membaca tidak menjadi penghalang, justru menjadi bagian dari proses belajar yang dilakukan dengan penuh keikhlasan.
Peran penyuluh agama dan guru mengaji sangat penting dalam membimbing para lansia tersebut. Dengan metode pembelajaran yang sederhana, sabar, dan penuh perhatian, para lansia dapat belajar secara bertahap sesuai kemampuan mereka. Pendekatan yang lembut dan penuh motivasi membuat mereka merasa dihargai dan semakin percaya diri untuk terus belajar.
Semangat belajar Al-Qur’an di kalangan lansia menjadi teladan bagi generasi muda. Di usia yang tidak lagi muda, mereka tetap berusaha memperbaiki bacaan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada kata terlambat untuk belajar Al-Qur’an.
Melalui kegiatan pembinaan Al-Qur’an bagi lansia, diharapkan semakin banyak masyarakat yang termotivasi untuk mencintai Al-Qur’an sepanjang hayat. Karena pada akhirnya, Al-Qur’an tidak hanya menjadi bacaan, tetapi juga menjadi cahaya yang menerangi kehidupan seorang Muslim hingga akhir hayatnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar