Oleh: Zainal Masri
Didalam ajaran Islam, paling tidak ada tiga kata, yang secara makna saling melengkapi dalam mewujudkan harga diri seseorang, yakni 'Izzah (kemuliaan diri), Muru'ah (menjaga kehormatan diri), dan 'Iffah (menahan diri).
Ketiga kata tersebut, saling berkaitan antara satu dengan lainnya.
'Izzah berarti, kemuliaan, keagungan, kehormatan dan kekuatan. Jika kita sering mendengar kata 'Izzul, itu betapa mulianya Islam bagi kehidupan manusia.
'Izzah harus ada dalam hati setiap orang, yang didapat dengan cara mendekatkan diri kepada Allah SWT, yakni Takwa. Sebagaimana Firman Allah
begitu firman Nya dalam Al Qur'an, Surat Al Hujurat Ayat 14
"Oleh karena itu, marilah kita berlomba-lomba untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, sebagaimana Firman Nya didalam Al Qur'an Surat Al Baqarah Ayat 148, "Fastabiqul khayraat, aynamaa takuunuu ya'ti bikumullaahu jamiy'an. Artinya, "Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan.Dimana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya,"
"Yang kedua Muru'ah. Muru'ah adalah menjaga tingkah laku, hingga tetap berada pada keadaan yang paling utama, mengerjakan segenap akhlak baik dan menjauhi segenap akhlak buruk, menerapkan semua hal yang akan menghiasi dan memperindah kepribadian, serta meninggalkan semua yang akan mengotori dan menodai diri kita. Ini masalah kehormatan.
Rasulullah SAW, bersabda: "Barang siapa yang berusaha menjaga kehormatannya, maka Allah akan menjaga kehormatannya, dan barang siapa yang merasa cukup maka Allah akan memberikan kecukupan". (Shahih Al Bukhari, no.1427),"
Selanjutnya yang ketiga, 'Iffah.
'Iffah merupakan keutamaan yang dimiliki manusia, ketika ia mampu mengendalikan syahwat dengan akal sehatnya. Dari Sifat 'Iffah inilah lahir akhlak-akhlak mulia, selerti sabar, qana'ah, adil , jujur, dermawan, santun, dan perilaku terpuji lainnya.
'Iffah itu terbagi dua, yaitu menahan dan menjaga diri dari syahwat kemaluan dan menahan diri dari syahwat perut.
Allah berfirman dalam Al Qur'an Surat An Nuur Ayat 33, "Walyasta'fifilladziyna laa yajiduuna nikaahan hattaa yughniyahumullaahu min fadhlih". Artinya, "Dan orang-orang yang tidak mampu menikah, hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sampai Allah memberikan kemampuan kepada mereka dengan karuniaNya.
Kemudian ia menambahkan Sabda Nabi Muhammad SAW, "Yaa ma'syarasysyabaabi manistathaa'a mingkumulbaaata fal yatazawwaj, fainnahu aghadhdhu lilbashari, wa ahshanu lil farji, waman lam yas tathi' fa'alayhi bish shauumi, fainnahuu lahuu wijaaun". Artinya, "Wahai para pemuda! Barang siapa diantara kalian berkemampuan untuk menikah, maka menikahlah, karena nikah itu lebih menundukkan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barang siapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia shaum (puasa), karena shaum itu dapat membentengi dirinya". (HR.Muttafaqun 'Alaih).
Didalam Surat Al A'raf Ayat 31, disebutkan, "Wakuluu wasyrabuu walaa tusrifuu, innahuu laa yuhibbul musrifiyn". Artinya, "Makan dan minumlah tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.
"Oleh sebab itu, mari pelihara diri kita, keluarga kita, dengan mengamalkan ketiga makna tersebut, agar kita selamat dan terhindar dari Azab Allah Azza wa Jalla.*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar